Oleh : Ridwan Ma’ruf
Ketua Majelis Pertimbangan DDII Kab. Sidoarjo ( 2024 – 2029 )
Pendiri Tahfidz Islamic School Al Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Dewandakwahjatim.com, Sidoarjo – Sesungguhnya berbagai kerusakan moral yang terjadi di muka bumi saat ini , seperti : LGBT, Peperangan , dan ketidak adilan sertav berbagai persoalan kemanusiaan lainnya, diantaranya disebabkan abainyav sebagaian keluarga muslim tentang pentingnya membentengi Tauhid bagi keluarga .Allah Ta’ala berfirman dalam At Tahrim ayat 6 :
يا أيّها الّذين امنوا قوا انفسكم و اهليكم نا را و قودها النّاس والحجارة عليها ملائكة غلاط شداد لاّ يعصون الله ماأمرهم ويفعلون ما يؤمرون
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”,
Tafsir Qs. At Tahrim : 6
Berkata DR. Asy Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di, bahwa yang dimaksud dengan
قوا انفسكم و اهليكم نا را……
“ …… Peliharalah diri kamu dan keluargamu dari siksa api neraka……..”, maksudnya yaitu :
ووقايةالأنفس بإلزامها أمرالله و وقا ية الآهل والأولاد, بتأد يبهم وتعليمهم وإجبارهم على أمرالله
“ Menjaga diri dengan cara melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi laranganNya,
Sedangkan menjaga keluarga dan anak-anak dari siksa api neraka, adalah dengan cara
Mengajarkan kepada mereka budi pekerti ( red. Tata krama ), dan ilmu agama, serta
Memaksa mereka untuk melaksanakan perintah Allah Ta’ala “.
( Kitab taisirul kariimur rahman fi tafsiiri kalaamil mannaan, Hal. 809 )
Demikian juga berkata Asy Syaikh Abu Thohir Muhammad Bin Ya’kub, bahwa yang dimaksud dengan
قوا انفسكم و اهليكم نا را ……..
“………..Jagalah diri kamu, dan keluargamu dari siksa api neraka…………”, maksudnya yaitu :
ادفعوا عن انفسكم وقومكم وأولادكم ونسا ئكم عن النّار ويقول أدّ بوهم وعلّموهم الخير
“ Cegahlah olehmu diri-diri kalian , dan kaummu, dan anak-anakmu serta istrimu dari siksa api neraka, dengan cara mengajari mereka tentang akhlak yang baik, dan mengajari mereka tentang agama “. ( Kitab Tanwiirul Miqbaasi Min Tafsiiri Ibnu Abbas, Hal. 360 )
Isi Kandungan Qs. At Tahrim ( 66 ) : 6
Adalah, bahwa pendidikan terhadap keluarga haruslah dimulai dari diri sendiri ( red. orang tua / pelaku dakwah ) dan dimulai dari rumah terlebih dahulu , ( red. Keluarga ) secara redaksional ayat tersebut seolah-olah mempunyai makna, bahwa tanggung jawab pendidikan terhadap anak, dan atau keluarga adalah merupakan tanggung jawab seorang ayah semata sebagai kepala rumah tangga, akan tetapi makna ayat tersebut juga tertuju kepada seorang ibu ( red. Suami – Istri ), ini berarti, bahwa tanggung jawab pendidikan terhadap anak adalah merupakan tanggung jawab bersama dari kedua orang tuanya, oleh karena itu setiap suami, dan istri haruslah mampu menjadi tauladan bagi anak-anaknya, dengan cara setiap pribadi, baik suami, dan ataupun istri haruslah membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan agama islam ini secara baik, dan benar, sebagaimana dalam sebuah hadits diceritakan, bahwa para istri sahabat Nabi Saw, pernah mendatangi Nabi Saw, mereka istri para sahabat Nabi Saw, meminta agar beliau Saw mau meluangkan waktunya untuk mengajari mereka para wanita atau para istri sahabat Nabi Saw, tentang persoalan-persoalan agama Islam yang agung ini, dan kemudian Nabi Saw memenuhi permintaan para wanita atau para istri sahabat Nabi Saw agar mereka berkumpul pada hari-hari tertentu yang dengan waktu luang tersebut Nabi Saw mengajarkan kepada mereka tentang Addiinul Islam ini, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari , dan Imam Muslim :
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : جاءت إمرأة إلى النبيّ صل الله عليه وسلّم فقا لت : يا رسول الله ذهب الرّ جال بحديثك فا جعل لنا من نفسك يوما نأ تيك فيه تعلّمنا ممّا علّمك الله , قال رسول الله صل الله عليه و سلّم : إجتمعن يوم كذا و كذا
[ رواه البخاري ومسلم ]
“ Dari Abu Sa’id Alkhudry R.a, sesungguhnya ia berkata :” Ya Rasulullaah orang-orang laki-laki telah pergi membawa haditsmu, maka sediakanlah waktumu untuk kami satu hari yang kami bisa datang pada hari itu kepada engkau, lalu engkau ajari kami para wanita apa-apa yang Allah Ta’ala telah mengajarkannya kepada engkau “. Lalu Nabi Saw menjawab : “ Berkumpulah kalian ( para wanita ) pada hari ini dan itu “. ( HR. Bukhari dan Muslim )
Perihal apa yang utama yang perlu diajarkan, dan disampaikan kepada keluarga kita ?
Berdasarkan penjelasan dari dalil-dalil Al Quran dan hadits sebagaimana tersebut diatas, maka wajib bagi kita sebagai orang tua ( red. Suami – istri ), untuk mengajarkan kepada keluarga kita, tentang beberapa hal pokok penting yaitu :
1 . Mengajarkan Tauhid
Adalah menjadikan Allah Ta’ala semata sebagai satu-satunya Rob, baik dalam hal aqidah ( red. Keyakinan ), ibadah ( red. Sesembahan ) , dan muamalah ( red. Kemasyarkatan ), sebagaimana kisah Luqman seorang hamba Allah Ta’ala yang sholeh ketika memberikan pelajaran tauhid kepada anaknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
وإذقال لقمن لابنه وهو يعظه يبنيّ لا تشرك با لله انّ الشّرك لظلم عظيم
Artinya :
“ Dan ingatlah ketika lukman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya : “ Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah
Ta’ala, sesungguhnya mempersekutukan ( Allah Ta’ala ), adalah benar-benar perbuatan dzalim yang amat besar “. Qs. Luqman : 13
2 . Mengajarkan Kepada Keluarga Kita Untuk senantiasa Cinta kepada Nabi Saw
Yaitu dengan cara berittiba’ atau mengikuti apa-apa yang dituntunkan oleh Nabi Saw, serta menjauhi dari apa-apa yang tidak dicontohkan, atau tidak dituntunkan oleh Nabi Saw, dalam segala aspek kehidupan, baik berupa Ibadah, aqidah, dan muamalah. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Imran ayat 31 :
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”
Yakni kecintaan Allah kepada hamba-Nya merupakan hasil dari ketaatan kepada Rasulullah. Dan bentuk kecintaan-Nya kepada hamba-Nya adalah berupa ampunan, karunia, rahmat, dan hidayah ke jalan yang lurus.
3 . Adab
norma kesopanan, budi pekerti, dan akhlak mulia yang mengatur perilaku manusia dalam bersosialisasi, beribadah, dan berinteraksi dengan sesama, mencakup perkataan, perbuatan, keyakinan, dan niat, serta menjadi tolok ukur kebaikan seseorang berdasarkan nilai budaya atau agama, terutama dalam Islam yang memandang adab sebagai pendidikan diri lahir batin yang lebih luas dari sekadar akhlak atau etika.
Nabi Saw bersabda :
عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“ Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik. “(HR At-Tirmidzi)
Membentengi keluarga dengan Tauhid sebagai solusi atas persoalan kemanusiaan yang serba kompleks agar setiap keluarga Muslim sadar untuk mengembalikan dan menyandarkan semua problematika kehidupan kepada Allah Ta’ala. Wallaahu ‘Alamu
Sidoarjo, 9 Desember 2025
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
