Oleh Djuwari Syaifudin
Wasek. Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
عن عائشة رضي اللَّه عنها قالتْ : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الَّذِي يَقرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكرَامِ البررَةِ » متفقٌ عليه .
Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim
Dalam mengawali belajar Al Qur’an sengaja saya buka dengan hadits Aisya ra. Sebagai jalan pembuka yang cukup luas. Membuka Al Qur’an tidak cukup hanya membuka halaman perhalaman, namun banyak ilmu yang mesti harus dipelajari. Sebut saja ilmu nahwu, shorof, balaghoh, tajuwid dan masih banyak ilmu ilmu yang harus juga dibuka.
Semakin terbuka pemahaman terhadap Al-Qur’an, semakin besar pula tanggung jawab qalbu yang menyertainya. Upaya memahami wahyu tidak cukup berhenti pada pembacaan literal, tetapi menuntut kerja serius dan kerja genius “baik dari upaya eksternal manusia maupun dari struktur internal” Al-Qur’an itu sendiri.
Dari sisi eksternal, pengkajian ulang i‘rab dan tata bahasa merupakan ikhtiar manusia untuk menata kembali pemilihan kata dan diksi, agar sedekat mungkin dengan maksud ayat sebagaimana ingin disampaikan oleh Al-Qur’an. I‘rab ulang bukan untuk mengungguli wahyu, melainkan untuk mengurangi bias budaya, tradisi, dan kepentingan yang kerap menyusup dalam tafsir verbal.
Namun ikhtiar manusia semata tidak pernah cukup. Karena itu Al-Qur’an menyediakan mekanisme internal. berupa ayātin bayyināt by design, salah satunya melalui pola numerik. Struktur numerik. ” seperti kodifikasi 19″ berfungsi sebagai pagar objektif, penanda bahwa teks ini dibangun dengan ketepatan sistem, bukan sekadar rangkaian kata yang bisa ditarik sesuka selera penafsir.
Akan tetapi, keterbukaan pemahaman. “baik melalui i‘rab ulang maupun pembacaan numerik” menyimpan risiko laten: kesombongan epistemik. Di sinilah ta‘āwudz menjadi keniscayaan metodologis, bukan sekadar ritual lisan. Berlindung kepada Allah dari godaan setan berarti berlindung dari bisikan paling halus: ana khoiru minhu. merasa lebih benar, lebih paham, dan lebih suci karena merasa memegang “kunci wahyu”.
Sejarah memberikan pelajaran pahit. Ibnu Muljam “memahami teks” , tetapi gagal menjaga kesadaran. Demikian pula Rashad Khalifa: pembacaan numerik yang pada awalnya bersifat verifikatif tergelincir menjadi klaim otoritas personal. Keduanya jatuh ke dalam ekstremisme tekstual memutlakkan pemahaman, mengerdilkan kerendahan hati, dan memisahkan ilmu dari kesadaran ruhani.
Al-Qur’an sendiri telah menyindir fenomena ini:
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, tetapi sebagian dari mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah 2:146)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengetahui wahyu tidak identik dengan memiliki kesadaran. Pengetahuan bisa tajam, tetapi hati tetap tertutup. Struktur bisa dipahami, tetapi jiwa tidak tunduk.
Karena itu, pemahaman Al-Qur’an yang sehat adalah perpaduan tiga hal:
- Ketelitian ilmiah, agar objektivitas struktur, dan kerendahan hati spiritual.
- I‘rab dan numerik membantu membaca dan memverifikasi, dan
- Ta‘āwudz menjaga agar ilmu tidak berubah menjadi senjata ego.
Pada akhirnya, wahyu tidak diturunkan untuk melahirkan orang yang merasa paling benar, melainkan manusia yang paling siap diatur. Dan hanya dengan kesadaran itulah
Al-Qur’an benar² berfungsi sebagai “Hudā” bukan sekadar teks yang dipahami, tetapi cahaya yang menuntun. Inilah nafkah Qur’ani. Nafkah yang menghidupkan sistem, bukan sekadar menghidupi tubuh.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar; mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi” (QS Al-A‘rāf: 179).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
