Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua Bidang MPK DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Allah Maha Pemaaf bagi hamba-Nya yang berbuat dosa, namun Allah juga memiliki amarah. Amarah terbesar Allah ketika diri-Nya disekutukan oleh hamba-Nya. Kemarahan Allah sangat wajar karena sebagai makhluk yang lemah dan butuh pertolongan-Nya, namun justru mengakui kekuatan lain selain-Nya. Fir’aun saja bisa marah dengan kemarahan besar. kemarahan itu terjadi ketika Nabi Musa yang menyeru menyembah hanya kepada Allah, bukan kepada dirinya. Kemarahan Fir’aun terucap bahwa dia sendiri yang akan membunuh Nabi Musa dengan tangannya sendiri. Sebagai hamba, maka kita pantas untuk mengenali Allah dan menghindari dari kemarahan-Nya.
Kemarahan Fir’aun
Kemurkaan Allah bukan sesuatu yang mustahil. Hal ini disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak mengagungkan-Nya. Sementara keagungan Allah sangat jelas. Penciptaan langit dan bumi, penyediaan fasilitas kehidupan baik berupa air, udara serta gunung, laut, pohon, sungai dan lainnya. Bahkan Allah memberi rizki kepada manusia dan seluruh kehidupan makhluk-Nya. Namun tidak sedikit manusia mengagungkan selain Allah. Disinilah pantas apabila Allah murka dengan memberi musibah dan bencana.
Kemarahan Allah bisa diilustrasikan dengan Fir’aun yang marah dengan kemarahan yang amat besar. Kemarahan itu ditunjukkan ketika Nabi Musa datang untuk mendakwahkan agar menyembah hanya kepada Allah. Fir’aun pun marah karena dakwah Nabi Musa berpotensi besr untuk mengalihkan manusia dari penyembahan kepada dirinya. Bahkan kemarahan besar Fir’aun ditunjukkan dengan keinginan untuk membunuh Nabi Musa dengan tangannya sendiri. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَقَا لَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِيْۤ اَقْتُلْ مُوْسٰى وَلْيَدْعُ رَبَّهٗ ۚ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اَنْ يُّبَدِّلَ دِيْنَكُمْ اَوْ اَنْ يُّظْهِرَ فِى الْاَ رْضِ الْفَسَا دَ
Artinya :
“Dan Fir’aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (QS. Ghafir : 26)
Kemarahan Fir’aun menandakan adanya ketersinggungan karena adanya seorang yang akan mengubah agama yang selama ini dipeliharanya. Agama ini telah terpelihara dengan baik, yang menyembah dirinya. Fir’aun sebagaimana diketahui banyak memiliki keterbatasan, namun marah besar ketika ada rakyatnya yang akan menolak penyembahan kepada dirinya. oleh karenanya, pantas apabila Allah murka ketika ada hamba yang mencari tuhan lain.
Sebagai pengawal agama yang menyembah dirinya, Fir’aun menjadikan dirinya sebagai sumber petunjuk. Dia mengklaim dirinya bisa menunjukkan jalan, yang akan memberikan petunjuk terbaik. Seluruh perkataan dan perbuatannya dianggap baik, dan pantas untuk diikuti. Oleh karenanya, dia mengklaim dirinya sebagai sumber petunjuk dan semuanya benar. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firma-Nya :
يٰقَوْمِ لَـكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظٰهِرِيْنَ فِى الْاَ رْضِ ۖ فَمَنْ يَّنْصُرُنَا مِنْۢ بَأْسِ اللّٰهِ اِنْ جَآءَنَا ۗ قَا لَ فِرْعَوْنُ مَاۤ اُرِيْكُمْ اِلَّا مَاۤ اَرٰى وَمَاۤ اَهْدِيْكُمْ اِلَّا سَبِيْلَ الرَّشَا دِ
Artinya :
“Wahai kaumku! Pada hari ini kerajaan ada padamu dengan berkuasa di bumi, tetapi siapa yang akan menolong kita dari azab Allah jika (azab itu) menimpa kita?” Fir’aun berkata, “Aku hanya mengemukakan kepadamu apa yang aku pandang baik; dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (QS. Ghafir : 29)
Murka Allah
Sebagai Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa dalam menghidupkan dan mematikan seluruh mahhluk-Nya, pantas untuk murka ketika ada hamba yang lemah justru mengagungkan makhluk dan menutup mata atas kebesaran Allah. disini Allah pantas apabila Allah menunjukkan kemurkaan-Nya.
Kemurkaan Allah semakin memuncak ketika hamba yang lemah dan telah menerima semua fasilitas kehidupan, justru melupakan-Nya. Bukannya menyembah Allah, manusia justru menyembah gunung, mengagungkan pohon, menundukkan diri serta meminta rejeki kepada makhluk-makhluk-Nya. Disinilah Allah pantas membenci dan murka, sebagaimana dibarasikan Al-Qur’an sebagai berikut :
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنَا دَوْنَ لَمَقْتُ اللّٰهِ اَكْبَرُ مِنْ مَّقْتِكُمْ اَنْفُسَكُمْ اِذْ تُدْعَوْنَ اِلَى الْاِ يْمَا نِ فَتَكْفُرُوْنَ
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, kepada mereka (pada hari Kiamat) diserukan, “Sungguh, kebencian Allah (kepadamu) jauh lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri, ketika kamu diseru untuk beriman lalu kamu mengingkarinya.” (QS. Ghafir : 10)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah sangat marah ketika manusia diseru menyembah hanya kepada Allah tetapi justru membangkang. Kemarahan Allah jauh lebih dahsyat sebagimana kemarahan manusia ketika diseru oleh para rasul untuk mengagungkan dan menyembah hanya kepada Allah.
Bentuk kemarahan Allah kepada manusia yang melakukan penyembahan kepada selain diri-Nya, ditunjukkan dengan menghukum manusia terlaknat, Fir’aun. Dikatakan terlaknat karena mengaku dirinya Tuhan dan memaksa rakyatnya menyembah dirinya. Kemurkaan Allah itu ditunjukkan dengan memperlihatkan neraka pada pagi dan petang, sebagaimana firman-Nya :
اَلنَّا رُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚ وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّا عَةُ ۗ اَدْخِلُوْۤا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَا بِ
Artinya :
“Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!” (QS. Ghafir : 46)
Sebagai Tuhan Maha segalanya, sangat wajar apabila menunjukkan amarah karena hamba-Nya seolah buta mata dan buta hatinya atas berbagai kebesaran-Nya. Fir’aun yang memiliki kekuasaan dan berbagai sumber daya saja bisa marah ketika Nabi Musa datang untuk menasehati dirinya agar takut hanya kepada Allah. bahkan Fir’aun ngin membunuh dengan tangannya sendiri. Demikian juga Allah, sangat pantas murka dengan menurunkan musibah dan ancaman ketika diri-Nya disekutukan.
Surabaya, 2 Januari 2026
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
