Suap-Menyuap, Jauhi!

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Meski banyak pelaku suap-menyuap yang ditangkap dan dipenjara, tapi perilaku terlarang itu terus terjadi. Kendati ancamannya berupa neraka, bagi yang beragama Islam, tapi tetap saja pelaku suap-menyuap seperti tak takut.

Siapapun harus waspada dengan kemungkinan tergelincir pada perilaku suap-menyuap. Hal ini, karena praktik suap-menyuap telah berlangsung sangat lama. Misal, Nabi Sulaiman As pernah dicoba disuap oleh Ratu Balqis. Juga, ada cerita, Tembok Besar Cina yang masyhur itu bisa ditembus musuh dengan cara menyuap penjaganya.

Berbungkus Hadiah

Suatu ketika, Nabi Sulaiman As mendengar tentang Negeri Saba yang makmur dan memiliki Ratu yang cakap. Sayang, pemimpin dan rakyat Saba kafir. Mereka menyembah matahari dan bukan Allah.

Atas hal itu Nabi Sulaiman As segera menulis dan mengirim surat kepada pemimpinnya, Ratu Balqis. Isinya, ajakan untuk taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya.

Mendapat surat itu, Balqis langsung mengumpulkan para menteri dan segenap pembesar kerajaannya untuk bermusyawarah. Balqis memulai dengan membacakan surat dari Nabi Sulaiman As. Perhatikanlah QS An-Naml [27]: 30-31 ini: ”Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri’.”

Setelah surat dari Nabi Sulaiman As dibacakan, Balqis meminta pendapat para pejabat yang hadir, sebaiknya harus bersikap bagaimana. Cermatilah ayat ini: “Berkata dia (Balqis): ‘Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)’. Mereka menjawab: ‘Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan’.” (QS An-Naml [27]: 32-33).

Ternyata, Balqis punya pendapat sendiri yang oleh peserta rapat dianggap lebih jitu dan lebih sempurna ketimbang yang mereka sudah sampaikan. Dalam pandangan Balqis, si pengirim surat yaitu Nabi Sulaiman As tidak dapat dicegah keinginannya sebab dia memiliki pasukan yang tidak terkalahkan.

Lalu, Balqis memilih siasat ini: Dia akan mengirim utusan kepada Nabi Sulaiman As dengan membawa hadiah. Selanjutnya, Balqis akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.

Dengan cara itu, Balqis berharap dapat melunakkan hati Nabi Sulaiman As. Lewat hadiah yang diberikannya, yang dikumpulkannya bersama seluruh keluarga kerajaan, Balqis berharap dapat menghentikan langkah dakwah Nabi Sulaiman As.

Apa yang lalu terjadi? Nabi Sulaiman As menolak mentah-mentah seluruh hadiah tersebut. Dia tak menerimanya meskipun hadiah-hadiah itu terdiri dari berbagai jenis harta yang menggiurkan.

Perhatikan ayat ini: “Dan sesungguhnya aku (Balqis) akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: ‘Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu” (QS An-Naml [27]:35-36).

Kisah tentang “Dakwah Nabi Sulaiman As kepada Ratu Balqis” antara lain ada di QS An-Naml [27]: 22-44. Sementara, penjelasan yang indah dan menarik atas kisah itu antara lain ada di buku “Kisah Para Nabi” terbitan Pustaka Al-Kautsar (Ibnu Katsir, 2002: 833-841).

Inti pesan dari kisah di atas, Ratu Balqis lewat hadiah yang dikirimkannya hendak menyuap Nabi Sulaiman As. Balqis berharap, dengan cara tersebut, Nabi Sulaiman As berkenan menerima hadiah itu dan lalu menghentikan dakwahnya.
Atas percobaan suap itu, Nabi Sulaiman As menolak tegas. Ini, sebuah sikap yang kukuh dan berbuah positif bagi Ratu Balqis. Inilah ayat yang mengabadikan kesaksian indah dari Balqis: “…. Yaa Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam” (QS An-Naml [27]: 44).

Tak Kokoh

Tembok Besar Cina atau Tembok Raksasa Cina adalah salah satu dari 7 Keajaiban Dunia. Tembok Besar Cina bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1987.

Ajaib, karena Tembok Besar Cina merupakan bangunan terpanjang yang pernah ada di dunia. Panjangnya, sekitar 21.000 kilometer. Adapun penggagasnya, Kaisar Qin Shi Huang dari Dinasti Qin pada abad ke-3 SM.

Ada sejumlah versi fungsi dari Tembok Besar Cina, di masa lalu dan sekarang. Pada masa Dinasti Qin, antara lain, difungsikan sebagai pencegah serangan dari bangsa Barbar.

Adapun fungsi Tembok Besar Cina sekarang adalah sebagai destinasi wisata unggulan. Hal ini karena bangunan bersejarah ini menjadi simbol kemegahan peradaban Cina di masa lalu, yang masih berdiri hingga sekarang.

Selain panjangnya yang wah, arsitekturnya juga megah. Inilah yang menjadi daya tarik Tembok Besar Cina sebagai destinasi wisata unggulan di Cina (baca, https://www.kompas.com/stori/read/2022/06/09/100000079/fungsi-tembok-besar-china-di-masa-lalu-dan-masa-kini?page=all).

Mari konsentrasi, bahwa dulu, di antara fungsi Tembok Besar Cina adalah untuk mencegah serangan dari bangsa lain. Tapi, di titik ini, ada yang “menarik”. Ternyata, pada suatu waktu, begitu mudah menerobos bangunan kokoh itu. Tentang ini kita ikuti tulisan Ary Ginanjar di situsnya. Judulnya, “Kisah Tembok Cina”.

Bahwa, “Tahun 1600 Cina diserang oleh bangsa Mongolia dan tidak bisa ditembus. Pada tahun 1644 diserbu kembali, namun akhirnya bisa tembus oleh bangsa Mongolia. Apa strategi menembus tembok besar tersebut? Apakah dengan serangan yang lebih besar, apakah menggali parit, atau membuat terowongan, atau dengan membuat meriam?”

“Ternyata cara menembusnya sangat sederhana dan tidak banyak menimbulkan kerugian yang besar bagi bangsa Mongolia, yaitu dengan cara menyogok pasukan penjaga benteng Cina. Dengan demikian pasukan Mongolia bisa masuk melewati gebang yang dijaga pasukan Cina yang paling lemah” (sumber, http://aryginanjar.com/en/kisah-tembok-cina/).

Dari kisah di atas, ada pelajaran besar. Percuma ada bangunan kokoh yang dirancang untuk sulit ditembus musuh jika penjaganya berjiwa lemah. Lihat, dengan hanya menyogok atau menyuap pasukan penjaga, leluasalah pihak lawan masuk ke wilayah yang seharusnya dilindungi dengan sekuat tenaga.

Praktik Munkar

Suap-menyuap sungguh berbahaya. Praktik tak terpuji ini merusak tatanan sosial. Lihatlah, sedikit gambaran akibat buruk suap-menyuap berikut ini.
Bahwa, suap-menyuap bisa menghilangkan kejujuran yang bisa berujung kepada hilangnya rasa saling percaya di tengah-tengah masyarakat. Suap-menyuap akan menyuburkan sikap malas sekaligus suka dengan jalan pintas. Suap-menyuap mudah memicu prasangka antarwarga masyarakat. Cermatilah, betapa sungguh mengerikan akibat buruk yang ditimbulkan oleh suap-menyuap.

Berhati-hatilah! Jangan tergelincir pada praktik suap-menyuap. Dalam pandangan Islam, semua yang terlibat yaitu penyuap, yang disuap, dan yang memfasilitasinya mendapat laknat Allah. Berhati-hatilah, bahkan sekelas Nabi Sulaiman As pernah merasakan usaha penyuapan kepada dirinya.

Sejauh Mungkin!

Perhatikan ayat ini: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]: 188).

Mari konsentrasi pada ayat ini: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil“. Menurut Hamka, yang dilarang adalah “Segala usaha mencari keuntungan untuk diri sendiri dengan jalan yang tidak wajar”. Apa saja?

Hamka seperti memberi keleluasaan kita untuk memberi contoh sendiri dengan kalimatnya, “dapat dikemukakan 1001 contoh yang lain”. Memang, sebelumnya Hamka memberi contoh seperti penggunaan timbangan yang diniati curang saat berjual-beli. Contoh lainnya, menimbun barang untuk kemudian dijual mahal saat dibutuhkan masyarakat (Hamka, 2003: 438).

Sungguh, umat Islam sangat dilarang memakan harta orang lain dengan cara bathil seperti yang digariskan QS Al-Baqarah [2]: 188. Suap-menyuap termasuk contohnya, karena bagian dari praktik mendapat keuntungan secara bathil.

Lebih tegas lagi, Rasulullah Muhammad Saw bersabda: “Allah melaknat orang yang menerima suap, orang yang menyuap, dan orang yang menjadi perantara keduanya” (HR Ahmad, Thabrani, Baihaqi, dan Hakim). “Penerima suap dan pemberi suap masuk neraka” (HR Bazzar dan Thabrani).

Jadi, jauhi suap sejauh-jauhnya. Ini, harus kita lakukan agar selamat. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Bahasa Inggris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *