Djuwari Syaifudin,
Wasek. Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai penyebutan dengan hal terpenting lalu yang penting lainnya karena beliau menyebutkan nasihat bagi Allah, lalu kitab-Nya, lalu rasul-Nya, lalu kepada imam kaum muslimin, lalu kepada kaum muslimin secara umum. Sedangkan kitab Allah didahulukan daripada Rasul, karena kitab itu langgeng, sedangkan Rasul telah tiada. Namun nasihat kepada keduanya saling terkait.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menasihati sesama muslim (selain ulil amri) berarti adalah menunjukan berbagai maslahat untuk mereka yaitu dalam urusan dunia dan akhirat mereka, tidak menyakiti mereka, mengajarkan perkara yang mereka tidak tahu, menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, menutupi aib mereka, menghilangkan mereka dari bahaya dan memberikan mereka manfaat serta melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2:35).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata bagaimanakah cara menasihati sesama muslim, maka beliau katakan hal itu sudah dijelaskan dalam hadits Anas, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Nasihat adalah engkau suka jika saudaramu memiliki apa yang kau miliki. Engkau bahagia sebagaimana engkau ingin yang lain pun bahagia. Engkau juga merasa sakit ketika mereka disakiti. Engkau bermuamalah (bersikap baik) dengan mereka sebagaimana engkau pun suka diperlakukan seperti itu.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:400)
Jangan biarkan hatimu dipenuhi benci kepada orang yang pernah melukaimu atau mengecewakanmu. Sebesar apa pun rasa sakit yang kamu rasakan, jangan sampai membuatmu berubah menjadi jahat.
Itu hanya akan menodai hatimu, hanya karena perlakuan buruk orang lain terhadapmu. Tetaplah jadi pribadi yang baik, terus belajar sabar, ikhlas, dan tidak menyimpan dendam.
Dan, jadilah manusia pemaaf, karena setiap perbuatan akan mendapatkan balasan, dan setiap kesabaran pasti berbuah ganjaran yang indah.
وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
… dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Ali Imron 234
Tak semua mata mau melihat kebaikanmu, dan tak semua telinga mau mendengar penjelasanmu. Bukan karena mereka tak paham, tapi karena mereka memilih untuk menutup diri.
Kita bisa menghabiskan tenaga untuk membuktikan siapa diri kita, tapi bagi hati yang sudah dipenuhi prasangka, apa pun yang kita lakukan akan tetap salah di mata mereka.
Kadang, diam adalah cara terbaik menjaga diri. Karena tak semua kebenaran butuh tepuk tangan, dan tak semua pembuktian layak dilakukan untuk orang yang tak mau mengerti.
Rasulullah Saw. bersabda : “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”(HR. Bukhari No. 6064 dan Muslim No. 2563).
Hadits di atas menegaskan bahwa buruk sangka adalah perbuatan dusta, bahkan ditegaskan dalam Al qur’an bahwa buruk sangka adalah perbuatan dosa. Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…”(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12). ?
Marilah Introspeksi diri sebagai proses refleksi dan analisis mendalam terhadap pikiran, emosi, sikap, dan tindakan sendiri untuk memahami diri secara lebih baik, mengenali kelemahan serta kelebihan, dan melakukan koreksi demi perbaikan diri menjadi pribadi yang lebih positif, lebih bahagia, dan lebih bertanggung jawab. Ini adalah evaluasi diri yang jujur untuk belajar dari masa lalu dan membentuk masa depan yang lebih baik, melibatkan kejujuran, evaluasi perilaku, dan memaafkan diri sendiri, serta berbeda dengan self-rumination
Wallahu a’lam bishowab
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
