Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Dewandakwahjatim.com, Sueabaya- Ada satu hal yang sering nggak disadari manusia: setiap kali seseorang berakhlak buruk, sesungguhnya ia sedang menelanjangi dirinya sendiri.
Bukan telanjang secara fisik, tapi telanjang secara moral dan spiritual.
Akhlak itu pakaian jiwa — kain tak kasat mata yang membungkus kehormatan, menutup aib, dan memancarkan cahaya kemanusiaan.
Begitu seseorang marah tanpa kendali, berbohong, menghina, iri, sombong, atau berlaku kasar, dia tanpa sadar sedang mencopot baju kehormatannya.
Yang tersisa hanyalah tubuh batin yang telanjang: kering, gelap, dan kehilangan wibawa.
Padahal Rasulullah ﷺ dengan tegas bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Artinya, kemuliaan seorang mukmin bukan di banyaknya harta, bukan di tingginya jabatan, tapi di indahnya akhlak.
Orang yang menjaga akhlaknya berarti menjaga auranya, menjaga identitasnya, menjaga dirinya dari telanjang di hadapan manusia — dan di hadapan Allah.
Akhlak baik adalah parfum jiwa,
sedang akhlak buruk adalah bau busuk yang tak bisa ditutupi topeng apa pun.
Kita bisa tampil keren, punya banyak followers, atau sukses besar. Tapi kalau akhlak rusak, semua itu cuma bungkus kosong.
Karena ketika akhlak hilang, cahaya diri pun padam — dan saat itu, kita benar-benar sudah menelanjangi diri kita sendiri.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
