Sebelum Terlambat: Hidup Sekali, Jadikan Bermakna

Oleh Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di dunia ini, banyak hal yang terasa biasa…
hingga suatu hari, ia hilang. Barulah kita sadar: ternyata ia tak tergantikan.
Begitulah hidup, ia berjalan cepat—dan penyesalan selalu datang terlambat.

Maka Rasulullah ﷺ, Sang Pemberi Peringatan nan Penyayang, mengingatkan kita dengan sabda yang mengguncang kesadaran:

قال رسولُ اللهِ ﷺ: “اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.” (رواه الحاكم وصححه الألباني)

Lima Sebelum Lima: Ketika Waktu Jadi Ghanimah

Ini bukan sekadar nasihat, tapi seruan pertempuran jiwa.
Perhatikan: Rasulullah ﷺ tidak berkata “gunakan waktu,” tetapi berkata: “اغتنم!”
Satu kata yang berasal dari akar غَنِمَ – غنيمة — yang berarti rampasan perang, harta kemenangan, keuntungan sekali seumur hidup.

“اغتنم”

Bukan sekadar ‘pakai’, tapi ‘rebut’. Rebut sebelum hilang. Tangkap sebelum musnah. Ambil sebelum diserobot waktu.

Karena hidup ini medan tempur, dan detik-detiknya adalah ghanimah— hadiah dari Allah yang hanya dimenangkan oleh mereka yang terjaga.

Maka manfaatkan:

  1. Masa mudamu sebelum datang tuamu.

Ketika nafas masih panjang dan otot masih kuat, bangkitlah karena suatu saat tubuh akan lelah hanya untuk berdiri.
Kelak, masa muda hanya akan jadi foto dan kenangan.

  1. Kesehatanmu sebelum datang sakitmu.

Sehat itu harta tersembunyi,
baru disadari ketika harus minum obat tiga kali sehari. Nikmatnya makan tanpa mual, tidur tanpa sesak, itu semua… adalah ghanimah.

  1. Kekayaanmu sebelum kefakiranmu.

Gunakan hartamu untuk berbagi dan berbakti,
sebelum dompetmu menipis dan tanganmu berbalik menjadi peminta. Karena yang terbaik bukan yang paling banyak, tapi yang paling banyak memberi.

  1. Waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu.

Luang adalah jeda langka.
Gunakan untuk mendekat, bukan melalaikan.
Belajar, berdzikir, berkarya—karena kesibukan akan datang tanpa permisi.

  1. Hidupmu sebelum datang kematianmu.

Inilah penutup.
Jika empat yang lain masih bisa dicari gantinya, maka kematian adalah pemutus segalanya. Saat nafas habis, pena catatan amal akan berhenti menulis.

Empat yang Tak Dihargai Kecuali oleh Mereka yang Pernah Kehilangan

Dan jika kau masih lalai, renungkan satu lagi hikmah agung:

“أربعة لا يعرف قدرها إلا أربعة.”

Ada empat hal yang tak akan pernah benar-benar dihargai, kecuali oleh mereka yang telah kehilangannya.

  1. Nilai masa muda — hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang telah renta.
  2. Nilai kesehatan — hanya dirasakan oleh mereka yang kini hidup dalam sakit.
  3. Nilai kehidupan — hanya dirindukan oleh mereka yang telah dekat dengan kematian.
  4. Nilai kedamaian dan keamanan — hanya dihargai oleh mereka yang pernah hidup dalam ketakutan.

Betapa banyak orang yang baru sadar ketika semuanya sudah terlambat.

Seperti orang haus di padang pasir, yang baru menghargai air setelah kering tenggorokannya.
Seperti orang yang kehilangan, baru menangis setelah tak bisa menggenggam kembali.

Jangan Pulang Kosong

Waktu itu ghanimah.
Muda, sehat, kaya, luang, dan hidup itu harta rampasan jiwa. Dan hidup ini adalah medan pertempuran—bukan untuk bersantai, tapi untuk menang.

Maka jangan hanya hidup. Menanglah dalam hidupmu.

Sebelum muda berubah jadi kenangan, sebelum sehat berganti dengan diagnosa, sebelum kaya berubah jadi cukup makan, sebelum luang dikunci rutinitas, dan sebelum hidup menjadi jenazah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *