Belajar kepada Luqman Sang Pemilik Hikmah

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.” (QS Luqman [31]: 12).

Atas ayat di atas, Hamka di Tafsir Al-Azhar menyebut bahwa Allah telah memberi hikmah kepada Luqman. Oleh karena itu, Luqman terlepas dari bahaya kesesatan yang nyata.

Selanjutnya, Hamka mengutip Ar-Razi. Bahwa, hikmah ialah kesesuaian antara perbuatan dengan pengetahuan.

Maka, lanjut Hamka, tiap-tiap orang yang telah diberi taufik oleh Allah akan sesuai antara perbuatannya dengan pengetahuannya atau antara amalnya dengan ilmunya. Itulah orang yang telah mendapat hikmah (Hamka, 2003: 5565).

Karunia Istimewa

Tak banyak manusia yang namanya diabadikan secara baik oleh Allah di Al-Qur’an. Luqman termasuk di antara yang sedikit itu lantaran dia memiliki nilai lebih yaitu dikaruniai hikmah oleh Allah.

Siapa Luqman? Jumhur ulama menyatakan, Luqman bukan Nabi melainkan hanya seorang hamba yang shalih dan diberi hikmah oleh Allah.

Luqman hidup di zaman Nabi Dawud As. Ia berkulit hitam dan tak punya kedudukan sosial yang tinggi. Namun, hikmah yang diterimanya dari Allah menjadikan pesan-pesan Luqman patut diamalkan seluruh manusia.

Ciri paling kental dari Luqman adalah selalu berkata-kata baik dan benar, dan itu termasuk ajaran pokok dalam Islam. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS Al-Ahzab [33]: 70-71).

Dialog Asyik

Luqman adalah teladan. Dia selalu berbicara baik dan benar. Dia lebih memilih untuk diam ketimbang berbicara jika tak bermanfaat.

Asy-Syahari (2005: 13-15) menyampaikan bahwa di Tafsir Ath-Thabary, Umar bin Qais memberikan gambaran tentang sosok Luqman: Dia seorang berkulit hitam, berbibir tebal, dan bertelapak kaki retak-retak.

Kemudian, seseorang datang kepadanya ketika dia berada di sebuah majelis untuk mengajari manusia. Terjadilah dialog.

“Bukankah engkau adalah orang yang menggembalakan domba bersama saya di tempat ini dan ini,” tanya orang itu.

“Benar,” jawab Luqman.

“Lalu apa yang menyebabkan engkau mencapai kemajuan seperti yang aku lihat ini,” tanya orang itu lagi.

“Dengan berbicara benar dan berdiam diri dari hal-hal yang tak bermanfaat,” jelas Luqman.

Respons Berkelas

Luqman sangat dikenal sebagai pribadi yang tidak suka mengulang kata-kata. Dia hanya akan mengulang jika kata-kata itu berhikmah dan itupun jika ada yang memintanya untuk mengulang.

Sebutan Al-Hakim baginya adalah hal yang tepat. Hal ini karena sesuai dengan ucapan, sikap, dan perbuatannya yang penuh hikmah.

Asy-Syahari (2005: 15) menyebutkan kisah menarik di Tafsir Al-Qurthubi. Di situ, dikisahkan tentang dialog seseorang dengan Luqman.

“Sembelihkanlah seekor domba, kemudian berikan kepada saya dua bagian tubuh domba itu yang paling baik,” pinta orang itu.

Luqman pun mengerjakan yang diminta. Dia lalu memberikan kepada orang itu lidah dan hati domba tersebut.

Setelah itu, orang yang sama meminta Luqman untuk menyembelihkan domba lagi. Hanya saja, kali ini dengan permintaan yang berbeda.

“Buanglah dua bagian dari tubuh domba itu yang paling buruk,” pinta orang itu,

Luqman pun membuang lidah dan hati domba itu. Mendapati kenyataan itu, orang tersebut heran, sebab Luqman memilih lidah dan hati sebagai dua bagian tubuh domba yang paling baik sekaligus yang paling buruk.

“Mengapa begitu,” tanya orang itu.

”Itu, karena tidak ada bagian tubuhnya yang lebih baik dari keduanya jika keduanya baik. Kemudian, tak ada bagian tubuhnya yang lebih buruk dari keduanya jika keduanya buruk,” terang Luqman.

Atas fragmen di atas, boleh jadi, ada yang tak segera faham dengan maksud Luqman. Hal ini karena sikap atau perbuatan Luqman terkait “lidah dan hati” itu tergolong nyleneh. Namun, bagi kaum beriman, sikap Luqman tersebut cukup mudah untuk ditangkap pesannya. Mengapa?

Berdasar HR Bukhari dan Muslim, kita diajari untuk selalu berkata baik atau–jika tidak-silakan berdiam diri saja. Artinya, lidah (baca: lisan) itu harus kita jaga.

Sementara, lewat HR Bukhari dan Muslim juga, kita tahu bahwa di dalam diri seseorang ada segumpal darah-yaitu hati-yang jika hati itu baik maka akan baik pulalah orang itu. Juga, sebaliknya.

Pesan-Pesan Penting

Luqman pernah ditanya, “Bentuk hikmah apa yang kamu miliki?” Luqman menjawab, “Saya tidak akan meminta yang aku sudah dicukupi, dan saya tidak akan berbuat sesuatu yang tidak bermanfaat bagi saya.”

Suatu ketika Luqman ditanya, “Siapakah manusia yang paling jelek?” Luqman menjawab: “Orang yang berbuat jelek dan ia tak peduli ketika orang lain melihatnya”.

Luqman berwasiat kepada anaknya, “Wahai anakku, duduklah bersama orang-orang yang alim dan belajarlah dengan mereka. Sesungguhnya Allah menghidupkan hati-hati mereka dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang sudah mati dengan air hujan”.

Berbagai pesan / wasiat Luqman itu patut menjadi pegangan kita. Nasihat-nasihat tersebut bernilai penting dan agung. Kesemuanya dapat kita jalankan untuk meraih ridha Allah.

Figur Inspiratif

Berdasar (sebagian) kisah Luqman di atas, maka terutama bagi yang merasa memiliki kekurangan dalam hal penampilan fisik–antara lain seperti berkulit hitam-janganlah bersedih atau berkecil hati. Hal ini, karena kemuliaan seseorang tidak tergantung kepada performa fisiknya.

Di sekitar kita, banyak manusia yang memiliki catatan amal shalih yang membuatnya mulia di hadapan Allah dan manusia sekalipun (setidaknya dalam pandangan sebagian orang) memiliki fisik yang tak bagus. Dalam khazanah Islam, kecuali Luqman masih banyak contoh manusia mulia–baik di depan Allah maupun di hadapan manusia-lantaran memiliki aqidah yang kuat dan akhlaq yang indah.

Lihat, misalnya, lelaki berkulit hitam yang bernama Bilal bin Rabah. Dia dikenal sebagai “Muadzin Rasulullah Saw dan lambang persamaan derajat manusia”. Lalu, karena amal shalihya yang istiqomah, Rasulullah Saw memberi kabar gembira baginya bahwa dia termasuk salah seorang calon penghuni surga.

Jadi, kembali ke tema kajian ini, Luqman itu memang inspiratif! Mari, kita berguru kepadanya, insan yang insya Allah termasuk yang dimaksud Hamka: Orang itu telah diberi taufik oleh Allah, dengan ciri khas yaitu sesuai antara perbuatannya dengan pengetahuannya atau antara amalnya dengan ilmun

Admin: Kominfo DDII Jatim

SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *