Oleh Ki.RH Soesilo, tinggal ing tlatah dipologo Ngayogyokarto
Dewandakwahjatim.com, Syrabaya –
Subuh yang Tidak Biasa
Subuh itu datang lebih pelan dari biasanya.
Langit Jogokariyan masih kelabu ketika kabar itu menyusup ke lorong-lorong kampung : Ustadz Jazir telah berpulang.
Tak ada teriakan. Tak ada tangisan yang meledak. Yang ada hanya hening..hening yang berat, seperti sajadah tua yang lama dipakai sujud.
Masjid Jogokariyan berdiri seperti biasa. Temboknya tidak runtuh. Menaranya tidak condong. Jam digitalnya tetap menyala. Namun ruhnya terasa bergetar. Seolah bangunan itu tahu, salah satu penjaga maknanya telah berpindah alam.
Di sudut serambi, seorang bapak penjual gorengan berbisik lirih,
“Beliau itu bukan cuma ustadz… beliau itu tetangga hidup.”
Di situlah agama turun dari konsep langit ke bumi kehidupan.
Masjid sebagai Ibu Peradaban.
Bagi Ustadz Jazir, masjid bukanlah monumen kesalehan, melainkan rahim peradaban.
Ia menolak masjid menjadi menara gading spiritual—tinggi, suci, tapi jauh dari derita.
Dalam filsafat Islam klasik, masjid adalah al-markaz—pusat.Dalam budaya Jawa, pusat itu disebut pancer : Titik keseimbangan antara lahir dan batin.
Maka Masjid Jogokariyan tidak dibangun dengan logika “megah”, tetapi dengan logika “berguna”.
“Masjid itu harus seperti ibu,” kata beliau suatu malam, “tidak bertanya siapa yang datang, tapi memastikan yang datang tidak pulang dengan lapar.”
Di sinilah agama menemukan budayanya.
Dan budaya menemukan ruh ilahinya.
Saldo Nol dan Etika Amanah.
Ketika konsep saldo nol infak diperkenalkan, banyak yang bingung.
Masjid kok tidak menabung?
Namun Ustadz Jazir paham satu filsafat dasar :
Harta bukan untuk disimpan, tapi untuk dialirkan.
Dalam etika Islam, amanah bukan soal menjaga uang, tetapi menjaga manfaat.
Dalam budaya gotong royong Nusantara, menahan rezeki ketika tetangga lapar adalah aib sosial.
Masjid Jogokariyan pun menjadi sungai.
Airnya mengalir ke rumah janda, ke gerobak UMKM, ke dapur fakir, ke klinik rakyat.
Dan anehnya, sungai itu tak pernah kering.
Di situlah filsafat tauhid bekerja diam-diam :
semakin dilepas, semakin dititipkan kembali oleh Tuhan.
Pasar, Klinik, dan Kitab
Pada hari tertentu, halaman masjid berubah menjadi pasar.
Bukan pasar dunia yang rakus, tapi pasar harapan.
Di sisi lain, klinik gratis berdiri berdampingan dengan ruang tahfidz.
Kitab suci dibaca, luka tubuh diobati.
Ini bukan sinkretisme.
Ini adalah kesempurnaan Islam—agama yang tidak memisahkan langit dan bumi.
Ustadz Jazir sering berkata,
“Orang lapar sulit diajak bertauhid dengan tenang.”
Kalimat itu bukan sekadar dakwah,
ia adalah filsafat kemanusiaan.
Wakaf dan Waktu Panjang.
Hotel wakaf berdiri bukan sebagai simbol kapitalis,
melainkan sebagai ijtihad keberlanjutan.
Dalam filsafat waktu, manusia fana.
Tetapi amal bisa panjang umur.
Ustadz Jazir menanam wakaf seperti menanam pohon.
Ia tahu, mungkin ia tak akan berteduh di bawahnya.
Tapi umat setelahnya yang akan berteduh disitu.
Dan itulah makna ikhlas yang paling sunyi.
Masjid sebagai Rumah Budaya.
Masjid Jogokariyan bukan tempat yang mengusir anak muda. Ia merangkul seni, olahraga, diskusi, dan tawa.
Dalam budaya Jawa, rumah yang baik adalah rumah yang terbuka.
Dalam Islam, masjid Nabi adalah ruang hidup, bukan ruang steril.
Ustadz Jazir memahami itu tanpa banyak teori.
Beliau mempraktikkannya dengan senyum dan kepercayaan.
Wafat yang Tidak Mengakhiri.
Ketika beliau wafat, masjid tidak tutup.
Program tidak berhenti.
Jamaah tetap datang.
Itulah tanda pemimpin sejati dalam filsafat kepemimpinan :
Ia pergi, tetapi sistem kebaikannya tetap berjalan.
Ustadz Jazir telah berpindah alam,
namun masjid yang ia hidupkan menolak mati.
Masjid yang Terus Mengajarkan
Goresan ini bukan tentang kematian.
Ia tentang cara hidup.Tentang agama yang membumi. Budaya yang disucikan.
Dan filsafat yang dijalankan, bukan diperdebatkan.
Jika suatu hari kita bertanya,
“Masjid ideal itu seperti apa?”
Maka Jogokariyan akan menjawab dengan tenang :
Masjid adalah tempat Tuhan disembah,
dan manusia dimanusiakan.
Allahummaghfirlahu warhamhu Wa’afihi wa’fu’anhu.
Selamat jalan, Ustadz Muhammad Jazir ASP.
Engkau telah mengajarkan kami bahwa iman yang paling tinggi adalah iman yang paling bermanfaat.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
