Meniti Cahaya Dakwah di Bulan Suci

Oleh: Ust. Haris Agung Firmansyah, Mahasantri ADI DDII Jatim, sedang bertugas di Jember

Dewandakwahjatim.com, Jember – Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam bagi Rasulullah ﷺ, sang suri teladan.

Perkenalkan nama ku Haris Agung Firmansyah, Mahasantri Akademi Dakwah Indonesia. Aku akan menceritakan sedikit tentang tugas dakwah ku di bulan suci yang penuh berkah ini.

Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari jejak dakwah yang diridai-Nya.

Masjid Jalal Al-Hadad: Lentera Dakwah di Tengah Sepinya Jamaah

Di ujung desa yang sunyi, di bawah bayang-bayang pepohonan rindang yang menari ditiup angin, berdiri sebuah masjid bernama Masjid Jalal Al-Hadad. Masjid Jalal Al-Haddad Milik Alm. Kh. Mustaqim, Petung – Jember – Jawa Timur berdiri pada Tanggal: 1415 H (1995 M) Di bawah pengawasan: Komite Muslim Asia –Negara Kuwait dan Dewan Tertinggi Indonesia untuk Dakwah Islam.

Kubahnya yang sederhana menjulang, beratapkan genting tua yang berwarna kecokelatan, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Pintu-pintunya terbuka lebar, namun langkah-langkah kaki yang melintasi serambinya begitu jarang terdengar. Masjid ini tidaklah megah, namun kehangatannya terasa hingga ke relung hati. Sunyi, namun penuh potensi dakwah yang harus dihidupkan kembali.

Sambutan Sang Pemilik, Harapan yang Menyala

kedatanganku ke masjid ini disambut oleh Bapak Nata sekeluarga, sosok yang selama ini merawat dan menjaga masjid dengan penuh keikhlasan. Di sebuah ruang tamu yang sederhana, kami berbincang di antara cangkir-cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat. Raut wajah mereka menyiratkan harapan, bahwa mungkin inilah awal dari kebangkitan masjid yang hampir ditinggalkan jamaahnya.

Bapak Nata bercerita dengan lirih, “Dulu, masjid ini ramai dengan anak-anak mengaji dan jamaah yang tak pernah putus. Kini, mereka lebih sibuk dengan dunia luar. Tapi kami percaya, cahaya dakwah bisa kembali menyinari tempat ini.”

Perkataan beliau membakar semangatku. Aku tahu, tugas ini tidak mudah. Namun, menghidupkan masjid bukan hanya sekadar mengisi kekosongan, melainkan membangun kembali ikatan hati dengan Sang Pencipta.

Menghidupkan Masjid dengan TPQ

Tak ingin masjid ini terus terlelap dalam kesepian, aku memutuskan untuk membangun kembali kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Anak-anak harus kembali merasakan kehangatan ilmu di rumah Allah ini. Mereka harus merasakan bahwa masjid bukan hanya tempat shalat, tapi juga tempat menimba ilmu dan mengukir masa depan dengan cahaya Islam.

Program TPQ ini pun disusun dengan seksama. Bukan hanya membaca Al-Qur’an, tapi juga:

  1. Tajwid – Agar bacaan mereka indah dan benar sesuai makhraj.
  2. Adab dan Akhlak – Menanamkan karakter islami sejak dini.
  3. Fiqih Dasar – Membekali mereka dengan pemahaman agama yang kokoh.

Kitab-Kitab yang kami ajarkan kepada santri-santri diantara lain:

  1. Kitab, (Meneladani Shifat Sholat Nabi Muhammad Saw. Penulis: Dr. Kh. Fathur Rohman Direktur pondok pesantren Islamic Center elkisi
  2. Kitab, (Cahaya Adab-Adab Islami) dan juga Kitab, (Cahaya Ilmu& & Faedah) penulis: Ust. Ainur Rofiq Wakil Direktur Pondok Pesantren Islamic Center elkisi

Aku yakin, dengan pembelajaran yang terstruktur dan semangat yang menyala, masjid ini akan kembali hidup. Suara lantunan ayat suci akan kembali menggema di setiap sudutnya.

Mengembalikan ‘Urf: Tradisi Tadarus yang Hilang

Di masa lalu, ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan selepas Tarawih: tadarus bersama. Jamaah—dari yang muda hingga lanjut usia—akan duduk berkelompok, bergantian membaca ayat demi ayat dalam Al-Qur’an. Namun, kini kebiasaan itu perlahan sirna.

Maka, kami bertekad untuk menghidupkannya kembali. Namun ada satu kendala: banyak jamaah lansia yang matanya tak lagi kuat membaca mushaf kecil. Oleh karena itu, kami harus menyediakan Al-Qur’an berukuran besar, kami berkontribusi dengan Laznas Dewan Dakwah Jawa Timur dalam menyalurkan bantuan Al-Qur’an agar mereka tetap bisa membaca dengan nyaman. Sebab, tiada yang lebih indah daripada melihat para lansia masih setia mencintai Kalamullah di usia senja mereka.

Cahaya yang Akan Kembali Bersinar

Perjuangan ini masih panjang. Namun setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini, adalah pijakan menuju kebangkitan kembali Masjid Jalal Al-Hadad. Aku membayangkan hari ketika masjid ini kembali penuh dengan suara anak-anak mengaji, dengan jamaah yang tak pernah putus, dengan tadarus yang menggema selepas tarawih.

Aku percaya, masjid bukan sekadar bangunan, melainkan jantung peradaban umat. Dan tugas kita, adalah memastikan jantung itu tetap berdetak, penuh kehidupan dan keberkahan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *