Rasuna Said; Perempuan Pejuang Pendidikan dan Politik serta Cakap Berjunalistik

Oleh M. Anwar Djaelani

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Rahmah El-Yunusiyah (1900-1969) dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025. Bukan tak mungkin, ada yang lalu teringat dengan Rasuna Said. Ini wajar, antara lain karena keduanya adalah murid Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka). Juga, karena Rasuna Said seorang Pahlawan Nasional.

Siapa Rasuna Said? Hal yang mudah diingat terutama oleh warga Jakarta, bahwa namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan utama di ibukota. Jalan itu, merupakan pusat bisnis dan bagian dari Segitiga Emas Jakarta atau Poros Sudirman-Thamrin-Kuningan.

Pandai dan Berani

Rasuna Said memiliki jejak yang baik. Di masa awal, dalam pelajaran agama, dia berguru kepada Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Di kemudian hari, pada 1930, dia mendirikan Pesantren Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi. Perjuangannya di masa Pergerakan Kemerdekaan bisa dikenali lewat jalur pendidikan, politik, dan jurnalistik.
Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam – Sumatera Barat pada 15/09/1910. Ayahnya bernama Muhammad Said, seorang saudagar Minangkabau dan aktivis pergerakan.
Pendidikan Rasuna Said diawali dengan belajar di Sekolah Dasar. Lalu, dia melanjutkan ke Pesantren Ar-Rasyidiyah. Di pesantren itu, dia adalah satu-satunya santri perempuan. Setelah itu, meneruskan ke Diniyah School Putri di Padang Panjang dan di situ dia bertemu dengan Rahmah El-Yunisiah.

Secara umum, Rasuna Said dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani. Rasuna Said juga dikenal sebagai pribadi yang berkemauan keras dan memiliki pengetahuan yang luas.

Dalam pelajaran agama, Rasuna Said pernah berguru kepada Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (atau dikenal pula sebagai Haji Rasul) yang mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir. Nantinya, pelajaran tersebut banyak memengaruhi pandangan dan sikap Rasuna Said.
Rasuna Said sangat memerhatikan kemajuan dan pendidikan kaum perempuan. Dia sempat mengajar di Diniyah School Putri di Padang Panjang. Namun, pada 1930 dia berhenti mengajar. Saat itu dia berfikir, bahwa kemajuan wanita tak cukup dengan cara hanya memajukannya lewat sekolah saja tapi –mestinya- juga dengan perjuangan politik. Kala itu Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik ke dalam kurikulum Diniyah School Putri, tapi ide menarik itu ditolak.
Rasuna Said lalu bergabung dengan Sumatera Thawalib. Kemudian, dia-pun mendirikan Pesantren Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada 1930. Dia juga mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI. Kemudian, Rasuna Said mendirikan Sekolah Thawalib di Padang. Juga, memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi.

Sebagai perempuan terpelajar, Rasuna Said aktif berjuang di ranah politik. Tercatat, dia pernah bergabung di Syarikat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang. Rasuna Said dikenal sangat mahir dalam berpidato. Isi pidatonya banyak mengecam ketidakadilan pemerintahan Belanda.
Terkait ”pidato panas”, Rasuna Said tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukuman Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa “Siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda”. Waktu itu Rasuna Said ditangkap bersama Rasimah Ismail, teman seperjuangnnya. Rasuna Said dipenjara pada 1932 di Semarang. Lantas, sekeluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Muhtar Yahya dan Dr. Kusuma Atmaja.

Kekuatan tulisan juga dipercaya oleh Rasuna Said sebagai salah satu media perjuangan yang sangat penting. Maka, pada 1935, Rasuna Said memilih untuk memanfaatkan jurnalistik sebagai media perjuangan. Dia-pun menjadi Pemimpin Redaksi “Majalah Raya”.

Pada perkembangannya, Rasuna Said dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. “Majalah Raya” dikenal radikal dan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatera Barat.

Dalam perjalanannya, polisi rahasia Belanda mempersempit ruang gerak Rasuna Said dan kawan-kawan. Atas situasi ini, ternyata tokoh-tokoh PERMI yang diharapkan berdiri melawan tindakan kolonial, justru tidak bisa berbuat apapun. Tentu saja, Rasuna Said sangat kecewa dengan sikap itu. Dia-pun lalu memilih pindah ke Medan.

Pada tahun 1937, di Medan, Rasuna Said mendirikan sekolah khusus perempuan yaitu “Perguruan Putri”. Sementara, untuk menyebar-luaskan gagasan-gagasannya, dia membuat media pekanan bernama Menara Poetri (baca: Menara Putri).
Media ini membahas khusus seputar pentingnya peranan wanita dan keislaman. Meski begitu, sasaran pokoknya adalah memasukkan kesadaran pergerakan yaitu antikolonialisme terutama kepada khalayak perempuan.

Di Menara Poetri Rasuna Said mengasuh rubrik “Pojok”. Tulisan-tulisan Rasuna Said dikenal tajam, mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang antikolonial.

Sebuah media di Surabaya, Penyebar Semangat, pernah menulis perihal Menara Poetri ini, bahwa: “Di Medan ada sebuah media bernama Menara Poetri. Isinya dimaksudkan untuk jagat keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional.”

Menara Poetri tidak berumur panjang. Persoalannya, sebagian besar pelanggannya tidak membayar biaya berlangganan. Setelah itu, Rasuna Said memilih pulang ke kampung halamannya, di Sumatera Barat.
Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna Said ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Sayang, organisasi itu kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.
Setelah negeri ini merdeka, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia.
Rasuna Said juga pernah duduk di Dewan Perwakilan Sumatera mewakili Sumatera Barat.

Rasuna Said pernah diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat – Republik Indonesia Serikat (DPR-RIS). Lalu, menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Dalam perjalanan hidup Rasuna Said, ada fragmen menarik. Pada 18/03/1958, ada semacam Rapat Akbar di Bandung. Di kesempatan itu, Rasuna Said mendapat kehormatan karena termasuk tokoh pejuang yang diundang dan didaulat untuk menyampaikan orasi pembuka. Lalu, saat tiba giliran Soekarno berpidato di depan lautan massa, tanpa ragu dia memuji perjuangan Rasuna Said selama ini.

Sang Pahlawan

Rasuna Said wafat pada 02/11/1965 di Jakarta. Atas jasa-jasanya, dia dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional pada 1974. Lalu, seperti yang telah disebut di atas, untuk mengenang jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia maka nama Rasuna Said diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *