Ketika Dunia Pintar tapi Kehilangan Arah

Krisis Epistemologi Manusia Modern dan Ikhtiar Kembali kepada Metodologi Qur’ani

Oleh Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid), Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya — Dunia hari ini tidak sedang kekurangan pengetahuan. Justru sebaliknya, manusia hidup di tengah limpahan informasi, data, dan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun di saat yang sama, manusia justru semakin bingung: bingung tentang makna hidup, bingung tentang benar dan salah, bingung tentang arah, bahkan bingung tentang tujuan keberadaannya sendiri.

Semakin banyak manusia tahu, semakin rapuh jiwanya.

Paradoks ini menunjukkan bahwa persoalan utama manusia modern bukan terletak pada kekurangan ilmu, melainkan pada cara mengetahui. Kita hidup di zaman ketika manusia mampu membaca hampir segala hal—pasar, algoritma, tubuh, bahkan semesta—namun gagal membaca makna hidupnya sendiri. Di sinilah letak persoalan mendasarnya: krisis manusia modern adalah krisis epistemologi.

Epistemologi sering dipahami sebagai wilayah filsafat abstrak yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal epistemologi menentukan hal paling praktis dalam hidup manusia: dengan kacamata apa ia memandang realitas. Kesalahan terbesar manusia bukan karena ia tidak tahu, melainkan karena ia melihat realitas dengan kacamata yang keliru.

Akibatnya, hidup dibaca secara terbalik. Kekayaan dijadikan ukuran nilai diri. Kesuksesan diukur dengan angka dan pengakuan. Kesehatan dianggap tanda mutlak ridha Tuhan, sementara sakit dibaca sebagai kegagalan iman. Bahkan agama direduksi menjadi alat untuk mencapai hasil-hasil duniawi. Manusia membaca hidup, tetapi salah membaca.

Di titik inilah Al-Qur’an menghadirkan koreksi paling mendasar—namun sering luput disadari.

Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad tidak berbicara tentang hukum, ritual, atau sistem sosial. Ia tidak dimulai dengan perintah shalat atau larangan-larangan. Wahyu pertama justru dimulai dengan satu kata yang sederhana, tetapi sangat strategis:

Iqra’.

Bacalah.

Namun Iqra’ bukan sekadar perintah membaca teks atau huruf. Ia adalah perintah epistemologis—perintah untuk membangun cara melihat realitas. Dan perintah itu langsung diikat dengan orientasi yang tegas: bismi rabbik—dengan kesadaran bahwa segala yang dibaca berakar pada Tuhan, bukan pada ego manusia.

Ini menunjukkan satu prinsip penting: dalam logika wahyu, epistemologi mendahului etika dan hukum. Sebelum manusia diperintah berbuat, ia terlebih dahulu harus diluruskan cara memandang.

Masalahnya, manusia modern tetap membaca, tetapi tidak lagi dengan kacamata Iqra’. Ia membaca data tanpa makna, pengalaman tanpa orientasi, dan realitas tanpa kesadaran ketuhanan. Akal dijadikan pusat kebenaran, pengalaman dijadikan hakim mutlak, dan manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai standar segalanya.

Ketika itu terjadi, pengetahuan tidak lagi melahirkan ketundukan, melainkan kesombongan. Manusia tahu banyak hal, tetapi tidak tahu harus tunduk kepada apa. Ia paham, tetapi tidak berubah. Ia cerdas, tetapi kehilangan arah.

Dari keresahan inilah Seri Epistemologi Qur’ani lahir. Seri ini bukan sekadar refleksi filosofis, apalagi jargon religius, tetapi sebuah ikhtiar metodologis untuk mengembalikan epistemologi Qur’ani ke posisi asalnya: sebagai kerangka membentuk cara mengetahui, cara membaca ayat, dan cara memandang hidup.

Seri ini mengangkat Iqra’ sebagai kacamata epistemologis utama—bukan hanya titik awal sejarah, tetapi kerangka melihat realitas. Dari kacamata inilah ayat-ayat kehidupan dibaca dengan tauhid sebagai bingkai, sehingga Al-Qur’an tidak dipahami sebagai mesin pemenuh ambisi dunia, melainkan sebagai pembentuk orientasi hidup. Dari sana lahir worldview wahyu, yakni cara pandang yang menempatkan kaya–miskin, sehat–sakit, sukses–gagal sebagai bagian dari ujian makna, bukan ukuran nilai diri.

Seri Epistemologi Qur’ani juga berusaha menunjukkan bahwa penyimpangan sejarah, ideologi, dan praktik keberagamaan bukan lahir karena kurangnya wahyu, melainkan karena rusaknya metodologi epistemologis dalam membaca wahyu. Ketika kacamata diganti, kebenaran tetap ada, tetapi dibaca secara keliru.

Dan pada akhirnya, epistemologi mencapai batasnya. Dalam pandangan Al-Qur’an, puncak pengetahuan bukanlah penguasaan argumen, melainkan respons jiwa di hadapan kebenaran—apakah tunduk atau berpaling. Karena Al-Qur’an tidak memuliakan orang yang sekadar tahu, tetapi orang yang tunduk setelah tahu.

Mungkin masalah terbesar manusia hari ini bukan kurang literasi, melainkan salah membaca realitas. Dan mungkin, solusi terdalamnya bukan menambah teori, tetapi kembali kepada metodologi epistemologi Qur’ani yang dibuka oleh wahyu pertama.

Iqra’.

Bacalah—dengan kesadaran, dengan kerendahan, dan dengan kesiapan untuk tunduk pada kebenaran. Karena tanpa itu, pengetahuan hanya akan membuat manusia semakin jauh dari makna hidupnya sendiri.

Admin: Komunfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *