Oleh M. Anwar Djaelani, Pengurus DDII Jatim
Dewandajwahjatim.com, Surabaya – lnna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Kabar tragis itu, ”Peristiwa Sibolga”, beredar luas dan cepat. Kejadiannya, Jum’at 31/10/2025 sekitar pukul 03.30 WIB, di Masjid Agung Sibolga Sumatera Utara. Bahwa, seorang musafir dianiaya lima orang.
Motif penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal di esok harinya, karena penganiaya tersinggung. Hal ini, dipicu oleh korban yang tidak mengindahkan larangan mereka untuk tidak tidur di masjid. Para pelaku, lima orang, bukan pengurus masjid tapi warga setempat. Mereka sudah ditahan polisi.
Benarkah ada larangan yaitu tidak boleh tidur di masjid? Apa fungsi masjid? Seharusnya, seperti apa performa ”orang-orang masjid”?
Larangan, Adakah?
Pada 6 November 2025, Ibnu Naufal menulis: Hukum Tidur di Masjid Menurut 4 Mazhab: Belajar dari Tragedi Berdarah di Sibolga. Di dalamnya, antara lain ditulis, bahwa ”Masjid Nabawi adalah tempat yang sangat ramah dan terbuka, bahkan untuk tidur sekalipun”.
Juga ditulis, bahwa para ulama dari empat mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) telah membahas hukum ini secara rinci. Kesimpulannya sangat jelas, tidak ada larangan haram. Mayoritas ulama membolehkan dan tidak ada satupun yang mengharamkan tidur di masjid (https://www.inilah.com/hukum-tidur-di-masjid-menurut-4-mazhab-belajar-dari-tragedi-berdarah-di-sibolga).
Di Rumah Allah
Tentang fungsi masjid, bukalah sejarah. Ketika atas titah Allah Swt, Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, maka yang pertama didirikannya adalah masjid. Hal itu, jelas bukanlah sesuatu yang tanpa strategi.
Seperti yang kemudian kita ketahui, masjid-di samping fungsi utamanya sebagai pusat tempat ibadah-masjid juga merupakan pusat aktivitas sosial dan budaya umat Islam. Di dalam masjid kegiatan ibadah dilakukan dan aktvitas dakwah, pendidikan, kebudayaan, peningkatan kesejahteraan, serta aspek-aspek kehidupan umat Islam lainnya dirancang sekaligus dilaksanakan.
Masjid itu sangat istimewa. Pertama, perhatikan peristiwa hijrah yang sangat penting itu. Setelah Rasulullah Saw melewati perjalanan yang tak mudah dari Mekkah ke Madinah, sesampainya maka hal pertama yang dilakukannya adalah mendirikan masjid yaitu di Quba’. Peristiwa ini mengirim pesan kepada segenap umat Islam, bahwa masjid harus kita utamakan.
Kedua, posisi masjid itu luar biasa karena ”kepunyaan Allah” sebagaimana petunjuk di ayat ini: “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah” (QS Al-Jin [72]: 18). Masjid merupakan Baitullah (Rumah Allah).
Ketiga, di masjid seharusnya kita menjaga adab. Perhatikan tujuh golongan manusia mulia di hadits berikut ini: “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) Seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai di Jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allah’. (6) Seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, dan (7) Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya” (HR Bukhari – Muslim).
Perhatikan yang poin (3), ”Seorang yang hatinya bergantung ke masjid”. Terkait ”Peristiwa Sibolga”, boleh jadi si musafir yang menjadi korban penganiayaan itu adalah orang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid.
Perhatikan yang poin (4), ”Dua orang yang saling mencintai di Jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya”. Terkait ”Peristiwa Sibolga”, mestinya pihak yang menemukan musafir sedang beristirahat di masjid membantu mencarikan fasilitas yang tepat untuk keperluannya itu.
Jaga Performa
Bagaimana sebaiknya performa jamaah masjid? Ada tulisan Mahmud Budi Setiawan (MBS) pada 9 Juli 2020, yang menarik. Judulnya, Peran dan Fungsi Masjid Menurut M. Natsir.
Tulisan itu didasarkan kepada buku kecil bertajuk Masjid sebagai Tempat Pembinaan Ummat. Isinya, berasal dari Kuliah Subuh Buya Natsir di Masjid al-Munawwarah Kampung Bali Tanah Abang pada 1967. Penerbitnya adalah Pengurus Ikatan Masjid Djakarta Raya dan terbit pada Oktober 1968.
Setelah mengingatkan tentang keharusan menata niat dengan baik, Natsir membincang fungsi masjid. Bahwa berdasar QS At-Taubah 108, masjid itu berfungsi sebagai tempat untuk membentuk manusia. Artinya, membentuk manusia-manusia yang ingin dirinya bersih dan membersihkan diri tiap kali dirinya disentuh oleh yang kotor.
Ada lagi yang penting. Itu, kala Natsir mengupas frase “memakmurkan masjid”. Bagi Natsir, makmur di sini bukan bentuk masjidnya yang bagus dan megah tetapi makmur karena diisi oleh manusia-manusia yang beriman kepada Allah.
Jika benar-benar satu masjid makmur, kata Natsir, maka masjid itu melahirkan satu jamaah yang sifatnya beriman kepada Allah dan iman itu tergambar dalam tingkah lakunya sehari-hari. Adapun contoh dari tingkah laku jamaah yang masjidnya sudah makmur, antara lain digambarkan melalui Hadits yang intinya mengatakan bahwa Mukmin yang satu dengan yang lain seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian yang mengaduh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga akan merasa sakit.
Lanjut Natsir, masjid bukanlah tempat untuk shalat saja. Masjid adalah tempat pembinaan jamaah. Masjid itu akan berhasil dalam tugasnya sebagai pembina jamaah, apabila dari masjid itu keluar orang-orang yang mau membersihkan diri dan sesudah itu membentuk satu jamaah “kal-jasadil-wahid” (seperti tubuh yang satu) di antara mereka yang beriman kepada Allah (https://hidayatullah.com/kajian/sejarah/2020/07/15/188449/peran-dan-fungsi-masjid-menurut-m-natsir-bagian-ii.html).
Di titik ini, kita bisa langsung teringat kepada tragedi di Masjid Agung Sibolga. Bahwa, kita semua memang harus paham dengan fungsi masjid. Juga, harus mengerti, seperti apa performa ”orang-orang masjid” itu.
Terus Belajar
Demikianlah, semoga peristiwa memilukan seperti yang terjadi di Sibolga tak akan terjadi lagi. Untuk itu, siapa pun harus terus belajar. Temasuk, belajar tentang semua hal yang berhubungan dengan kemasjidan. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
