Oleh: Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi al Quran (PSQ), Dewan Dakwah Jawa Timur
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
Pemimpin dan Orang-orang di Sekelilingnya
Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عائشة أم المؤمنين قَالَتْ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذا أرادَ اللَّهُ بالأميرِ خيرًا جعلَ لَهُ وزيرَ صِدقٍ، إن نسيَ ذَكَّرَهُ، وإن ذَكَرَ أعانَهُ، وإذا أرادَ اللَّهُ بِهِ غيرَ ذلِكَ جعلَ لَهُ وزيرَ سوءٍ، إن نَسيَ لم يذَكِّرهُ، وإن ذَكَرَ لم يُعِنهُ. رواه أبو دود
Dari ‘Aisyah berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang Amir maka Allah akan menjadikan baginya menteri yang jujur, jika Amir lupa maka ia mengingatkkanya, dan jika Amir ingat maka ia mendukungnya, akan tetapi jika Allah menghendaki sebaliknya, maka Allah menjadikan bagi Amir menteri yang jahat, jika Amir lupa maka ia tidak mengingatkannya, dan jika Amir ingat maka ia tidak membantunya ”. [HR. Abu Daud]
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW memberikan gambaran tentang pentingnya lingkungan dan orang-orang di sekitar seorang pemimpin. Pemimpin yang baik tidak hanya bergantung pada dirinya sendiri, tetapi juga pada tim yang membantunya menjalankan kepemimpinannya. Jika seorang pemimpin dikelilingi oleh orang-orang yang jujur dan berintegritas, maka kepemimpinannya akan berjalan dengan baik. Namun, jika pemimpin tersebut dikelilingi oleh orang-orang yang tidak peduli dengan kebenaran, maka kepemimpinannya bisa tersesat.
Pemimpin Lahir dari Masyarakat
Seorang pemimpin tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang yang membawanya ke posisi tersebut. Ia harus mendapat kepercayaan dari masyarakat, bukan sekadar menobatkan dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin hanya ingin berkuasa tanpa dukungan yang tulus dari rakyat, maka kepemimpinannya akan diwarnai dengan tekanan dan paksaan.
Hadis ini juga mengajarkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang mau mendengar kritik dan menerima masukan dari orang-orang di sekitarnya. Ia memberikan ruang bagi bawahannya untuk berbicara jujur, mengoreksi kesalahan, dan bersama-sama mencari solusi terbaik bagi masyarakat. Dengan demikian, tercipta hubungan yang harmonis dan saling menghargai antara pemimpin dan timnya.
Sebaliknya, jika seorang pemimpin dikelilingi oleh orang-orang yang hanya mencari keuntungan pribadi, maka ia akan terperangkap dalam kepentingan mereka. Saat pemimpin itu salah, mereka akan diam dan membiarkannya tersesat. Saat pemimpin itu ingin berbuat baik, mereka malah menghambatnya. Pada akhirnya, kepemimpinan seperti ini hanya akan merugikan rakyat.
Pentingnya Memilih Pemimpin dengan Bijak
Bagi masyarakat, memilih pemimpin bukanlah hal sepele. Salah memilih pemimpin bisa berdampak buruk bagi negara dan bangsa. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pemimpin:
- Integritas dan Kejujuran – Seorang pemimpin harus memiliki moral yang baik dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan pribadi.
- Komitmen terhadap Agama dan Kebenaran – Minimal, ia menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupannya, terutama dalam menjaga ibadah dan tanggung jawabnya.
- Visi dan Misi yang Jelas – Apakah pemimpin ini benar-benar ingin membawa perubahan positif atau sekadar pencitraan belaka?
- Bersih dari Politik Uang – Jangan memilih pemimpin hanya karena ia berani “membeli” suara dengan uang atau janji manis yang tidak bisa ditepati.
Hadis ini menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin. Jangan sampai kita tergoda oleh iming-iming sesaat, tetapi lupa akan dampaknya di masa depan. Pemimpin sejati adalah mereka yang benar-benar peduli pada rakyatnya dan berusaha menciptakan keadilan tanpa diskriminasi.
Pentingnya memilih pemimpin yang adil dan amanah:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus diberikan kepada orang yang tepat, dan pemimpin harus bertindak dengan adil dalam setiap keputusan yang diambil.
Larangan memberikan jabatan kepada yang tidak berkompeten:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, sedangkan ia tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) menjadi rajamu dan menganugerahinya kelebihan dalam ilmu dan fisik.’ Allah memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)
Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berdasarkan kekayaan atau status sosial, tetapi harus didasarkan pada kapasitas dan kualitas seseorang, seperti ilmu dan kekuatan fisik dalam konteks kepemimpinan.
Hadis tentang pentingnya pemimpin yang bertanggung jawab:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُول “كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”.
‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin dalam lingkupnya masing-masing dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin negara harus bertanggung jawab atas rakyatnya, sebagaimana seorang kepala keluarga bertanggung jawab atas keluarganya.
Hadis tentang bahaya menyerahkan kepemimpinan kepada yang tidak pantas:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ”.
“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat tiba.” (HR. Bukhari No. 6496)
Rasulullah SAW memperingatkan bahwa jika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka kehancuran akan terjadi. Ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak sembarangan memilih pemimpin.
Hadis tentang sifat pemimpin yang terbaik:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ”:خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ”.
Dari ‘Auf bin Malik dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda, “Tidak, selagi mereka mendirikan salat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka.” (HR. Muslim No. 1855)
Pemimpin terbaik adalah yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya, serta saling mendoakan. Sedangkan pemimpin yang buruk adalah yang dibenci rakyatnya karena kezaliman yang dilakukannya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono
