Mengantar Anak Kembali ke Sekolah dengan Bekal Adab dan Akhlak.

Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Setelah menikmati liburan semester yang menyenangkan, para siswa kembali berkumpul dengan teman-teman dan guru tercinta mereka.

Ini, sebagian diwarnai dengan senyum lebar dan pelukan hangat antarsiswa yang sudah lama tidak bertemu. Para guru menyambut kedatangan murid-murid dengan penuh kehangatan di gerbang sekolah. “Alhamdulillah, anak-anak terlihat sangat bersemangat untuk kembali bersekolah,” ujar seorang Kepala sekolah. Demikian harapan orang tua, guru dan murid serta masyarakat usai liburan sekolah.

Persoalan Psikologis

Liburan sekolah telah usai. Anak-anak kembali mengenakan seragam, memanggul tas, dan melangkah ke ruang-ruang kelas. Namun pertanyaannya, apakah yang kita siapkan hanya buku dan alat tulis, atau juga bekal nilai dan karakter? Ada persoalan psikologis, emosional, dan karakter yang sering luput dari perhatian, padahal sangat menentukan keberhasilan anak di sekolah. Hal ini, karena sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu tetapi ruang penting bagi pembentukan akhlak dan kepribadian generasi penerus.

Dalam konteks Indonesia, masa transisi pascaliburan sering kali menjadi tantangan. Banyak orang tua masih fokus pada nilai rapor, peringkat kelas, dan prestasi kognitif, sementara kesiapan psikologis anak kurang mendapat perhatian. Padahal, berbagai temuan psikologi pendidikan menegaskan bahwa fase transisi—termasuk dari liburan ke sekolah—berpotensi memicu stres, kecemasan, dan penurunan motivasi belajar jika tidak didampingi dengan baik.

Kementerian Pendidikan sendiri berulang kali menekankan pentingnya well-being peserta didik. Kasus perundungan, kelelahan mental, hingga anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang kerap muncul di ruang publik menunjukkan bahwa sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat belajar ilmu, tetapi juga ruang aman bagi tumbuhnya kesehatan mental dan akhlak.

Bekal Buat Anak

Momentum kembali ke sekolah sejatinya adalah saat yang tepat bagi orang tua dan masyarakat untuk melakukan reset pendidikan. Berbagai riset psikologi pendidikan menunjukkan bahwa masa transisi dari liburan ke sekolah merupakan fase krusial. Liburan panjang sering kali membuat ritme anak berubah: waktu tidur tidak teratur, penggunaan gawai meningkat, dan kedisiplinan menurun. Oleh karena itu, bekal anak kembali ke sekolah harus dipahami secara lebih utuh, mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Pertama, bekal niat dan kesadaran belajar sebagai ibadah. Dalam Islam, menuntut ilmu bukan aktivitas duniawi semata, melainkan jalan menuju kemuliaan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim).

Anak perlu dibantu memahami bahwa belajar adalah bagian dari pengabdian kepada Allah, bukan sekadar tuntutan orang tua atau sekolah. Niat yang benar akan melahirkan semangat dan kejujuran dalam belajar.

Kedua, bekal adab dan akhlak. Di tengah kegelisahan publik terhadap krisis etika di dunia pendidikan—mulai dari perundungan, ketidakjujuran, hingga rendahnya rasa hormat—penguatan adab menjadi kebutuhan mendesak. Anak perlu diingatkan kembali tentang adab kepada guru, teman, dan lingkungan sekolah. Imam Malik pernah menasihati, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Pernyataan ini relevan hingga hari ini: ilmu tanpa adab akan kehilangan arah dan keberkahannya.

Ketiga, bekal mental dan emosional. Tidak semua anak kembali ke sekolah dengan perasaan gembira. Sebagian mengalami kecemasan, tekanan akademik, atau persoalan relasi sosial. Di sinilah peran orang tua sangat penting: mendengarkan cerita anak, menguatkan rasa percaya diri, dan tidak membebani dengan tuntutan berlebihan. Anak yang sehat secara emosional akan lebih siap menyerap pelajaran dan berinteraksi secara positif.

Keempat, bekal disiplin dan kebiasaan baik. Kembali ke sekolah berarti kembali pada keteraturan. Pola tidur, waktu belajar, dan penggunaan gawai perlu ditata ulang. Disiplin bukan sekadar soal kepatuhan, tetapi latihan tanggung jawab. Kebiasaan kecil yang konsisten—seperti datang tepat waktu dan menyelesaikan tugas—akan membentuk karakter tangguh di masa depan.

Kelima, bekal literasi digital beretika. Dunia sekolah hari ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi. Namun tanpa pendampingan, gawai justru berpotensi merusak fokus dan karakter anak. Orang tua perlu menanamkan nilai tanggung jawab dalam penggunaan teknologi, sebagaimana sabda Nabi, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban” (HR Bukhari dan Muslim).

Mengantar anak kembali ke sekolah sejatinya adalah ikhtiar membangun masa depan umat dan bangsa. Sekolah bukan pabrik nilai, tetapi ladang pembentukan manusia beriman, berilmu, dan berakhlak. Jika keluarga lalai, sekolah akan berat. Jika sekolah berjalan sendiri, hasilnya timpang.
Sudah saatnya pendidikan kita kembali pada ruhnya: Memanusiakan manusia. Dari ruang kelas hari ini, bisa lahir calon pemimpin, pendidik, dan penjaga peradaban esok hari. Maka jangan lepaskan anak-anak kita kembali ke sekolah tanpa bekal iman, adab, dan kasih sayang.

Doa Orang Tua

Pada akhirnya, bekal terpenting anak kembali ke sekolah adalah kehadiran dan doa orang tua. Pendidikan bukan hanya urusan institusi sekolah, tetapi kerja bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan bekal niat, adab, disiplin, dan iman, sekolah akan kembali menjadi tempat tumbuhnya ilmu yang mencerahkan dan akhlak yang memuliakan.
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa” (QS Al-Furqan: 74). Wallahu a’lam.

(Rewwin, 1 Januari 2026)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *