Refleksi Epistemologi Qur’ani untuk Arah Dakwah Umat
Oleh: Cak Muhid
Penulis Geprek Series (4 Judul) dan Seri Epistemologi Qur’ani (5 Judul)
Dewandakwahjatim com, Surabaya – Pergantian tahun dari 2025 ke 2026 bukan sekadar momentum administratif pergantian angka kalender. Bagi gerakan dakwah, ia adalah momen evaluasi arah: sejauh mana dakwah telah berfungsi sebagai pemandu kesadaran umat, bukan sekadar respons terhadap dinamika zaman.
Dalam perspektif epistemologi Qur’ani, waktu adalah ayat. Ia tidak hanya berlalu, tetapi berbicara—menyingkap kualitas iman, kejernihan akal, dan ketepatan orientasi perjuangan. Karena itu, pergantian tahun layak dibaca sebagai muhasabah dakwah, bukan sekadar resolusi organisasi.
Dakwah dan Krisis Epistemologi Umat
Problem mendasar umat hari ini bukan semata kemerosotan moral atau lemahnya komitmen ritual, melainkan kekeliruan cara mengetahui. Banyak kaum Muslimin hidup dalam limpahan informasi keagamaan, tetapi miskin pemahaman yang menumbuhkan hikmah. Pengetahuan hadir tanpa membentuk worldview; semangat beragama tumbuh tanpa fondasi epistemologis yang kokoh.
Al-Qur’an sejak wahyu pertamanya menegaskan bahwa dakwah dimulai dari pembenahan cara baca manusia terhadap realitas. Iqra’ adalah mandat epistemologis: membaca alam, sejarah, diri, dan zaman dengan kesadaran tauhid. Tanpa fondasi ini, dakwah berisiko tereduksi menjadi slogan, reaksi emosional, atau sekadar pembelaan identitas.
Dari Aktivisme ke Orientasi Tauhidik
Pergantian tahun sering melahirkan target-target programatik. Namun epistemologi Qur’ani mengingatkan: program tanpa orientasi tauhidik hanya melahirkan kelelahan struktural. Dakwah tidak diukur dari kepadatan agenda, tetapi dari ketepatan arah.
Al-Qur’an tidak menjanjikan jalan dakwah yang mudah. Ia menjanjikan jalan yang lurus. Dalam konteks ini, keberhasilan dakwah bukan pertama-tama diukur dari respons publik, tetapi dari kesetiaan terhadap kebenaran. Sebab arah lebih menentukan daripada kecepatan, dan keteguhan lebih bernilai daripada popularitas.
Muhasabah Dakwah sebagai Metode Ilmiah
Menutup 2025 dan menyongsong 2026, dakwah perlu melakukan audit epistemologis:
Apakah dakwah kita membentuk cara berpikir umat, atau hanya menggerakkan emosi sesaat?
Apakah ilmu yang disampaikan menumbuhkan adab dan ketundukan kepada Allah, atau sekadar memperluas wacana?
Apakah dakwah kita melahirkan manusia yang utuh—beriman, berakal, dan berakhlak—atau hanya terfragmentasi dalam isu-isu parsial?
Dalam tradisi Qur’ani, muhasabah bukan aktivitas sentimental, melainkan metode koreksi ilmiah. Ia menguji asumsi, meluruskan niat, dan mengembalikan dakwah kepada poros tauhid.
Menyambut 2026: Dakwah sebagai Penjernih Kesadaran
Tahun 2026 tidak membutuhkan dakwah yang lebih keras, tetapi lebih jernih. Dakwah yang menenangkan akal, meneguhkan iman, dan memulihkan orientasi hidup umat. Dakwah yang tidak terjebak pada kebisingan zaman, tetapi mampu membaca zaman dengan cahaya wahyu.
Jika dakwah berjalan di atas epistemologi Qur’ani—akal yang beradab, iman yang sadar, dan visi yang tauhidik—maka apa pun tantangan yang hadir tidak akan melemahkan arah. Sebab dakwah yang benar tidak hidup dari tepuk tangan manusia, melainkan dari ridha Allah.
Selamat memasuki 2026.
Semoga dakwah kita tidak sekadar bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi mampu menjadi penunjuk arah bagi umat yang sedang mencari jalan pulang.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
