Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عَنْ أَبي هُرَيْرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّهِ ﷺ: مَا يَزَال الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمؤمِنَةِ في نَفْسِهِ وَولَدِهِ ومَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّه تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
Dari Abu Hurairah R.A berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiada hentinya ujian terhadap orang mukmin dan mukminah pada dirinya (tubuhnya sakit), anaknya, serta hartanya, sampai ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, hadis hasan shahih)
Kata balaa’ berasal dari balaa yabluwa yang bermakna ikhtabarahu wamtahanahu, yakni menguji seseorang. Dalam konteks ini, balaa’ diartikan sebagai mushibatun tanzilu bil mar’i liyukhtabara biha, yaitu musibah yang diturunkan kepada seseorang sebagai ujian. Dengan kata lain, balaa’ adalah kepastian dalam kehidupan seorang mukmin.
Namun, satu kata kunci dalam menghadapi ujian ini adalah sabar.
Hadis di atas memberikan gambaran bahwa jika seorang mukmin menghadapi ujian—baik berupa sakit, kehilangan, maupun kesulitan harta—dengan penuh kesabaran, maka itu akan menjadi penghapus dosa baginya. Seorang mukmin yang sabar akan bertemu Allah dengan hati yang bersih dari kesalahan.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Sabar di Awal Musibah: The Real Test!
Sabar itu bukan sekadar menerima keadaan setelah semuanya terjadi. Sabar sejati adalah ketika seseorang bisa tetap tenang dan menerima takdir Allah sejak awal musibah itu datang. Itulah ujian yang sebenarnya!
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
“Sesungguhnya kesabaran yang sejati adalah ketika pertama kali musibah menimpa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, jangan sampai kita baru bisa sabar setelah semuanya terlanjur terjadi. Kalau bisa bersabar dari awal, itu menunjukkan kualitas keimanan yang lebih tinggi.
Allah juga berjanji akan selalu bersama orang yang sabar:
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Sabar Itu Butuh Proses!
Jangan berharap sifat sabar langsung muncul dalam diri kita. Sabar itu harus ditempa! Salah satu cara membangun kesabaran adalah dengan memperkuat iman dan selalu mengingat bahwa semua yang terjadi ada dalam skenario terbaik Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ
“Bersabarlah! Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)
Bagian dari kesabaran adalah menahan amarah dan mudah memaafkan. Orang yang bisa mengendalikan emosinya dan tetap bersikap baik akan lebih disukai oleh masyarakat dan tentu saja lebih mulia di sisi Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Ujian Itu Bisa Berupa Kenikmatan!
Jangan salah! Tidak semua ujian datang dalam bentuk kesulitan. Terkadang, ujian datang dalam bentuk kenikmatan. Harta, jabatan, popularitas—semua itu bisa menjadi ujian yang lebih berat daripada kemiskinan atau kesulitan hidup.
Kenapa? Karena banyak orang gagal dalam menghadapi ujian berupa kenikmatan!
Saat mendapat rezeki, ada yang lupa bersyukur, ada yang menjadi sombong, ada yang meremehkan orang lain. Padahal, semua itu adalah ujian besar yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran.
Sebaliknya, ada orang yang diuji dengan kekurangan, tapi dia tetap sabar dan bersyukur. Justru dia lebih mulia di sisi Allah dibandingkan orang yang diuji dengan harta tapi lalai.
Allah ﷻ mengingatkan:
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ
“Dan hari-hari (kejayaan dan kesulitan) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 140)
Maka, jangan pernah merasa lebih hebat dari orang lain hanya karena diberi kelebihan. Dan jangan pula merasa rendah diri hanya karena kita dalam kesulitan. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi ujian tersebut di hadapan Allah.
Wallahu a’lam. [*]
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
