ISLAM, AGAMA SESUAI FITRAH, PALING SIAP MEMBANGUN PERADABAN MULIA

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – lni keyakinan umat Islam, yang kini jumlahnya mencapai miliaran jiwa. Bahwa: satu-satunya agama (ad-din) yang diterima Allah adalah ad-dinul Islam, agama Islam. (QS Ali Imran:19). Karena itu, siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima oleh Allah dan di akhirat ia akan rugi sekali. (QS Ali Imran: 85).
QS ar-Rum ayat 30 menyebutkan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Hal itu telah diisyaratkan dalam QS al-A’raf ayat 172: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Jadi, sejak di alam arwah, sebelum manusia lahir ke dunia dan arwah dipadukan dengan jasad, sejatinya manusia sudah mengenal Tuhan yang sebenarnya, yaitu Allah. Karena itulah, manusia lahir dalam kondisi fitrahnya. Sada Nabi Muhammad saw: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR Muslim).

Hadits Nabi itu mengisyaratkan pentingnya pendidikan anak untuk menguatkan fitrahnya. Yakni, menguatkan keimanannya kepada Allah SWT. Iman yang kuat akan melahirkan akhlak mulia. Rasulullah saw menyebutkan bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang terbaik akhlaknya. (HR at-Tirmidzi).

Para Nabi diutus kepada umat manusia untuk mengajak manusia agar mereka mentauhidkan Allah. Jangan menyekutukan Allah dengan apa pun juga. (QS An-Nahl: 36, Ali Imran: 64). Dasar pendidikan yang benar dan kokoh untuk menguatkan fitrah manusia adalah dengan mengutamakan penanaman nilai-nilai Tauhid dan menjauhkan diri dari syirik, sebab syirik adalah kezaliman yang besar. (QS Luqman: 13).

Di zaman kini, paham-paham yang merusak keimanan – seperti paham pluralisme agama – begitu gencarnya disebarkan. Bahkan dibangga-banggakan seolah-olah paham itu akan membawa perdamaian bagi umat manusia. Padahal, paham itu sangatlah merusak iman, merusak fitrah manusia.

Orang yang mengatakan semua agama benar, pada hakikatnya, ia sudah tidak beragama. Sebab, ia telah menyamakan antara tauhid dengan syirik; menyamakan antara iman dan kekufuran. Orang yang menyatakan, suap sama dengan sedekah, itu artinya ia mendukung korupsi.

Ingatlah, dosa pemikiran lebih besar daripada dosa amal. Orang yang berzina ia telah berlaku dosa besar. Ia dikategorikan sebagai “fasik”. Tetapi, orang yang menyatakan, bahwa berzina itu halal – meskipun ia tidak berzina – dia telah kufur (murtad). Karena itulah, kita perlu berhati-hati dengan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Sangatlah berbahaya jika pemikiran-pemikiran yang sesat itu diajarkan dalam bentuk bahan ajar dalam pendidikan kita.

Jadi, pendidikan yang menguatkan fitrah manusia adalah pendidikan yang berbasis tauhid; pendidikan yang melahirkan akhlak mulia. Dan itu harus dilakukan melalui proses pembelajaran yang benar, dibimbing oleh wahyu Allah, dan diproses melalui pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Tiga hal itulah yang ditugaskan kepada Rasulullah saw, yaitu: menyampaikan ayat-ayat Allah, mensucikan jiwa manusia, dan mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah (QS Al-Baqarah: 151 dan al-Jumuah: 2).

Dari hari ke hari, makin tampak bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan agama yang paling tepat menjadi landasan pembangunan peradaban mulia. Kegagalan peradaban Barat dalam mewujudkan perdamaian semakin nyata dalam kasus genosida di Gaza. Jargon kemanusiaan (humanity) yang mereka gembar-gemborkan ternyata hanya omong kosong.

Kini, umat Islam sepatutnya berkonsentrasi dalam mewujudkan model peradaban mulia. Dan itu harus dimulai dari pendidikan yang dapat menguatkan fitrah manusia dan melahirkan manusia-manusia berakhlak mulia. Dunia akan percaya kepada kebenaran dan keunggulan ajaran Islam jika mereka melihat langsung penerapannya dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Bukti-bukti sejarah tentang kegemilangan peradaban Islam sebenarnya sangat melimpah. Tetapi, itu saja belum cukup. Apalagi, saat ini begitu banyak distorsi pembelajaran sejarah yang berdampak pada hilangnya gambaran tentang keindahan penerapan ajaran Islam dalam diri dan masyarakat.

Peluang kebangkitan peradaban Islam begitu terbuka. Menurut Mohammad Asad, penghalang terbesar kebangkitan peradaban Islam adalah sikap “imitatif terhadap gaya hidup Barat”: “The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.” (Muhammad Asad/Leopold Weiss, Islam at the Crossroads).

Semoga para tokoh umat Islam bisa berkonsentrasi dalam hal ini dan tidak disibukkan oleh hal-hal yang justru memecah belah dan melemahkan kekuatan umat Islam. (Depok, 6 Januari 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: ARS & SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *