Silaturrahmi

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya
عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((مَن أحبَّ أن يُبسط له في رزقه, ويُنسأ له في أثره, فليَصل رحِمه)). متفق عليه.

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin silaturrahmi.” [HR. Bukhari, Muslim]

Makna dan Hakikat Silaturrahmi


Silaturrahmi atau silaturrahim berasal dari dua kata, yaitu shilah yang berarti hubungan atau ikatan, dan rahim yang secara harfiah berarti kandungan. Dalam makna yang lebih luas, rahim juga bisa berasal dari kata rahima-yarhamu yang berarti mengasihi dan berbaik hati.

Dalam hadits di atas, Rasulullah menggunakan kata rahim, sedangkan dalam hadits lain beliau bersabda: Laa yadkhulu al-jannata qaathi’u rahmi — “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali rahmi.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Lawan dari shilah adalah qath’, yang berarti putus.


Silaturrahmi bukan sekadar tradisi sosial, melainkan bagian dari ajaran Islam yang membawa keberkahan. Salah satu manfaatnya adalah dilapangkan rezeki. Namun, rezeki di sini bukan hanya sebatas uang atau materi, melainkan segala bentuk karunia Allah, baik berupa kesehatan, ketenangan hati, kebahagiaan, maupun kemudahan dalam urusan dunia dan akhirat.

Silaturrahmi: Menjalin Kasih, Menguatkan Ukhuwah

Silaturrahmi mempererat hubungan emosional, membangun rasa kasih sayang, dan memperluas wawasan kehidupan. Hubungan yang harmonis menciptakan simbiosis mutualisme, baik dalam bentuk berbagi ilmu, peluang bisnis, hingga sekadar bertukar cerita kehidupan. Dalam suasana yang akrab, tidak ada jarak atau sekat yang menghalangi. Bahkan, istilah jaim (jaga image) seharusnya tidak berlaku dalam silaturrahmi. Bersikap apa adanya lebih baik daripada berpura-pura, karena kepalsuan hanya akan melahirkan ketidaknyamanan.
Islam mengajarkan untuk menghilangkan kesenjangan dalam pergaulan. Tidak ada yang lebih istimewa di hadapan Allah selain ketakwaan.


Semua orang memiliki keunikan dan peran masing-masing dalam kehidupan. Dengan silaturrahmi, kita saling berbagi kebahagiaan dan meringankan beban satu sama lain.
Silaturrahmi juga mengajarkan kita untuk tersenyum, membuang dendam, iri hati, dan perasaan negatif lainnya. Hati menjadi lebih bersih dan lapang, karena tidak ada lagi beban kebencian terhadap sesama.

Silaturrahmi: Umur Panjang dan Jejak yang Bermakna

Hadits di atas menyebutkan bahwa silaturrahmi dapat memperpanjang umur. Dalam bahasa Arab, kata yang digunakan adalah atsar, yang berarti jejak langkah atau dampak. Maksudnya, semakin luas silaturrahmi seseorang, semakin besar pula jejak kebaikan yang ia tinggalkan di dunia. Kehadirannya membawa manfaat bagi banyak orang, baik dalam bentuk perhatian, solusi, maupun dukungan moral.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
Watawashau bil-haq, watawashau bis-shabr — “Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)

Silaturrahmi adalah bentuk nyata dari kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan untuk saling membantu dalam kebaikan dan takwa, bukan dalam keburukan dan permusuhan, sebagaimana firman Allah:
… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran… (QS. Al-Ma’idah: 2)

Silaturrahmi bukan sekadar kunjungan fisik, melainkan membangun hubungan yang membawa kebaikan. Khususnya bagi para pemimpin, pejabat, orang kaya, dan ulama, merekalah yang seharusnya lebih aktif menjalin silaturrahmi dengan umatnya, bukan sekadar menunggu didatangi. Seorang pemimpin yang baik adalah yang mengetahui kondisi rakyatnya sebelum mereka mengadu.

Silaturrahmi: Konsekuensi Iman dan Kunci Keberkahan


Rasulullah memberikan ancaman tegas bagi mereka yang memutus tali silaturrahmi, karena hal ini menunjukkan lemahnya hubungan seseorang dengan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Seorang muslim yang benar-benar memahami esensi ibadahnya akan memiliki empati terhadap saudaranya. Silaturrahmi yang tulus tidak boleh diwarnai oleh kepentingan duniawi, apalagi tendensi politis.

Pada akhirnya, silaturrahmi bukan hanya tentang menjalin hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dengan silaturrahmi yang baik, kita tidak hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menapaki kehidupan dengan hati yang lebih lapang, rezeki yang lebih berkah, dan umur yang penuh makna. Wallahu a’lam. [*]

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *