Ledakan: Dendam Anak yang Sering di Bully

Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Jatim)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara menarik perhatian masyarakat luas. Setelah prihatin, kita harus bisa menangkap pelajaran dari peristiwa itu. Mengapa terjadi dan selanjutnya kita harus bagaimana?
Memang, fenomena bullying di sekolah maupun di lingkungan sosial masih menjadi luka yang belum sembuh. Di balik setiap tawa kasar dan ejekan, ada jiwa yang terluka. Anak yang sering di-bully sering kali menanggung

penderitaan batin yang dalam: perasaan rendah diri, rasa takut, dan amarah yang terpendam. Namun, ketika luka itu tidak disembuhkan dengan kasih sayang dan bimbingan, amarah dapat menjelma menjadi balas dendam.

Menyibak Masalah
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan: Terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat 7/11/2025, diketahui masih berusia 17 tahun. Bahwa terduga pelaku merupakan siswa aktif di sekolah tersebut. Dari keterangan sejumlah siswa yang ditemui Kompas.com, terduga pelaku dikenal pendiam dan jarang bergaul, belakangan disebut-sebut sebagai korban perundungan atau bulliying.

Sebagian siswa juga menyebut terduga pelaku pernah menjadi korban perundungan (bulliying) di sekolah.
Terkait, kriminolog sekaligus konsultan Yayasan Lentera Anak, Reza Indragiri Amriel, menyoroti dugaan bahwa aksi ini berakar dari perundungan (bullying) yang dialami terduga pelaku. Reza menyebut kasus ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading menjadi bukti bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia masih gagal bertindak cepat.
“Keterlambatan (penanganan) itu membuat korban, setelah menderita sekian lama, akhirnya bertarung sendirian dan dalam waktu sekejap bergeser statusnya menjadi pelaku kekerasan, pelaku brutalitas, dan julukan-julukan berat sejenis lainnya,” kata Reza. Dia juga menjelaskan bahwa fenomena

ini adalah viktimisasi berulang. Artinya, korban bullying mengalami penderitaan berlapis (Kompas.com, Sabtu 8/11/2025).

Soal ”Luka”
Balas dendam sering kali lahir bukan dari keberanian, tetapi dari rasa sakit yang tidak terselesaikan. Anak yang dahulu terpojok bisa tiba-tiba berubah menjadi sosok yang keras, bahkan kejam terhadap orang lain. Ia ingin merasakan kuasa yang dulu dirampas, ingin orang lain merasakan pedih yang sama.
Seperti dikatakan oleh seorang peneliti psikologi forensik Universitas Airlangga, Margaretha, yang menduga peristiwa peledakan di sekolah tersebut sebagai tindakan terencana untuk

membalas sesuatu. Kemarahan yang dipendam pelaku diarahkan menjadi tindakan agresi yang menimbulkan korban. Namun sayangnya, dendam tidak pernah menenangkan. Ia hanya memperpanjang rantai kekerasan. Luka lama tidak sembuh karena membalas, justru makin dalam karena hati tidak pernah benar-benar damai (Kompas.Id).
Di sebuah sekolah, ada anak yang setiap hari diejek karena cara bicaranya, atau karena tubuhnya yang kecil. Ia diam, menahan tangis, berusaha kuat. Namun, jauh di dalam hatinya, tersimpan luka dan kemarahan yang pelan-pelan tumbuh menjadi dendam.
Fenomena ini bukan sekadar cerita. Banyak anak korban bullying akhirnya berubah: dari korban menjadi pelaku. Ia merasa membalas adalah satu-satunya

cara untuk menebus rasa sakit yang dulu ia rasakan. Padahal, balas dendam tidak pernah benar-benar menyembuhkan. Luka lama tidak sembuh karena membalas — justru makin dalam karena hati tidak pernah benar-benar damai.

Empati dan Pemulihan
Seorang anak yang di-bully tidak butuh balas dendam, tetapi butuh didengarkan dan dipeluk. Ia perlu diajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada membalas, tetapi pada kemampuan untuk mengubah luka menjadi pelajaran dan empati.
Peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat penting dalam tahap ini. Anak perlu diarahkan untuk menyalurkan emosinya secara sehat — melalui seni,

olahraga, kegiatan sosial, atau bimbingan rohani. Di sinilah pendidikan akhlak dan adab Islam menemukan relevansinya: Mengajarkan bahwa menahan amarah adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Perhatikanlah, Rasulullah Saw bersabda, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu menahan amarahnya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sangat relevan untuk ditanamkan sejak dini, agar anak memahami bahwa menahan amarah adalah tanda kekuatan batin, bukan kelemahan.

Teladan Itu
Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan

memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran [3]: 134). Ayat ini memberi pesan lembut bagi setiap hati yang pernah terluka: Kendalikan amarahmu dan biarkan cinta Allah yang menyembuhkanmu.
Tugas guru dan orang tua adalah membantu anak-anak memahami nilai ini. Anak perlu diarahkan agar berani bicara jika di-bully, hal ini agar tidak tumbuh menjadi pembalas. Yakikan bahwa dendam hanya akan menumbuhkan kebencian, sedangkan memaafkan menumbuhkan kekuatan.
Rasulullah Saw pernah menjadi korban penghinaan dan kekerasan dari kaum Quraisy. Namun, ketika berkuasa di Makkah, Beliau Saw tidak membalas dendam. Dengan penuh kasih Nabi Saw

bersabda: “Pergilah, kalian semua bebas” (HR. Al-Baihaqi). Inilah puncak kemuliaan akhlak: mengampuni ketika mampu membalas.
Anak-anak perlu mengenal teladan seperti yang diperagakan Nabi Saw d atas. Ini, agar mereka memahami bahwa membalas dendam bukanlah jalan penyembuhan, melainkan jalan kehancuran batin.

Menjadi Si Kuat
Mengajarkan anak untuk memaafkan bukan berarti membiarkan pelaku bullying lepas dari tanggung jawab. Keadilan tetap perlu ditegakkan, tetapi hati anak korban perlu dibimbing agar tidak menyimpan dendam. Memaafkan bukan berarti melupakan, melainkan

memilih untuk tidak membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan.
Allah swt berfirman: “Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (QS Asy-Syura [42]: 40). Ayat ini menegaskan bahwa pilihan tertinggi bukanlah membalas, tetapi memaafkan dan memperbaiki keadaan.
Balas dendam mungkin terasa memuaskan sesaat, tetapi tidak akan menyembuhkan luka yang sebenarnya. Hal yang menyembuhkan adalah kasih, doa, dan bimbingan.
Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua adalah membantu anak-anak menemukan kekuatan itu — agar mereka tumbuh bukan sebagai pembalas, tapi sebagai penyembuh bagi

diri dan lingkungannya. Kuatkanlah hati dengan iman, bukan dengan amarah. Wallahua’lam. (Rewwin, 10 Nov. 20)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *