Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tiga nama di judul tulisan ini, insya Allah termasuk tokoh teladan. Ketiganya, punya jasa tidak kecil bagi umat Islam. Mereka, telah berjuang untuk Islam dan kemasyarakatan dalam makna luas.
Muhammad Jazir adalah ideolog Masjid Jogokariyan Jogjakarta, yang performanya menginspirasi banyak masjid di Indonesia bahkan di luar negeri. Muhammad Isa Anshary yang tokoh Masyumi dan orator kawakan serta mahir menulis itu, turut berjuang lewat parlemen. Muhammad Natsir yang pemimpin Masyumi serta lisan dan tulisannya sama-sama dipakai untuk berdakwah itu, pun berjuang melalui parlemen.
Lalu, seperti apa titik temu ketiga pendakwah itu? Ini penting, sebab darinya kita akan mendapat pelajaran. Tentu, hal itu, spiritnya bisa kita lanjutkan lewat kapasitas masing-masing.
Sekilas Jazir
Muhammad Jazir wafat pada 22 Desember 2025. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Sangat banyak yang berduka dan mendoakan tokoh utama penggerak Masjid Jogokariyan Jogjakarta itu. Berbagai kebaikan Almarhum lalu spontan membayang. Salah satunya, Almarhum sebagai pendakwah, lisan dan tulisannya sama-sama ”hidup”.
Jazir lahir di Jogjakarta, 28 Oktober 1962. Pendidikan TK, SD, dan SMP diselesaikannya di perguruan Muhammadiyah. Lalu, ke SMPP. Setelah itu dia ambil jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Jogjakarta dan Fakultas Hukum jurusan Tata Negara di UII Jogjakarta.
Jazir terbilang unik. Saat masih pelajar, dia sudah aktif di kegiatan mahasiswa. Dulu, di Masjid Salman ITB ada Latihan Mujahid Dakwah. Itu acara beken di zamannya. Dari Jogjakarta hadir perwakilan mahasiswa UGM, UPN Jogjakarta, dan UII. Jazir, meski masih SMA, bisa menjadi peserta karena dia pembina mahasiswa yaitu di Jamaah Shalahuddin UGM (Jazir, Manifesto Masjid Nabi, 2024: 29).
Pada 1977 Jazir menjadi Ketua Umum Remaja Masjid Jogokariyan Jogjakarta. Tahun 1981 Jazir menjadi salah satu pengurus masjid yang sama. Mengingat saat itu Jazir bukan ”Penentu Kebijakan”, maka gagasan-gagasan Jazir untuk reformasi masjid belum sepenuhnya bisa dieksekusi (2024: 55).
Saat Jazir mendapat amanah hingga bisa berposisi sebagai penentu, dia mulai membenahi secara konkrit. Misalnya, ”Takmir harus bertanggung jawab”. Lihatlah, ”Jika Anda kehilangan sandal, sepatu, sepeda, dan sepeda motor di Masjid Jogokariyan maka akan kami ganti baru dengan merek yang sama. Takmir bertanggung jawab”. Intinya, masjid harus hadir dalam persoalan masyarakat (2024: 62 dan 69).
Kita, kata Jazir, sebenarnya bisa membangun peradaban baru Indonesia tidak lewat partai politik. Kapan itu? Ketika masjid-masjid bisa menjadi sumber kesejahteraan rakyat. Kembalikan masjid sebagai tempat solusi umat. Itu, bukan sekadar membenahi manajemennya. Hal yang dikembangkan Masjid Jogokariyan sebetulnya adalah ideologi. Semua berpuncak pada terpenuhinya rasa keadilan dan kesejahteraan sosial. Dalam prosesnya, manajemen masjid hanya soal alat saja (2024: 19-20).
Sekilas Isa Anshary
Muhammad Isa Anshary adalah nama lengkap dari lelaki yang lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, pada 01/07/1916 itu. Dia dikenal sebagai muballigh yang sangat andal. Sangat mungkin, kecakapan yang dimilikinya itu adalah buah yang patut dipetik karena sejak kecil dia memang dididik dalam lingkungan yang religius. Sejak remaja dia aktif di berbagai organisasi keislaman, di antaranya Muhammadiyah.
Tersebab keahliannya berpidato, dia bergelar Singa Podium. Jika dia berorasi, performanya mampu mengobarkan semangat setiap orang yang mendengarnya. Pidato dia bisa memengaruhi massa.
Kiprahnya di bidang politik mampu menarik perhatian massa. Kapanpun dia berpidato, hampir dapat dipastikan bahwa acara itu dipenuhi massa yang ingin mendengarkannya. Massa yang hadirpun bukan hanya dari kalangan yang sepaham dengan garis politiknya (yaitu Partai Masyumi), tapi juga dari masyarakat umum.
Isa Anshary dikarunia talenta yang lengkap. Kecuali cakap berpidato, dia trampil juga menulis. Kemampuan dia menulis setara dengan kecakapannya berorasi. Terkait tulis-menulis, Isa Anshary pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Aliran Muda dan Laskar Islam. Dia juga pernah menjadi pembantu tetap Pelita Andalas Medan dan beberapa penerbitan di Bandung.
Karya tulis Isa Anshary yang berupa buku ada belasan judul. Di antara judulnya yang legendaris adalah Mujahid Da’wah yang terbit kali pertama pada 1966. Di situ antara lain dia bilang, bahwa dalam berdakwah sebaiknya lisan dan tulisan berjalan seiring.
Semangat Isa Anshary dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun–misalnya-saat dia harus mendekam dalam tahanan rezim Orde Lama di Madiun. Saat itu, dia tetap mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam.
Isa Anshary tercatat sebagai salah satu tokoh Islam dan politisi Islam terkemuka. Kecuali pernah menjabat sebagai Ketua Umum PERSIS dan juru bicara Partai Masyumi pada era 1950-an, dia pun pernah menjadi anggota Konstituante
Dalam memerjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia, Isa Anshary memilih berjuang melalui parlemen. Lewat Partai Masyumi, dia konsisten memerjuangkan syariat Islam menjadi dasar negara.
Isa Anshari tidak mengenal lelah. Sampai menjelang akhir hayatnya dia tetap bekerja untuk umat. Dia meninggal di Bandung pada 11/12/1969, saat berumur 53 tahun.
Sekilas Natsir
Muhammad Natsir, teguh dalam memerjuangkan Islam. Antara lain, bisa dirasakan dalam buku “Islam sebagai Dasar Negara”. Buku itu menghimpun pidato Natsir, termasuk pidatonya pada sidang pleno Konstituante pada 12/11/1957. Di pidato itu Natsir dengan cerdas menyampaikan hujjah-hujjahnya mengenai Islam sebagai Dasar Negara.
Natsir lahir di Alahan Panjang, Solok – Sumatera Barat, pada 17/07/1908. Dia muballigh, pendidik, intelektual/pemikir, dan politisi. Ketokohannya tak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam.
Natsir pernah menjadi Perdana Menteri RI pertama, 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI sangat besar. Pada 03/04/1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”, yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Hal lain, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri di sejumlah kabinet.
Kemampuan menulis, kelebihan Natsir yang lain. Lewat kecakapannya itulah, pemikiran Natsir bisa lebih mudah tersebar luas. Tulisan-tulisannya memuat misi yang jelas dalam menyuarakan semangat Islam.
Natsir menulis puluhan judul buku dan ratusan artikel tentang berbagai tema dalam Islam. Fiqhud Da’wah adalah salah satu karyanya yang sangat menonjol dan berpengaruh. Sebagian buku-buku Natsir telah diterbitkan dalam bahasa Arab.
Natsir tak henti memikirkan nasib umat Islam. Pada 26/02/1967, Natsir bersama sejumlah ulama-pejuang mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII). Di keseharian, DDII juga sering disebut “Dewan Da’wah” saja.
DDII adalah organisasi dakwah berbadan hukum. DDII berkembang ke seluruh Indonesia. Kantor pusatnya, di Jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta.
Landasan geraknya adalah kewajiban setiap Muslim dalam melaksanakan dakwah.
Adapun maksud dan tujuan DDII adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang islami. Caranya, dengan menggiatkan dan meningkatkan mutu dakwah di Indonesia berasaskan Islam, takwa, dan keridhaan Allah.
Natsir berpulang ke Rahmatullah pada 05/02/1993 di Jakarta. Nyaris sepenuh perjalanan hidupnya dipenuhi oleh usaha-usahanya yang sangat serius dalam menegakkan dakwah, termasuk “membawa” Islam ke level negara.
Titik Temu (1)
Isa Anshary menjadi idola Jazir. Tokoh Masyumi itu dikagumi sekaligus dicontoh oleh Jazir. Pendek kata, performa (dalam makna luas) dari ulama itu banyak mempengaruhi Jazir.
Lihatlah, luas diketahui bahwa Isa Anshary adalah ”Singa Podium dan Jago Menulis”. Dalam bukunya yang berjudul Mujahid Da’wah, lelaki asal Sumatera Barat itu menyatakan bahwa dalam berdakwah sebaiknya “Lisan dan tulisan berjalan seiring. Pidato dan pena harus bergerak serempak” (tt, 27).
Mari kita kenang. Kita mudah mendapatkan berbagai pidato / ceramah Jazir di berbagai kesempatan dan di banyak tempat. Masyarakat cukup mudah menyaksikan Jazir, yang sebagaimana sang idola, menggugah saat berdakwah.
Materi pidatonya aktual, terutama dalam hal managemen masjid. Cara penyampaiannya, vokal dan bahasa tubuhnya, hidup. Pesan-pesannya, mudah dimengerti dan bisa menggerakkan para pendengarnya.
Berikut ini, sebagian isi ceramah Jazir yang mudah kita ingat. Bahwa, masjid harus buka 24 jam, siap menerima dan menyejahterakan rakyat dalam arti luas. Di malam hari, lampu-lampu masjid harus terus menyala dan pintu tak perlu dikunci. Keberadaan menara masjid harus dimaknai, bahwa dari menara itu pengurus masjid akan terus mencermati perkembangan kesejahteraaan jasmani dan ruhani terutama masyarakat di sekitarnya.
Bagaimana dengan tulisannya? Jazir, tegas saat menulis. Atas kalimat terakhir ini, adakah jejaknya?
Pada 1980 Jazir mendirikan tabloid Ar-Risalah, saat dia masih SMA kelas III. Sementara, di tahun itu termasuk kuat-kuatnya rezim otoritarian Soeharto. Bayangkan, di situasi seperti itu dan dalam usia seperti itu, dia menulis di Ar-Risalah seri tajuk rencana dengan judul-judul menyala seperti berikut ini: ”Firaunisme Bangkit Kembali”, ”Hamamisme dan Prostitusi Kaum Intelektual”, ”Bal’amisme dan Kiai-Kiai Penjilat Kekuasaan”, serta ”Qarun dan Konglomerasi Indonesia”. Apa akibatnya? Jazir dipenjara, 9 bulan (2024: 36-37).
Kembali ke Isa Anshary dan Jazir. Di antara karya Isa Anshary yang paling mempengaruhi Jazir adalah ”Kembali ke Haramain”. Di tulisan itu Jazir mendapat hujjah yang kuat untuk terus menekuni masjid selama-lamanya dalam usaha memperbaiki bangsa dan negara. Caranya, dengan merujuk kepada kekuasaan Rasulullah Saw, di Madinah yang berpusat di masjid (2024: v).
Mana tulisan terakhir Jazir? Ini dia, buku berjudul Manifesto Masjid Nabi: Rumah Allah yang Memihak Rakyat (https://tagar.co/masjid-jogokariyan-revolusi-kemasjidan-yang-pro-rakyat/). Buku setebal 248 halaman ini, sangat penting. Isinya, bergizi. Semua kandungannya, bermanfaat. Daging semua, jika pakai bahasa anak muda.
Titik Temu (2)
Natsir salah satu tokoh Islam yang diteladani Jazir. Dia bersyukur diberi Allah beberapa kesempatan berdiskusi dengan ”Bapak NKRI” itu. Sebuah foto menunjukkan suasana saat Jazir berbincang dengan Natsir (Manifesto Masjid Nabi, 2024: 51).
Setelah Orde Baru, masjid-masjid diwarnai dengan kemunculan gerakan Islam atau harakah. Sebelum itu, kalangan harakah sebenarnya sudah hadir bersama di masjid-masjid kampus. Dekade 1980-an Jazir sudah berinteraksi dengan mereka, bahkan tak sedikit di antaranya adalah yuniornya atau binaannya di pemuda masjid.
Kemunculan para aktivis gerakan Islam itu bermula dari program Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang didirikan oleh Muhammad Natsir. Tokoh yang disebut terakhir inilah yang mengirimkan jebolan pesantren-pesantren untuk kuliah di Arab Saudi dengan dibiayai oleh Rabithah ’Alam Islami. Natsir salah satu pendiri dan pemimpin di organisasi yang berkedudukan di Mekkah itu. Setelah para mahasiswa itu lulus dari Saudi mereka diberi amanah untuk berjuang di Dewan Da’wah. Jazir sendiri aktif di Dewan Da’wah Jogjakarta yang kala itu diketuai oleh AR Baswedan. Saat itu Jazir ditempatkan di bagian dakwah kampus dan dalam penempatan ini ada andil Natsir (2024: 44).
Natsir adalah figur yang Jazir kenal cukup dekat. Ketika menghadapi kebimbangan dalam mengambil keputusan di Dewan Da’wah, dia berkonsultasi dengan Natsir. Suatu ketika Jazir mendapat undangan melawat ke Iran untuk mengikuti peringatan Revolusi Islam di bawah Ayatolah Khomeini. Jazir diundang bersama KH R. Abdullah bin Nuh, Husein Al-Habsyi, dan Mudzakir. Saat itu Natsir, dengan sebuah alasan, memberi nasihat untuk tidak usah berangkat (2024: 44).
Ambil, Milikilah!
Berdakwah itu penuh warna. Termasuk, kemungkinan resiko ditahan oleh penguasa zalim. Jazir, karena dakwahnya, pernah ditahan rezim Orde Baru. Bagaimana dengan Isa Anshary dan Natsir?
Di masa Orde Lama, sebagian besar tokoh yang berseberangan dengan pemerintah dipenjarakan secara semena-mena tanpa proses hukum yang jelas. Di antara yang mengalami hal itu adalah tokoh-tokoh umat Islam dari Partai Masyumi. Sekadar menyebut, yang pernah ditahan adalah Isa Anshary dan Natsir (https://nuun.id/tasyakur-pembebasan-tapol-orde-lama).
Apapun, tokoh-tokoh seperti Jazir, Isa Anshary, dan Natsir telah bertemu di satu titik. Ketiganya adalah pendakwah ideal, berdasar pendapat Isa Anshary di bukunya yang berjudul Mujahid Da’wah. Bahwa, pendakwah akan ideal jika lisan dan tulisannya bisa berjalan serempak. Sementara, ketiga tokoh yang kita kaji ini memenuhi kriteria itu.
Alhasil, walau relatif pendek, telah kita ikuti perjalanan Jazir saat berinteraksi dengan setidaknya dua tokoh besar Masyumi yaitu Isa Anshary dan Natsir. Di dalamnya, tetap banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Misalnya, sangat bermanfaat jika sekiranya semua pendakwah punya dua kemampuan sekaligus yaitu mahir berceramah dan terampil menulis.[]
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
