Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عن ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ مِلْءَ وَادٍ مَالًا لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ إِلَيْهِ مِثْلُهُ، وَلَا يَمْلَأُ نَفْسَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ”. (رواه البخاري ومسلم)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sekiranya anak Adam memiliki satu lembah penuh harta, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan sekiranya ia memiliki dua lembah, niscaya ia ingin memiliki tiga lembah. Tidak akan pernah kenyang perut anak Adam hingga ia dipenuhi oleh tanah (kematian). Dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Waadin” dan Nafsu Manusia yang Tak Pernah Puas
Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ menggambarkan keserakahan manusia terhadap harta dengan perumpamaan sebuah “wādin” (وَادٍ), yang berarti lembah. Bayangkan ada sebuah lembah yang luas dan subur, kemudian seseorang memiliki lembah itu penuh dengan harta. Tetapi, ia tidak merasa cukup, justru ingin menambah lembah kedua, lalu yang ketiga, dan seterusnya.
Lembah ini adalah simbol dari nafsu manusia yang tak pernah puas. Sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, manusia tetap ingin lebih. Perasaan ini mirip dengan minum air laut—semakin diminum, semakin haus.
Tetapi, Allah memberi peringatan keras:
“Tidak akan pernah penuh perut anak Adam hingga ia dipenuhi oleh tanah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, ambisi duniawi ini baru akan berhenti ketika seseorang telah dikuburkan.
Hanya kematian yang bisa menghentikan keinginan manusia terhadap dunia.
Harta: Ujian atau Bekal Akhirat?
Allah memberikan harta kepada manusia bukan untuk sekadar dikumpulkan, tetapi sebagai ujian:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)
Maka, pertanyaannya bukanlah “Seberapa banyak harta yang kita miliki?”, tetapi “Bagaimana kita menggunakan harta tersebut?”.
Bagaimana cara mengelola harta agar tidak menjadi fitnah, tetapi justru menjadi investasi abadi di akhirat?
Memanfaatkan Harta dengan Benar
Islam tidak melarang kita memiliki harta, bahkan Rasulullah ﷺ sendiri adalah pedagang yang sukses. Tetapi, harta itu harus dipergunakan dengan cara yang benar dan untuk tujuan yang benar.
Berikut adalah empat cara terbaik dalam memanfaatkan harta:
Untuk Kebutuhan Diri dan Keluarga (Tapi Tidak Boros)
Islam sangat menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Kita boleh menikmati rezeki Allah, tetapi tidak boleh berlebihan. Rasulullah ﷺ bersabda:
كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يعول
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Maka, pastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, tetapi jangan terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan boros.
Untuk Kaum Dhuafa, Yatim, dan Orang yang Membutuhkan
Harta kita bukan hanya untuk kita sendiri. Ada hak orang miskin dalam harta kita:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Jangan hanya membantu saat berlimpah, tapi biasakan bersedekah dalam kondisi apa pun.
Untuk Dakwah dan Kemajuan Islam
Harta yang digunakan untuk perjuangan Islam adalah investasi terbaik. Banyak sahabat Rasulullah ﷺ yang menginfakkan hartanya untuk jihad, pembangunan masjid, dan kepentingan umat.
Maka, jangan ragu untuk membantu pesantren, masjid, dan lembaga dakwah.
Untuk Amal Jariyah yang Pahalanya Tak Terputus
Harta yang kita keluarkan untuk amal jariyah akan terus mengalir pahalanya meskipun kita telah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Maka, tanyakan pada diri sendiri: “Harta saya akan habis di jalan yang mana?”
Dunia: Sarana atau Tujuan?
Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ (التوبة: ٣٨)
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: ‘Berangkatlah (untuk berjuang) di jalan Allah’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)
Dunia bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencari ridha Allah.
Maka, jangan terperangkap dalam lembah keinginan yang tak pernah penuh.
Mari jadikan harta sebagai alat perjuangan untuk Islam, bukan sekadar untuk memuaskan hawa nafsu. Gunakanlah dengan bijak, karena kelak kita akan ditanya tentang setiap rupiah yang kita miliki.
Wallahu a’lam.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
