Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam menghadapi berbagai musibah yang menimpa umat, seorang Muslim memiliki landasan pandangan dunia (worldview) yang fundamental berbeda dengan pandangan sekuler.
adianhusaini.id, Jakarta– Jika pandangan sekuler cenderung melihat realitas secara parsial, hanya berdasarkan yang tampak di permukaan, pandangan Islam melihat musibah sebagai kehendak Allah SWT, yang menuntut ketabahan dan keyakinan spiritual. Dalam konteks inilah, Dr. Adian Husaini menyoroti sebuah musibah yang lebih krusial dan mendalam, yang disebutnya sebagai Bencana Santri.
Bencana ini, menurut beliau, bukanlah bencana fisik yang kasat mata seperti banjir atau gempa, melainkan bencana yang menyerang fondasi spiritual, yakni bencana pemikiran dan bencana akidah.
Ancaman SEPILIS: Bencana Akidah yang Menghantui
Dr. Adian Husaini menegaskan bahwa ancaman terbesar yang kini mengintai para santri dan lulusan pesantren adalah gelombang Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (disingkat SEPILIS). Ia mencontohkan kisah seorang pemuda yang pernah belajar di pesantren, namun ketika memasuki lingkungan kampus, ia mulai meninggalkan praktik agamanya, seperti salat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademik atau hafalan agama tidak cukup menjadi benteng. Bencana sebenarnya terjadi ketika seorang lulusan pesantren, yang diharapkan menjadi agen perubahan, justru mengalami disorientasi akidah dan kehilangan identitas keislamannya saat berhadapan dengan lingkungan sekuler, baik di kampus, dunia kerja, atau kehidupan publik.”
“Peringatan keras ini didasarkan pada kekhawatiran bahwa banyak alumni pesantren yang cerdas secara ilmu, tetapi lemah dalam pondasi akidah dan akhlak, sehingga menjadi rentan untuk menjadi munafiq dalam tindakan—mengimani kebenaran Islam, tetapi perilakunya tidak mencerminkan keimanan tersebut.
“Mereka cerdas, hafal Qur’an, hafal hadis, tetapi begitu masuk ke lingkungan yang sekuler, dia bingung. Dia tidak kuat, dan akhirnya dia terbawa arus.”
Akar Masalah: Pergeseran dari Ta’dib ke Ta’lim
Menurut Dr. Adian Husaini, pangkal dari ‘Bencana Santri’ ini adalah adanya pergeseran dalam konsep pendidikan Islam itu sendiri. Selama ini, institusi pendidikan sering kali lebih fokus pada aspek ta’lim (pengajaran ilmu pengetahuan) atau tarbiyah (pembinaan dan pelatihan), dan melupakan inti utama dari pendidikan Islam yang sesungguhnya: Ta’dib.
Ta’dib didefinisikan sebagai penanaman adab (akhlak, moralitas) sebelum menanamkan ilmu (pengetahuan). Konsep ini sejalan dengan ajaran para ulama terdahulu yang menekankan bahwa adab harus didahulukan.
Tujuan sejati dari pesantren dan pendidikan Islam adalah melahirkan Insan Kamil (manusia sempurna), yaitu manusia yang mengenal dirinya, Tuhannya, dan tujuan hidupnya yang hakiki, yaitu mengabdi kepada Allah. Lulusan pesantren tidak seharusnya hanya menghasilkan sosok yang ‘pintar’ dalam arti akademis, tetapi juga harus memiliki keimanan yang kokoh dan adab yang mulia. Jika fokus hanya pada mengejar ijazah, kedudukan, atau kekayaan duniawi, maka niat (niyyah) dalam menuntut ilmu telah bergeser, dan itulah awal dari kehancuran spiritual.
Solusi dan Seruan untuk Kembali ke Khittah
Untuk membendung ‘Bencana Santri’ ini, Dr. Adian Husaini menyerukan sebuah revitalisasi di dalam pendidikan Islam:
- Prioritaskan Akidah dan Adab: Kurikulum pesantren harus kembali menempatkan pengokohan akidah sebagai mata pelajaran terpenting. Adab bukan sekadar etika, tetapi cerminan iman yang menjadi benteng pertahanan dari serangan ideologi yang merusak.
- Tujuan Mulia Menuntut Ilmu: Para santri harus ditanamkan bahwa tujuan menuntut ilmu adalah karena Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, gelar, atau status sosial. Ilmu harus membawa pada pengabdian kepada Tuhan.
- Memperkuat Ukhuwah dan Doa Bersama: Dalam menghadapi tantangan zaman, umat Islam harus memperkuat solidaritas dan saling mendoakan. Setiap Muslim, sekecil apa pun perannya, harus ikut berbagi dan menolong saudaranya yang tertimpa musibah.
- Muhasabah Diri: Para santri, alumni, dan umat Islam secara umum didorong untuk senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi/refleksi diri) tentang kualitas iman dan adab yang telah dimiliki, serta apakah niat dalam segala aktivitas telah lurus karena Allah.
Penekanannya adalah bahwa”
[25/12 19:35] sudonosyueb: “Penekanannya adalah bahwa tugas para ulama, pemimpin, dan orang tua adalah membimbing generasi muda untuk memahami hakikat ilmu dan kehidupan. Dengan kembali kepada konsep Ta’dib, di mana adab mendahului ilmu, diharapkan lulusan pesantren akan menjadi benteng umat yang kuat dan mampu menjalani amanah di dunia sekuler tanpa mengorbankan keyakinan dan prinsip keislamannya.
Seruan penutupnya adalah untuk saling mendoakan—untuk orang tua, pemimpin, ulama, dan sesama teman—agar senantiasa diberikan petunjuk dan bimbingan oleh Allah SWT untuk menjalankan amanah dengan benar dan memperoleh rezeki yang cukup serta berkah.
Sumber:https://adianhusaini.id/detailpost/bencana-santri-peringatan-dr-adian-husaini-tentang-ancaman-sekularisme-dan-hilangnya-adab#
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
