Jembatan Antargenerasi dalam Membaca Sejarah Orde Baru: Kisah Dr. Adian Husaini dari Wartawan Istana hingga Penulis Buku Kontroversial

Perdebatan tentang sosok Presiden kedua RI, Soeharto, dan rezim Orde Baru yang dipimpinnya tak pernah usai. Di era digital, komentar di media sosial didominasi oleh generasi yang tidak mengalami langsung masa itu, sering kali tanpa pemahaman konteks sejarah yang memadai.

Dewandakwahjatim.id, Jakarta– Menurut Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), faktor utama ramainya perbincangan ini adalah kegagalan Reformasi, yang bahkan diklaim oleh sebagian pihak—seperti yang pernah disinggung oleh Mahfud MD—kini menghadapi masalah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang lebih parah dari era Soeharto.

Namun, menilik sejarah harus dilakukan dengan menempatkannya dalam konteks zamannya. Dr. Adian mengutip kesimpulan seorang tokoh yang diwawancarainya, Hartono Marjono, yang menyebutkan bahwa Soeharto pada akhirnya dikhianati oleh orang-orang yang ia percayai. Untuk menjembatani jurang pemahaman sejarah ini, Dr. Adian Husaini mengadakan perbincangan dengan Hadi Nur Ramadan, seorang sejarawan, dokumentator, dan Kepala Perpustakaan DDII, yang secara umur mewakili generasi yang lebih muda, baru berusia 11 tahun saat Reformasi 1998.

Dr. Adian: Jembatan Antargenerasi

Bagi Hadi Nur Ramadan, Dr. Adian Husaini adalah “jembatan antar generasi.” Hadi sendiri adalah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, sebuah pilihan pendidikan yang terinspirasi oleh seminar Dr. Adian di Dewan Dakwah saat ia masih menjadi santri mualimin (setingkat SMA) di Pesantren Persis Bogor. Keputusannya belajar di STID bukan sekadar mencari ilmu dakwah atau syariah, tetapi juga untuk mempelajari sanad perjuangan tokoh-tokoh Islam.

Hadi menyoroti adanya missing link atau keterputusan sejarah di kalangan anak muda saat ini. Ia mengamati, banyak yang melihat Orde Baru hanya melalui “kacamata sejarah kiri,” yang cenderung menolak total segala hal yang berbau Orde Baru. Padahal, ia mengingatkan, tidak sedikit kebijakan Orde Baru yang justru memiliki peran penting dalam pembangunan dakwah Islam di Indonesia.

Masa Remaja yang Rigor dan Jalan Menjadi Wartawan

Dr. Adian Husaini, yang kini berusia hampir 60 tahun, membagikan kisah masa mudanya yang penuh perjuangan. Ia adalah seorang santri sekaligus siswa SMA Negeri. Praktis, ia menjalani kehidupan “pagi, sore, siang, malam” dengan kegiatan. Pagi ia mengaji di Pesantren Riyadus Sholihin, dilanjutkan ke sekolah SMA. Siang kembali mengaji kitab Fathul Mu’in, dan malam dengan tahsin serta ngaji lagi, meninggalkan waktu belajar pelajaran SMA hanya pada pukul 12 malam.

Latar belakang keluarganya juga membentuk karakternya. Ayahnya adalah seorang guru SD dan aktivis Muhammadiyah yang berlangganan majalah seperti Panji Masyarakat dan Al-Muslimun. Ibunya adalah seorang penjahit dan pedagang. Dr. Adian kecil akrab dengan pasar dan bahkan menguasai keterampilan menjahit, sanggup menerima jahitan dan menjahit celana serta bajunya sendiri saat masih kelas 3 SMP.

Jalan hidupnya kemudian berubah ke dunia jurnalistik. Pria lulusan IPB ini—yang saat lulus masih berbobot 49 kg dan dikenal sebagai aktivis Masjid Al-Ghifari IPB—diajak oleh Mas Zaim Uchrowi untuk bergabung dengan koran baru, Berita Buana. Dari situ, kariernya menanjak hingga menjadi wartawan istana pada tahun 1990 di usia 28 tahun. Profesi ini memberinya perspektif “jauh dari dekat” dalam melihat pusat kekuasaan.

Di Balik Dua Buku Kontroversial

Pengalaman dan perspektifnya sebagai wartawan istana dan aktivis masjid melahirkan dua buku penting: Habibi Soeharto dan Islam (1995) dan Soeharto (1998). Kedua buku ini, terutama yang pertama yang dicetak hingga empat kali, menjadi perbincangan hangat dan dibedah di berbagai kampus saat itu.

Latar belakang penulisan buku ini sangat politis. Sebagai seorang aktivis, Dr. Adian merasakan betul betapa represifnya Orde Baru pada masanya. Ia ingat betapa sulitnya mengadakan kegiatan, diawasi oleh aparat, dan harus berinteraksi dengan tokoh-tokoh Islam oposisi seperti K.H. E.Z. Muttaqien, Kiai Saleh Iskandar, dan Hardi Arifin.

Namun, memasuki akhir 1980-an, muncul “angin segar” perubahan. Pemerintahan Orde Baru mulai menunjukkan pergeseran ke arah Islam, yang ditandai dengan pengesahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Puncaknya, Soeharto bahkan mendukung pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Fenomena ini menjadi topik utama buku pertamanya. Dr. Adian mengaku menulis buku tentang Habibie (yang saat itu menjadi tokoh sentral ICMI) bukan karena proyek, melainkan karena dorongan batin untuk menanggapi narasi kebencian terhadap Habibie semata-mata karena keislamannya.

Pelajaran Sejarah dan Persatuan

Perjalanan Dr. Adian mencerminkan bagaimana dinamika kekuasaan dan politik Islam pada masa Orde Baru sangat kompleks. Ia juga menyinggung kegagalan teori ekonomi ‘trickle-down effect’ yang diterapkan Orde Baru—teori yang menyarankan agar kue ekonomi dibesarkan terlebih dahulu sebelum dibagi, tetapi pada akhirnya gagal karena “yang gede enggak mau bagi,” sehingga jurang antara yang kaya dan miskin semakin lebar.

Pelajaran terbesar dari sejarah, menurut Dr. Adian, adalah pentingnya persatuan. Ia berpesan kepada generasi muda untuk belajar dari tokoh-tokoh pendahulu bangsa, seperti Mohammad Natsir, Bung Karno, dan Bung Hatta, yang meskipun berbeda pandangan ideologi dan politik, tetap mampu berdebat keras dan berjuang bersama untuk merumuskan masa depan bangsa, bahkan mewujudkan berdirinya universitas pertama milik Indonesia.

Sejarah, dengan segala kontroversinya, harus dilihat secara utuh. Bukan untuk saling membenci, melainkan untuk mengambil hikmah dan pelajaran demi perjuangan di masa kini dan masa depan.

Video selengkapnya: https://youtu.be/Izqhpp_mpbY?si=SxzuwIkri-9KvDJw

Sumber: adianhusaini.id

Admin: Kominfo DDII Jatim

Edittor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *