Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – “Satu-satunya yang diperlukan yang batil untuk maju mencapai kemenangannya adalah asal saja yang haq tinggal diam, tak berbuat apa-apa,” kata Buya Natsir.
“Dunia dan manusia jangan dibiarkan hanya mendengarkan kebohongan dan kepalsuan,” kata M. Isa Anshary.
Agar Terbaik
Bacalah ayat ini: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali ‘Imraan [3]: 110).
Terkait ayat di atas, sangat menarik saat kita buka Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Dikatakan, bahwa syarat agar kaum Muslimin menjadi “Umat yang terbaik” adalah jika mereka ”Beramar makruf, bernahi munkar, dan beriman kepada Allah”. Ketiga dasar (atau syarat) itu, kata Hamka, hakikatnya adalah satu kesatuan. Harus ada pada saat yang sama.
Selanjutnya, Hamka menyatakan bahwa di dalam memahami QS Ali ‘Imraan [3]: 110, hendaklah kita mengambil mafhumnya dari bawah, dibaca dengan sungsang: 1).Beriman kepada Allah. 2).Berani melarang yang munkar. 3).Berani menyuruh dan memimpin sesama kepada yang makruf.
Lalu, masih kata Hamka, berani melarang yang munkar adalah implikasi pertama dari iman kepada Allah. Iman kepada Allah membuat manusia merdeka dari pengaruh yang lain, sebab yang lain itu hanyalah makhluk Tuhan belaka. Keimanan menghilangkan rasa takut dan–sebaliknya-menimbulkan daya hidup.
Dari paragraf di atas, meski ketiga syarat “Umat terbaik” itu satu kesatuan yang tak terpisahkan, tampaknya Hamka merekomendasikan urutannya, sebagai berikut: Beriman kepada Allah, berani melarang yang munkar, dan berani menyuruh kepada yang makruf.
Memang, bernahi-munkar itu beresiko. Tapi, kata Hamka, “Percaya kepada Allah, itulah yang menghilangkan segala rasa takut. Orang yang beriman kepada Allah adalah berani, karena takutnya”. Maksudnya, “Dia berani menghadapi segala macam bahaya di dalam hidup, karena dia takut kepada siksa Allah sesudah mati. Dia berani mati”.
Suatu saat, di zaman pendudukan Jepang, Hamka bertanya kepada sang ayah yang sekaligus juga gurunya yaitu Syaikh Abdul Karim Amrullah: “Tidakkah engkau takut akan siksa Kempetai Jepang?” Pertanyaan ini diajukan Hamka saat melihat sang ayah tidak mau ruku’ (seikerei) ke arah Istana Jepang.
“Ayah tidak takut kepada mati, hai Anakku! Hal yang Ayah takuti ialah yang sesudah mati,” tegas Syaikh Abdul Karim Amrullah.
Alhasil, kata Hamka, selama amar makruf nahi munkar masih ada, itulah alamat bahwa umat ini masih bernafas. Tapi, jika amar makruf nahi munkar telah tiada, itu pertanda umat Islam telah mati walau fisik masih ada.
Mengingat urgensinya, sekali lagi Hamka menekankan bahwa selama amar makruf nahi munkar ada, maka selama itu pula Islam masih akan tetap hidup dan memberikan hidup. Selama itu pula umat Islam akan menjadi yang sebaik-sebaik umat di antara manusia.
Tak lupa, Hamka mengingatkan tentang sebuah keadaan yang buruk bagi mereka yang abai terhadap aktivitas amar makruf nahi munkar. Bahwa, mereka akan ditimpa azab Allah. Untuk itu Hamka mengutip HR Tirmidzi: “Menyuruhlah berbuat makruf dan mencegahlah berbuat munkar, atau kalau tidak, siksa Allah akan menimpa kepadamu. Lalu kamu memohon supaya siksa itu dihentikan, tetapi pemohonan kamu itu tidak dikabulkan Tuhan”.
“Api” Kita
M. Isa Anshary dan M. Natsir telah memberi ingat agar kita tidak diam saat melihat kemunkaran. Hamka sudah memberi nasihat, bahwa kondisi sebagai umat terbaik dapat lekas kita raih dengan urutan langkah sebagai berikut: Beriman kepada Allah, bernahi munkar, dan beramar makruf.
“Itulah tugas hidup,” seru Hamka Tafsir Al-Azhar. “Belum sanggup untuk seluruh dunia, mulailah dalam masyarakat negara sendiri. Belum sanggup untuk negara, mulailah di kampung halaman. Belum sanggup di rumah-tangga, mulailah dalam diri sendiri,” demikian nasihat Hamka (2003: 889).
Jadi, mari tunaikan QS Ali ‘Imraan [3]: 110. Pada saat yang sama, semoga pandangan Hamka disaat memberi tafsir ayat itu bisa menjadi api semangat kita dalam bernahi munkar dan beramar makruf. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
SS
