MENGENAL KH AHMAD DAHLAN LEBIH DEKAT

Artikel Terbaru (ke-1.317)
Oleh: Dr. Adian Husaini
Ketua Umum Dewan Da’wah

Dewandakwahjatim.com, Depok – KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, tidak diragukan lagi merupakan seorang ulama dan pejuang dakwah yang terkemuka di Indonesia. Jasa besarnya dalam mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah sulit ditandingi oleh para ulama lainnya. Ada baiknya, kita mengenal lebih dekat dengan sosok hebat ini.

Sebagaimana ditulis dalam buku “KH Ahmad Dahlan” karya Abdul Wali Kusno (Yogya: C-Klikmedia, 2020), Kyai Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868, dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya, KH Abu Bakar bin Haji Sulaiman dan ibunya bernama Siti Aminah binti KH Ibrahim. Muhammad Darwis merupakan anak ke-4 dari tujuh bersaudara. Dari jalur ayah dan ibunya, Kyai Dahlan masih terbilang keturunan Sunan Giri.
Kyai Abu Bakar mendidik Muhammad Darwis dengan ilmu agama yang serius, khususnya dalam hal membaca dan memahami al-Quran. Disamping itu, Muhammad Darwis juga belajar kepada beberapa guru di Yogyakarta, seperti: KH Muhammad Soleh, KH Muhammad Nur, Kyai Abdul Hamid, Kyai Muhsin. Guru lainnya yang terkenal adalah KH Soleh Darat Semarang. Konon, ada juga yang menyebut, Muhammad Darwis pernah berguru kepada Syaikhana Cholil Bangkalan. Tetapi, informasi ini masih perlu dikonfirmasi lagi.

Ketika berguru kepada KH Soleh Darat itulah, Muhammad Darwis bertemu dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya lalu dikirim oleh KH Soleh Darat untuk belajar ke Mekkah. Dengan restu kedua orang tuanya, Muhammad Darwis pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji pada umur 15 tahun.

Selama di Mekkah, Muhammad Darwis berguru kepada beberapa ulama. Diantaranya, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Beliau ini adalah salah satu Imam besar di Masjidil Haram yang bermazhab Syafii. Syaikh Ahmad Khatib menulis beberapa kitab, antara lain al-Manahirun Naqiyah fil A’malil Jibiyah, Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz, Hasyiyah Fathul Jawwab, dan sebagainya.
Guru lain di Mekkah adalah Syaikh Nahrawi al-Banyumasi/al-Jawi, Syaikh Bakri al-Syatha, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, dan beberapa guru lainnya. Nama Ahmad Dahlan diberikan oleh gurunya, Syaikh Bakri al-Syatha. Sesampai di Indonesia, nama baru itu juga direstui oleh kedua orang tuanya.

Demikianlah, perjalanan mencari ilmu dari Muhammad Darwis atau KH Ahmad Dahlan. Tampak, bahwa selain memiliki garis keturunan para ulama pejuang, keulamaan Kyai Dahlan pun diraih dari upaya yang sungguh-sungguh dalam mencari ilmu kepada guru-guru yang hebat.
Sekembali dari Mekkah, Ahmad Dahlan masih tetap belajar kepada beberapa ulama di Yogyakarta. Ayahnya memberinya kesempatan untuk mengajar di surau. Ia juga diberi modal 500 gulden sebagai modal untuk berdagang batik.
Pada tahun 1903, setelah kedua orang tuanya wafat, Kyai Dahlan berangkat kembali ke Mekkah untuk mencari ilmu lagi. Kali ini ia mengajak putra tertuanya, Muhammad Siradj, yang masih berumur 6 tahun. Di Mekkah kali ini Kyai Dahlan dikabarkan banyak belajar gagasan pembaruan Islam dari Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Bahkan, Kyai Dahlan juga sempat berjumpa dan berdiskusi dengan kedua ulama itu.


Kesungguhan dan keikhlasan KH Ahmad Dahlan dalam menuntut ilmu mengantarkannya menjadi seorang ulama dan tokoh yang menonjol. Kehebatan Kyai Dahlan dalam menyampaikan gagasannya sempat menarik hati Soekarno muda yang waktu itu masih berumur 15 tahun.

Ketika berpidato dalam Muktamar Muhammadiyah di Jakarta, tahun 1962, Bung Karno menyatakan: “Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil (mengikuti. Pen.) kepadanya, tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah; tahun ’62 ini saya berkata, moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhaanahu wa-Ta’ala, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya.” (Lihat, buku K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia (1963), karya Solichin Salam).

Semangat perjuangan dan pengorbanan Kyai Dahlan dapat disimak dalam sejumlah kisah berikut. Saat Kyai Dahlan jatuh sakit, seorang dokter Belanda menasehatinya untuk beristirahat. Kata si Dokter: “Saya mengetahui apa yang menjadi cita-cita Tuan, dan sebagai seorang dokter, saya pun mengetahui penyakit yang kyai derita. Penyakit kyai ini tidak memerlukan tetirah keluar kota, tetapi cukup di rumah saja. Sakit kyai ini hanya memerlukan mengaso, lain tidak.”

Tetapi, kyai Dahlan tidak memperhatikan nasehat dokter tersebut. Ia terus berkeliling daerah, bertabligh, tanpa peduli kesehatannya. Kyai Dahlan wafat pada 23 Februari 1923. Beberapa bulan sebelum wafatnya, Kyai Dahlan pergi 17 kali meninggalkan Yogyakarta untuk berbagai kegiatan dakwah.

Beginilah perjuangan Kyai Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan Islam di negeri kita. Beliau memberikan teladan dalam memahami hidup, cinta dan ikhlas dalam perjuangan dan pengorbanan; juga bagaimana menjadi guru dan pendakwah sejati. Ia pun berpesan, “Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?”

Kyai Dahlan telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam Indonesia, yaitu keteladanan berdakwah bil-hikmah dengan modal akhlaqul karimah. Kini, di tahun 2022, Muhammadiyah sudah berumur 110 tahun. Andaikan KH Ahmad Dahan masih hidup, semoga beliau ridha dan tersenyum melihat perilaku kita, sebagai pelanjut perjuangannya. (Depok, 9 Oktober 2022).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *