Oleh M. Anwar Djaelani
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Prof. Syed M. Naquib Al-Attas wafat di usia hampir 95 tahun. Berita ini cepat tersiar. Maklum, Almarhum adalah Pemikir Islam berskala internasional. Dia berpulang ke Rahmatullah di Kuala Lumpur – Malaysia, pada Ahad 08/03/2026 pukul 18.47 waktu setempat.
Kabar itu membuat duka banyak kalangan. Mereka yang berduka antara lain murid-muridnya. Juga, siapapun yang merasa telah mendapat ilmu dari berbagai kuliah / ceramah dan buku-bukunya. Mereka sadar tentang berbagai keutamaan yang dimiliki Almarhum yang telah puluhan tahun mengabdi untuk kemuliaan Islam.
Segera setelah kabar duka itu, berbagai flyer doa kepada Almarhum banyak terlihat. Misal, dari INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations). Juga, dari Unida Gontor dan STID Mohammad Natsir. Pun, dari InPAS (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam).
Sekilas Pribadi
Al-Attas lahir di Bogor, 5 September 1931. Ayahnya, Syed Ali ibn Abdullah al-Attas, adalah tokoh terkemuka di kalangan syed. Ibunya, Syarifah Raquan Al-‘Aydarus, adalah keturunan raja-raja Sunda. Silsilahnya, Al-Attas adalah keturunan ke-37 dari Imam Hussein – cucu Nabi Muhammad Saw (Wan Mohd Nur Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, 2003: 45).
Di antara leluhur Al-Attas, ada yang menjadi ulama dan ilmuwan. Latar belakang keluarga ini memberikan pengaruh yang besar dalam pendidikan Al-Attas. Pengaruhnya, baik di bidang keislaman maupun bidang bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu.
Masa Sekolah
Pada usia lima tahun, Al-Attas belajar di Sekolah Dasar di Johor – Malaysia, 1936-1941. Kemudian, di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wutsqa di Sukabumi, 1942-1945. Di sana, belajar bahasa Arab dan agama Islam. Selanjutnya, dia masuk English College di Johor – Malaysia, 1946-1951.
Pada 1951, dia terpilih mengikuti pendidikan militer di Easton Hall, Chester. Kemudian di Royal Military Academy di Sandhurst, Inggris, 1952-1955. Lalu, ditugaskan sebagai pegawai kantor di Resimen Tentara Kerajaan Malaysia, yang waktu itu menghadapi serangan komunis. Tak lama di sana, karena dia lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan. Dia keluar dengan pangkat terakhir Letnan.
Al-Attas masuk University of Malaya (1957-1959), program S1. Di situ, Al-Attas bisa menulis dua buku. Pertama, Rangkaian Ruba’iyat, yang merupakan karya sastra pertama yang dicetak Dewan Bahasa dan Pustaka – Kuala Lumpur pada 1959. Kedua, Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays. Buku ini diterbitkan Lembaga Penelitian Sosiologi, Malaysia, 1963.
Atas prestasinya, Pemerintah Kanada memberi beasiswa belajar di Universitas McGill, Montreal, pada 1960. Di sini, dia berkenalan dengan beberapa sarjana terkenal, seperti antara lain Fazlur Rahman (Pakistan). Selesai studi pada 1962 dengan hasil sangat memuaskan. Dia mendapat gelar MA dengan tesis berjudul Raniry and the Wujudiyah of 17 Century Aceh.
Pada 1963, Al-Attas mengambil S3 di School of Oriental and African Studies (SOAS) University London, Inggris. Disertasinya, berjudul The Mysticisme of Hamzah Fansuri. Dia memperoleh gelar Ph.D. dengan nilai sangat memuaskan, pada 1965.
Aneka Penghargaan
Sejak itu, Al-Attas makin dikenal sebagai Ilmuwan Muslim yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Dia telah memberikan kuliah di berbagai belahan dunia. Kajiannya menyangkut masalah filsafat, teologi, metafisika, sastra, sejarah, agama dan peradaban.
Berkat berbagai capaiannya itu, dia memperoleh beberapa penghargaan. Di antaranya, dilantik sebagai anggota Akademi Falsafah Maharaja Iran (Fellow of The Imperical Iranian Academi of Philosophy) pada 1975. Juga, dianugerahi medali seratus tahun meninggalnya Sir Muhammad Iqbal (Iqbal Centenary Commemorative Medal), yang diberikan Presiden Pakistan pada 1979. Selain itu, dia dianugerahi Kursi Kehormatan Abu Hamid Al-Ghazali (Abu Hamid Al-Ghazali Chair of Islamic Thought) pertama, yang diberikan oleh Dato’ Seri Anwar Ibrahim, pada 1993.
Penghargaan lain, di Malaysia, Yang Mulia Sultan Ibrahim pada 23/10/2024 menganugerahinya gelar Profesor Diraja (Royal Professor) dalam sebuah upacara di Istana Negara. Dia menerima penghargaan itu atas kontribusinya pada negara Malaysia, terutama dalam pendidikan Islam.
Hal yang menambah keutamaan seorang Al-Attas adalah sikap kritisnya terhadap peradaban Barat. Sikap ini, telah lama terasakan. Namun, sikap kritis ini baru tampak lebih terang pada 1970-an lewat buku yang mengkritik gagasan sekularisme, yaitu Risalah untuk Kaum Muslimin. Kemudian dia semakin dikenal sebagai cendikiawan Muslim yang sangat kritis terhadap peradaban Barat, setelah menerbitkan Islam dan Sekularisme, pada 1978.
Tokoh Multitalenta
Selain sebagai Ilmuwan Muslim, Al-Attas juga dikaruniai beberapa keahlian seperti dalam bidang kaligrafi. Dia juga ahli dalam merancang dan mendesain bangunan. Al-Attas adalah pendiri sekaligus Rektor ISTAC (International Institute of Islamic Thaught and Civilization) – Malaysia, pada 1987.
Al-Attas bercita rasa tinggi. Kampus ISTAC yang dirancangnya, indah dan fungsional. Konon, Al-Attas merancangnya setelah mencermati kondisi kampus-kampus di Andalusia di zaman keemasan Islam.
Lebih dari itu, ISTAC dikenal karena mampu melahirkan lulusan yang andal karena Pemikiran Islam-nya yang kuat. Sekadar menyebut lulusannya yang asal Indonesia, antara lain adalah Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi (Rektor Unida Gontor), Prof. Syamsuddin Arif (Dosen Unida Gontor), Assoc. Prof. Ugi Suharto (Dosen UIII – Depok), Dr. Adian Husaini (Kepala Prodi S3 Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun – Bogor). Semua yang disebut itu punya banyak karya buku di bidang Pemikiran Islam.
Contoh lain tentang cita rasa tinggi dari Al-Attas terlihat pada penerbitan buku. Baginya, buku itu kecuali isinya harus kuat, juga performanya harus bagus. Bagi dia, semua unsur buku harus dikontrol ketat. Desain dan jenis kertas cover, kertas isi, ilustrasi (jika diperlukan), kualitas penjilidan, semua harus berkualifikasi yang terbaik.
Sebagian Karya
Al-Attas telah menulis sekitar 30 buku. Juga, menulis banyak artikel. Temanya, tentang pendidikan, pemikiran, dan sejarah. Beberapa bukunya yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Inggris, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Jerman, Italia, Rusia, Bosnia, Jepang, Korea, India, Indonesia, Prancis, dan Albania.
Di antara karya-karyanya yang terkenal yaitu Islam and Sekularisme. Karya tersebut yang paling penting dan sangat masyhur. Judul lain, Prolegomena: to the Mataphysics of Islam. Buku ini bertujuan, menjelaskan kembali dasar-dasar penting dalam pendangan hidup Islam atau Islamic Worldview.
Berikut ini, di antara buku-buku Al-Attas: 1).Risalah untuk Kaum Muslimin, 2001. 2).Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality, 1976. 3).Islam: Paham Agama dan Asas Akhlak, 1977. 4).The Concept of Education in Islam, 1980. 5).Islam and the Philosophy of Science, 1989. 6).Historical Fact and Fiction, 2011.
Skala Pengaruh
Indikasi bahwa Al-Attas berpengaruh cukup mudah diungkap. Misal, dia menjadi pembicara di berbagai forum internasional. Contoh lainnya, dia banyak mengajar dan murid-muridnya juga lalu menjadi pemikir (dan penulis) seperti dirinya. Lainnya lagi, puluhan bukunya banyak yang dicetak dengan berbagai bahasa dunia.
Pendek kata, pengaruh pemikiran Al-Attas diakui secara luas. Sebagai intelektual, dia ulung. Dia Intelektual Muslim yang telah memberikan sumbangan besar dalam pemikiran Islam kontemporer. Pun, telah memberikan konsep pendidikan Islam (baca buku Al-Attas yang berjudul Konsep Pendidikan dalam Islam).
Pandangan Al-Attas sering menjadi rujukan, bukan saja oleh golongan mahasiswa tetapi juga oleh sebagian besar para pakar dan cendikiawan. Pengaruh pemikirannya sangat besar. Pengaruhnya luas.
Terus Bersemangat
Adian Husaini pernah menulis, bahwa ada informasi, sampai usia 90 tahun Al-Attas masih terus berpikir dan menulis. Di titik ini, kita rasakan, Al-Attas adalah ilmuwan hebat. Dia, yang berasal dari keluarga ulama dan pendidik, berdedikasi tinggi dalam keilmuan dan keislaman.
Selamat Jalan Prof. Al-Attas. Selamat Jalan, duhai Pemikir yang Jenius. Terima kasih untuk semuanya. Semoga Surga menjadi tempat kembali Sang Pejuang Islam, aamiin. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
