Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Pada 24 Agustus 2024, saya mendapat ujian dari Allah. Begitu tiba di rumah (Pesantren At-Taqwa Depok), dari Nusa Tenggara Barat, tiba-tiba kaki kanan saya tidak bisa digunakan berjalan. Begitu sakit terasa ketika kaki kanan ditumpukan.
Hari Senin (26/8/2024), saya di rawat di Rumah Sakit. Hasil diagnosa menunjukkan ada peradangan sendi di lutut kanan. Kata dokter itu terjadi karena faktor usia, kelebihan beban, penggunaan yang berlebihan, dan juga faktor makanan.
Dalam sebuah sesi konsultasi dengan dokter ahli, saya ditegur karena menerapkan konsep kesehatan asal comot dari internet. Konsep itu tidak salah. Tetapi, penjelasannya tidak lengkap. Konsep kesehatan itu baik untuk kondisi-kondisi dan orang-orang tertentu. Tidak untuk setiap orang dengan kondisi fisik yang berbeda-beda.
Ketika itulah saya tersadar kembali tentang pentingnya otoritas dalam setiap bidang keilmuan. Tubuh manusia itu begitu canggih dan komplek. Informasi kesehatan di media-media online sekarang bertebaran. Dan biasanya harus singkat durasinya.
Misalnya, saat ini begitu banyak informasi pengobatan atau pencegahan diabetes mellitus. Ribuan video memuat informasi tentang itu. Ada yang berdasarkan hasil riset perpustakaan dan ada juga yang berdasar atas pengalaman pribadi dalam pencegahan dan pengobatan diabetes.
Konsep pengobatan mana yang diikuti? Tentu saja yang pertama perlu diikuti adalah nara sumber yang memiliki otoritas keilmuan di bidang kesesehatan. Kedua, nara sumber yang memiliki pengalaman berulang-ulang dan sudah menjadi tradisi, meskipun belum melakukan uji empiris di laboratorium terhadap metode kesehatannya.
Di sinilah pentingnya kita memahami otoritas ilmu. Jangan salah menjadikan seorang sebagai guru atau sumber ilmu. Dokter sejatinya adalah seorang guru yang patut diikuti nasehatnya, karena otoritas ilmu yang dimilikinya. Karena itulah, dokter harus memiliki ilmu yang memadai dan akhlak yang mulia. Ringkasnya, dokter harus baik akhlaknya dan pinter ilmunya.
Sebagai pasien kita dituntut untuk mengenali dokter-dokter seperti itu. Biasanya kita lebih mantap jika ditangani oleh dokter senior yang sudah masyhur reputasinya. Apalagi jika dokter itu dikenal juga sebagai seorang yang sholeh dan aktif dalam perjuangan kemanusiaan. Inilah yang disebut sebagai dokter yang memiliki otoritas yang tinggi, sehingga patut dijadikan sebagai rujukan dalam bidang kesehatan.
Jika dalam bidang kesehatan fisik saja kita harus mengikuti nasehat orang yang memiliki otoritas ilmu, maka terlebih lagi dalam bidang kesehatan jiwa. Ketika kita mengirimkan anak-anak kita ke suatu pesantren, sekolah, atau perguruan tinggi, sepatutnya kita juga mengenal betul siapa guru yang akan mengajar dan membimbing anak-anak kita tersebut?
Apakah di lembaga tersebut anak-anak kita itu akan dididik menjadi orang baik atau tidak? Apakah anak-anak kita akan dididik agar semakin mencintai akhirat atau justru dididik agar menjadi orang yang semakin cinta dunia? Apakah anak-anak kita akan dididik agar mengenal dan mencintai para ulama pejuang atau justru dididik agar tidak kenal dan tidak mencintai ulama-ulama pejuang yang patut dijadikan panutan dalam kehidupan?
Sebab, kata Rasulullah saw, dalam diri manusia ada “mudghah”. Jika itu baik, maka akan baik seluruh dirinya dan jika itu rusak, maka akan rusak pula seluruh diri manusia. Itulah yang disebut sebagai “al-qalb”. Guru sejatinya adalah dokter jiwa-raga. Syekh al-Zarnuji menyarankan agar dalam mencari guru, pilihlah guru yang paling berilmu, paling zuhud, dan yang tua.
Jika otoritas ilmu rusak, maka akan rusak pula tatanan masyarakat yang adil dan beradab. Sebab, yang banyak tampil di masyarakat adalah orang-orang yang kurang ilmu dan kurang bijak dalam menyebarkan ilmu. Dalam kondisi seperti itu, terjadilah apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw: “orang jujur tidak dipercaya, sebaliknya pendusta dijadikan rujukan; orang yang amanah tidak diberikan jabatan, sebaliknya orang yang suka khianat dikasih jabatan.”
Jadi, agar kita sekeluarga sehat-wal afiat, sehat jiwa raga, selamat dunia akhirat, janganlah sampai salah pilih dokter dan jangan salah pilih guru! Semoga Allah SWT menolong kita agar tetap istiqamah di jalan menuju sorga-Nya! Amin. (Depok, 30 Agustus 2024).
Admin: Kominfo DDII Jatim
SS
