MENGUNJUNGI TANAH KELAHIRAN MOHAMMAD NATSIR (3)

Oleh: Dr. Adian Husaini
Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com – Ada yang berkata, berkunjung ke Sumatera Barat (Sumbar) tanpa mengunjungi Jam Gadang di Bukittinggi, masih belum sempurna. Tapi, ada ungkapan yang lebih bermakna: berkunjung ke Sumbar tanpa berkunjung ke Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, tentu kurang afdhal.

Mengapa? Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang termasuk salah satu lembaga pendidikan legendaris di Sumbar, bahkan di Indonesia. Model pendidikan putri ini mampu menginspirasi Universitas al-Azhar Kairo untuk mencontohnya, dengan mendirikan Kulliyyatul Banat. Pendirinya, Rahma el-Yunusiyyah, diberi gelar ulama wanita (syaikhah) oleh Universitas al-Azhar.

Saat memasuki Perguruan ini, pada 11 Oktober 2021, rombongan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) disambut langsung oleh pimpinan Perguruan Diniyah Putri, Dr. Fauziah, dan sejumlah pimpinan lembaga di perguruan ini. Semuanya perempuan. Mereka sangat bersemangat menjelaskan sejarah dan keunikan Perguruan Diniyah Putri.

Sebuah video profil lembaga dan sejarahnya sudah disiapkan. Video ini sangat mengesankan. Di akhir video ditampilkan bendera merah putih dan sejumlah bendera negara lain, disertai ungkapan: Merah Putih harus menjadi yang paling tinggi. Satu semangat yang sangat mulia. Bendera-bendera dari sejumlah negara itu pun dipasang di arena Perguruan Diniyah Putri. “Agar para santri bersemangat mewujudkan cita-cita, bahwa merah putih menjadi yang tertinggi,” ujar pimpinan Perguruan Diniyah Putri.

Dalam kunjungan itu, saya diminta mengisi kuliah singkat tentang “Tantangan Pemikiran Kontemporer” kepada para mahasiswa Perguruan Diniyah Putri. Perguruan Diniyah Putri termasuk pesantren yang peduli dengan tantangan pemikiran, seperti liberalisme, sekulerisme, dan lain-lain. Sejumlah tokoh dan cendekiawan nasional telah dihadirkan – melalui kuliah daring – untuk berdiakusi dengan para mahasiswa.

Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang telah berumur 98 tahun. Perguruan ini berdiri pada 1 November 1923. Pada awalnya, Perguruan diberi nama “al-Madrasatul Diniyyah lil-Banat”. Rahmah el-Yunusiyyah berpendirian, bahwa pendidikan untuk kaum putri akan lebih maksimal jika tidak digabung dengan pendidikan laki-laki. Dengan pertimbangan tertentu, akhirnya nama “Perguruan Diniyyah Putri” diganti dengan “Diniyyah Putri School.”

Dalam perjalanannya yang panjang, Perguruan Diniyah Putri membuktikan diri sebagai salah satu pejuang dalam pendidikan Islam. Pada awal pendiriannya, Diniyyah Putri School ini tidak memiliki gedung. Sekolah ini hanya menempati sebuah serambi masjid di dekat rumahnya. Tak ada bangku, kursi, atau papan tulis. Para murid duduk bersila mendengarkan gurunya. Buku-buku yang dipakai berbahasa Arab dan guru-guru memberikan pelajaran dalam bahasa Indonesia.

Tahap kemudian, sekolah ini menyediakan asrama bagi remaja putri. Tapi, asrama itu pun masih menyewa di rumah toko (ruko). Tahun 1925, ada 60 murid yang tinggal di ruko tersebut. Tahun 1926, terjadi musibah gempa bumi di Padang Panjang dan daerah-daerah lain di Sumatera Barat, dengan kekuatan 7,8 skala richter. Bangunan sekolah Rahmah hancur, dan seorang gurunya meninggal.

Namun, Rahmah tidak berhenti membangun sekolahnya. Ia terus berjuang mengembangkan sekolahnya. Bahkan, karena keterbatasan biaya, ia harus berkeliling di sejumlah daerah Sumatera dan Semenanjung Melayu. Meskipun terus berkembang, namun suatu ketika sekolah ini juga mengalami musibah. Tahun 1935, karena tidak mampu membayar utang, sekolah Rahmah disita pengadilan. Alhamdulillah, tokoh-tokoh Minang di Jakarta, seperti Haji Agus Salim kemudian membantu pengggalangan dana dan melunasi utang sekolah Rahmah.

Itulah sekilas kepeloporan Rahmah el-Yunusiyyah dalam dunia pendidikan. Maka, tidak berlebihan kiranya, jika ia diberi gelar sebagai “Ibu Pendidikan Indonesia”. (Kisah Rahmah el-Yunusiyyah ini dapat dibaca lebih lanjut dalam buku berjudul: Rahmah el-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, (Yogya: Matapadi Pressindo, 2021), karya Hendra Sugiantoro).


TINGKAT MENENGAH
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang
Sumater Barat
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN
TINGKAT MENENGAH
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang
Sumater Barat
KONSEP PENDIDIKAN PEREMPUAN
TINGKAT MENENGAH
(Studi Pemikiran Pendidikan Rahmah El-Yunusiyah
Dan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang
Sumater Barat

Kembali ke Bukittinggi dari Padang Panjang, kami tiba sekitar pukul 18.00. Malam harinya, saya sudah ditunggu oleh jajaran pengurus DDII Bukittinggi. Meskipun tubuh terasa lelah setelah seharian menghadiri banyak kegiatan, tetapi pertemuan dengan pengurus DDII Bukittinggi itu harus dihadiri. Kesempatan itu sangat berharga dan langka. Dengan dialog langsung secara terbuka, banyak masalah bisa terungkap dan dapat diselesaikan.

Hari-hari berikutnya, ada sejumlah agenda penting selama di Sumbar. Diantaranya, berkunjung ke Museum Hamka dan Pesantren Buya Hamka di Maninjau. Ini kali kedua saya mengunjungi Museum Hamka. Pesantren Buya Hamka berlokasi di tengah hutan di tepi Danau Maninjau. Kami harus melalui jalan sepi dan mendaki sejauh sekitar dua kilometer dari tepi Danau Maninjau.
Begitu sampai di lokasi Pesantren, tampak komplek bangunan pesantren yang cukup tertata rapi dan cukup indah. Pemandangan ke arah Danau Maninjau begitu mempesona. Alhamdulillah, pesantren ini telah mendapatkan kepercayaan dari ratusan santri untuk menimba ilmu di sini. Ada juga santri dari Malaysia dan Thailand.
Hari berikutnya, kami mengadakan rapat koordinasi dengan pengurus DDII Provinsi Sumatera Barat dan sejumlah pengurus DDII Daerah Tingkat II. Dan pada hari terakhir (15/10/2021), saya berkesempatan berkunjung ke Pesantren Mohammad Natsir dan rumah tempat kelahiran Mohammad Natsir di Alahan Panjang, Solok, Sumbar. Mohammad Natsir lahir di sini, pada 17 Juli 1908. Alhamdulillah, meskipun sudah mengalami perubahan bentuk, tetapi rumah kelahiran Mohammad Natsir itu masih terawat dengan baik. Semoga rumah ini akan bisa dijadikan semacam “tempat studi” tentang Mohammad Natsir.
Akhirulkalam, kunjungan ke Sumatera Barat selama 5 hari berlangsung dengan baik. Kunjungan itu sangat berkesan, sehingga ada rencana untuk melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional DDII di Sumbar. InsyaAllah akan dilaksanakan pada Februari 2022. Semoga Allah SWT menolong kita semua. Aamiin. (Solo, 16 Oktober 2021).

Ed. Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *