Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum Dewan Dakwah Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok - Namanya tidak setenar KH Hasyim Asy’ari atau KH Ahmad Dahlan. Tetapi, kiprah dan karya-karya ilmiah serta perjuangannya sungguh sangat fenomenal. Rugi sekali jika anak-anak Indonesia tidak mengenal dan mengkaji karya-karya KH Ahmad Sanusi dengan serius.
KH Sanusi memang sosok ulama pejuang yang sangat langka. Ia juga seorang pendidik yang hebat. Kyai Sanusi mendidik sendiri anak-anaknya di rumah, dan dididik menjadi ulama.
Dalam disertasinya di Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor, Dr. Imam Zamroji menyimpulkan bahwa model pendidikan ulama KH Sanusi adalah Pendidikan Kader Ulama Berbasis Keluarga.
Selain aktif dalam dunia pendidikan, KH Sanusi juga aktif dalam dunia perjuangan kemerdekaan. Ia aktif mendidik para santri di pesantren.
Kiai Sanusi juga menjadi anggota Sarikat Islam Cabang Sukabumi dan pendiri organisasi AII (Al-Ittihād al-Islāmiyah) yang dibubarkan oleh Jepang. Ia juga pendiri Ormas Persatuan Umat Islam.
Inilah yang mengagumkan dari seorang ulama seperti KH Sanusi. Ia mampu memadukan kemampuan intelektual dan aktivitas keorganisasian dengan baik, sehingga lahir karya-karya intelektual yang begitu banyak. Namun, aktivitas politik pun digelutinya dengan baik, termasuk menjadi anggota BPUPK.
Di BPUPK, bersama Ki Bagus Hadikusumo, KH Sanusi termasuk yang sangat gigih memperjuangkan diterapkannya ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Diantara kutipan singkat pidatonya adalah: “Jika Negara Indonesia tidak bersendi agama Islam, kalau-kalau sampai penduduk yang terbanyak itu bersikap dingin terhadap negara. Sebab, umat Islam adalah umat yang mempunyai cita-cita yang luhur dan mulia sejak dahulu hingga sekarang ini seterusnya pada masa yang akan datang…”
Meskipun demikian, KH Sanusi tetap menerima kesepakatan-kesepakatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikianlah kehebatan seorang ulama dan pahlawan bernama KH Sanusi dari Sukabumi. Kita berharap, di masa depan, akan lahir lebih banyak lagi, ulama-ulama hebat seperti KH Sanusi.
Harapan itu bukan sekedar angan-angan. Kiai Sanusi telah menjalani model pendidikan yang benar, sehingga melahirkan manusia hebat. Konsep pendidikan itu telah diterapkan sejak masa Nabi Muhammad saw yang terbukti melahirkan manusia-manusia terbaik, yaitu generasi sahabat Nabi.
Model pendidikan Nabi disebutkan oleh Umar bin Khathab: “Taaddabuu tsumma ta’allamuu!” Beradablah kemudian berilmu-lah!” Inilah model pendidikan yang dijalani oleh Kyai Sanusi dan para ulama hebat lainnya. Dan pendidikan mereka sukses karena dibimbing langsung oleh guru-guru yang hebat.
Kiai Sanusi adalah produk pendidikan. Ia lahir dari proses pendidikan yang benar. Maka, model pendidikan yang benar itulah yang sepatutnya dipahami dan diterapkan oleh umat Islam, sehingga nantinya akan lahir di tengah masyarakat, para ulama dan pemimpin yang hebat, seperti KH Sanusi dan banyak ulama lainnya.
Kiai Sanusi lahir 18 September 1888 di Sukabumi dan wafat tahun 1950. Ia dikenal sebagai putra kyai dan juga seorang pembelajar. Setelah menikah di umur 20 tahun, Sanusi dikirim oleh ayahnya ke Mekkah untuk mendalami ilmu-ilmu agama (ulumuddin).
Setelah belajar selama tujuh tahun, Sanusi mendapat gelar imam besar Masjidil Haram. Ia pun berguru kepada ulama-ulama terkenal, khususnya dari kalangan Jawi (Melayu). Tahun 1915, sepulang belajar dari Mekkah, Kiai Sanusi kembali ke Indonesia untuk membantu ayahnya mengajar di Pesantren Cantayan.
Setelah tiga tahun membantu ayahnya, ia mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng, sebelah utara desa Cantayan, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng. Pesantrennya tersebut ia beri nama Pondok Pesantren Babakan Sirna Genteng.
KH Sanusi merupakan seorang aktivis dan penulis yang produktif. Padahal, waktunya sangat padat. Disamping mengajar dan berdakwah serta mengurus santri-santrinya siang malam, ia masih sempat menulis banyak buku. Berikut ini sebagian contoh karyanya:
Bidang Fikih : (1). Tahdzir al-‘Awam fi Mufiariyat Cahaya Islam (2) Al-Mufhamat fi Daf’i al-Khayalat (3) At-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith (4) Tarjamah Fiqh al-Akbar as-Syafi’I (5) Al-Jauhar al-Mardliyah fi Mukhtar al-Furu as-Syafi’iyah (6) Nurul Yaqin fi Mahwi Madzhab al-Li’ayn wa al-Mutanabbi’in wa al-Mubtadi’in (7) Tasyfif al-Auham fi ar-Radd’an at-Thaqham
Bidang Tasawuf : (1). Mathla’ul al-Anwar fi Fadhilah al-Istighfar (2) Al-Tamsyiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah (3) Fakh al-Albab fi Manaqib Quthub al-Aqthab (4) Siraj al-Adzkiya fi Tarjamah al-Azkiya, dan sebagainya.
Bidang Kalam : (1.) Miftah al-Jannah fi Bayan ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah
(2) Tauhid al-Muslimin wa ‘Aqaid al-Mu’minin (3) Alu’lu an-Nadhid (4) Al-Mufid fi Bayan ‘ilm al-Tauhid, dan sebagainya.
Atas segala jasanya, pada 12 Agustus 1992 Pemerintah Republik Indonesia memberi tanda kehormatan Bintang Maha Putera Utama. Pada 10 November 2009, ia mendapat penghargaan Bintang Maha Putera Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan pada 3 November 2022, pemerintah RI mengumumkan bahwa KH Sanusi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Semoga kita bisa meneladani pemikiran dan perjuangan KH Sanusi dalam berbagai bidang kehidupan. Amin. (Depok, 1 Maret 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
