Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tugas risalah Rasul Saw dan di kemudian hari dilanjutkan para muballigh sebagai tugas dakwah, adalah mempertemukan fitrah manusia dengan wahyu Allah
(Natsir, Fiqhud Da’wah, 1983: 12)
Islam agama risalah. Rasulullah Saw, sebagai pembawa risalah, diutus Allah untuk seluruh umat manusia. Simak ayat ini: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS Saba’ [34]: 28).
Islam agama dakwah. Umat Islam diminta berdakwah, beramar makruf nahi munkar. Perhatikan ayat ini: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali ’Imran [3]: 104).
Dua Hal
Tugas Nabi Muhammad Saw, sebagai pembawa risalah, adalah penyampai berita gembira dan pemberi peringatan. Berita gembira, di antaranya, bahwa manusia adalah yang paling sempurna. Perhatikan ayat ini: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-Tin [95]: 4). Ini, berita gembira.
Pada saat yang sama, ada pula ayat yang memberi peringatan, seperti ini:”Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)” (QS At-Tin [95]: 5). Jelas, ini peringatan, bahwa manusia bisa terperosok pada derajat paling rendah.
Agar Selamat
Intisari dari risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw ialah petunjuk atau pedoman, bagaimana cara manusia agar bisa menjaga nilai dan martabat kemanusiaannya. Hal ini sangat diperlukan, supaya jangan sampai manusia meluncur jatuh ke lembah tak terhormat.
Petunjuk diperlukan agar potensi positif manusia dapat berkembang dan meningkat mencapai posisi yang lebih tinggi. Untuk itu, bakat atau potensi yang sudah ada pada diri manusia memerlukan tuntunan. Kalau hendak berhasil haruslah tuntunan tersebut cocok dengan susunan fitrah manusia, baik di bidang ruhani maupun jasmani. Demikian, kata Natsir (1983: 12).
Tuntunan yang sedemikian, itulah Islam, yakni agama yang diberikan Allah. Islam mutlak cocok sesuai dengan fitrah kejadian manusia. Cocok pula dengan Ketentuan Allah yang berlaku pada dirinya. Perhatikan ayat ini:”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Ar-Rum [30]: 30).
Pada Al-Qur’an beserta terjemahan terbitan Kementerian Agama, ada penjelasan atas ayat di atas. Bahwa, fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
Apa pedoman yang dimaksud, agar manusia tetap dalam fitrahnya? Pedoman itu adalah Al-Qur’an, yaitu himpunan dari wahyu Allah yang merupakan tuntunan yang diperlukan oleh fitrah manusia. Tugas risalah Rasul Saw dan di kemudian hari juga merupakan tugas dakwah para muballigh, adalah mempertemukan fitrah manusia dengan wahyu Allah, kata Natsir (1983: 12).
Pasti Bertemu
Mari perhatikan, bagaimana sebagian dari isi Al-Qur’an mempertemukan fitrah manusia dengan wahyu Allah. Perhatikan ayat ini: ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS Fussilat [41]: 53).
Juga, cermati QS Al-Ghaasyiyah [88]: 17-22 yang meminta kita memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan. Langit, bagaimana ia ditinggikan? Gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Bumi bagaimana ia dihamparkan?
Jelas, Allah meminta agar manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasan Allah. Di sini, kita diminta melakukan tafakkur. Apa itu? Tafakkur adalah mengamati dan merenungkan sesuatu.
Tugas pembawa risalah (dan pendakwah), adalah memahamkan tauhid dan syariat. Termasuk dengan mengajak melakukan tafakkur. Lihat lagi, misalnya di QS Al-Waqiah [56]: 63-65, kita diminta mencermati bagaimana proses tumbuh-tumbuhan berkembang? Siapa yang menumbuhkan?
Lihat juga tentang air. Di QS Al-Mulk [67]: 30, kita dirangsang, siapa yang mendatangkannya? Cermati, perihal langit dan bumi di QS Al-Anbiyaa’ [21]: 30. Bagaimana tentang kejadiannya? Mengapakah mereka tiada juga beriman?
Sekali lagi, pembawa risalah (dan pendakwah) hanya bertugas. Tumbuhkan kesadaan tauhid manusia, antara lain, dengan aktivitas tafakkur lewat beberapa ayat seperti di atas. Ayat-ayat lain dengan maksud yang sama, masih banyak.
Risalah (dan dakwah) selalu berusaha menguatkan iman. Kita harus terus mengusahakan tanpa henti, seperti Nabi Saw melakukannya selama 23 tahun. Hasil akhirnya, itu urusan Allah.
Momentum Peralihan
Setelah 23 tahun menunaikan amanah yaitu menyampaikan risalah, Nabi Saw wafat. Tak ada lagi Nabi setelah itu. Hal ini, karena Muhammad Saw adalah Penutup para Nabi.
Sebelum wafat, di Padang Arafah saat menunaikan Haji Wada’, Nabi Saw sempat memberi amanah kepada umat Islam. Hal itu disampaikannya, lewat khutbah. Nabi Saw berkhutbah dengan penuh kesungguhan.
Cukup banyak hal penting yang disampaikan Nabi Saw, di antaranya sebagai berikut: “Camkanlah perkataanku ini, wahai manusia! Sesungguhnya telah kusampaikan kepadamu, dan sesungguhnya aku sudah meninggalkan untuk kamu sekalian sesuatu, yang bila kamu berpegang teguh kepadanya, pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni sesuatu yang terang dan nyata, Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.”
Rasulullah Saw menutup Khutbah Wada’ itu dengan pernyataan ini:
“Wahai Tuhanku! Persaksikanlah, persaksikanlah wahai Tuhanku”.
”Maka hendaklah yang telah menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang menyampaikan akan lebih mendalam memperhatikannya daripada sebagian yang mendengarkannya. Mudah-mudahan bercucuranlah rahmat Allah dan berkat-Nya atas kamu sekalian!”
Ada dua hal besar dari sebagian khutbah Nabi Saw yang dikutip di atas. Pertama, kita diminta untuk selalu berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sementara, di antara isi Al-Qur’an ada yang merupakan amanah dakwah yaitu di ayat ini: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali ‘Imran [3]: 104). Ada amanah dakwah di ayat Al-Qur’an ini.
Kedua, oleh Nabi Muhammad Saw, secara langsung kita diminta ”menyampaikan kepada yang tidak hadir” hal-hal yang telah disampaikan Beliau Saw.
Dari kedua hal di atas, tampak bahwa tugas menyampaikan risalah yang telah dirintis Nabi Saw kini berganti kepada umat Islam untuk terus menyelenggarakan dakwah. Dasarnya adalah: Pertama, telah disebut tadi, yaitu QS Ali ’Imran [3]: 104. Kedua, ucapan Nabi Saw di Padang Arafah yaitu ”Hendaklah yang telah menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir”. Ketiga, Hadits Nabi Saw: “Sampaikan dariku walaupun satu ayat” (HR Bukhari).
Alhasil, umat Islam (terutama pendakwah) adalah pendukung amanah untuk meneruskan risalah. Caranya, dengan dakwah, baik sebagai umat kepada umat-umat yang lain ataupun selaku perseorangan di tempat manapun mereka berada dan menurut kemampuan masing-masing, kata Natsir (1983: 110). []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
