PERLU RUMUSAN BARU TENTUKAN KUALITAS SDM INDONESIA

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – Banyak pakar dan pengamat pendidikan menyatakan, bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) itu rendah. Indikatornya adalah Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. Tahun 2023, HDI kita mencapai 74,39. Ini naik dari tahun sebelumnya, sebesar 73,77. 

HDI diukur dari aspek: harapan hidup dan kesehatan, tingkat pendidikan, dan standar hidup layak. Tahun 2023, angka harapan hidup manusia Indonesia adalah 73,93 tahun. Rata-rata masa sekolah mencapai 13,15 tahun. Dan ada juga kenaikan standar hidup. Jadi, HDI Indonesia naik dari peringkat ke-114 menjadi 112. (https://www.bps.go.id).
Kita sangat sepakat dengan upaya untuk meningkatkan IPM Indonesia. Dengan kekayaan alam yang melimpah dan banyaknya cendekiawan kelas dunia yang dimiliki Indonesia saat ini, sepatutnyalah IPM Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain yang miskin sumber daya alamnya. 

Hanya saja, kita pun patut memikirkan standar yang digunakan untuk menentukan kualitas IPM Indonesia. Kita harus meningkatkan angka harapan hidup, tingkat pendidikan, dan standar hidup layak. Kita setuju! Tapi itu jelas tidak cukup untuk menentukan kualitas seorang manusia Indonesia seutuhnya.
Manusia adalah makhluk Allah SWT yang merupakan paduan unik antara aspek jiwa dan raga. Kualitas SDM Indonesia tak patut hanya diukur hanya berdasarkan aspek jasadiah belaka. Manusia berbeda dengan hewan secara substansial. Jiwa manusia perlu kenyamanan. Jiwa akan merasakan ketenangan jika berzikir kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, dalam diri manusia memang ada RUH yang berasal dari Allah. 

Dalam pandangan Islam, manusia yang mulia adalah yang bertaqwa. Maka, IPM Indonesia harusnya menyertakan aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia. Meskipun seorang memiliki standar hidup yang tinggi, gelar doktornya sampai lima, dan harapan hidupnya sampai 90 tahun, tetapi jika dia durhaka kepada Tuhannya, maka IPM-nya rendah!  

Meskipun kaya raya, populer, standar hidupnya tinggi, tetapi rajin korupsi dan hobi menzalimi rakyatnya maka sebagai pemimpin, sejatinya ia memiliki IPM yang rendah. Begitu juga jika suatu masyarakat rendah pendapatannya, tetapi hidup mereka bahagia, saling berkasih sayang,  dan suka tolong-menolong, maka hakikatnya masyarakat itu memiliki IPM yang tinggi. 


Inilah perlunya para ahli politik, ekonomi, pendidikan, dan pembangunan membuat rumusan baru tentang HDI atau IPM Indonesia. Janganlah kita terus-menerus menerapkan konsep pembangunan yang berakhir pada kegagalan pembangunan manusia yang sebenarnya. Yakni, manusia sebagai hamba Allah dan sebagai Khalifatullah fil-ardh; manusia yang hidup sejahtara dan bahagia dunia akhirat. 

Entah mengapa sepertinya konsep-konsep pembangunan kita masih enggan untuk merujuk kepada panduan wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Padahal, sejak awal kemerdekaan, kita sudah berani mengakui, bahwa negara kita merdeka karena rahmat dari Allah SWT. Kita mengakui peran besar para ulama dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan,  dan dalam menjaga keutuhan NKRI. 

Tapi, ironis, jika dalam merumuskan konsep-konsep pembangunan, para ulama itu ditinggalkan. Berbeda halnya jika memang ulama-ulamanya sendiri tidak memahami bagaimana merumuskan konsep pendidikan dan pembangunan bangsa secara Islami. 
Inilah sebenarnya tanggung jawab universitas-universitas Islam untuk melahirkan konsep-konsep pembangunan yang lebih komprehensif dan sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Betapa pun tingginya angka pertumbuhan ekonomi kita dan berapa pun peningkatan pendapatan per kapira rakyat Indonesia, jika mereka tidak semakin taat kepada Tuhan, maka pasti akan berujung kepada kesengsaraan di dunia dan akhirat. 

Konsep pembangunan yang sekuler dan materialistis seperti itu bukanlah yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita! Karena itulah mereka merumuskan bahwa tujuan kita merdeka adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur itulah yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita. Bukan hanya sejahtera dan makmur secara fisik, tetapi juga hidup tenteram dan damai saling tolong menolong satu sama lainnya; bahagia dan selamat dunia akhirat. 

Kita berharap, pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto nanti memiliki keberanian untuk merumuskan konsep pembangunan – termasuk penentuan kriteria IPM Indonesia – yang tidak mengabaikan tuntunan dan bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagaimana telah dicontohkan oleh Sang Nabi terakhir, Muhammad saw. 
Kita tidak menafikan berbagai kemajuan yang dicapai oleh peradaban Barat modern, dan kita harus berani belajar banyak hal dari mereka. Tetapi, janganlah kita menjiplak segala hal dengan mengabaikan nilai-nilai Ketuhanan yang kita junjung tinggi dan kita sepakati sebagai panduan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga Allah SWT menolong kita semua. Amin. (Depok, 7 September 2024).”

Admin: Kominfo DDII Jatim

SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *