Oleh Sigit Subiantoro, Wakil Ketua DDII Kediri
Dewandakwahjatim.com, Kediri – Ketika Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di Laut Merah, Fir’aun menyadari kesalahannya dan mengucapkan,
اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْۤ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْۤا اِسْرَآءِيْلَ وَ اَنَاۡ ….
…, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku…..””
(QS Yunus 10: 90)
Malaikat Jibril ‘Alaihis salam langsung mengambil lumpur hitam dari dasar laut dan menyumpal mulut Fir’aun agar ia tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid secara sempurna.
Jibril ‘Alaihis salam melakukan ini karena sangat membenci kekejaman Fir’aun dan khawatir Fir’aun akan mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tobatnya akan diterima hanya karena ucapan di detik-detik terakhir hidupnya, padahal ia telah berbuat kerusakan luar biasa.
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas, ketika itu Jibril berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Muhammad, seandainya engkau melihatku, kala itu aku mengambil tanah hitam dari dasar laut, lalu memasukkannya ke dalam mulut Fir’aun karena takut ia diliputi oleh rahmat.”
Ini menggambarkan betapa agungnya kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah, bahkan malaikat pun takut jika orang sekejam Fir’aun mengucapkannya di akhir hayatnya.
Kisah ini menjadi peringatan bahwa tobat di akhir hayat saat azab sudah datang tidak diterima, kecuali atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Barokallahu fikum
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
