Ketika Kehormatan Menjadi Parameter Kebenaran

Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Wakil Ketua BIdang MPK DDII Jatim

Dewandakwahjatim com, Surabaya – Pembenci Islam sering memframing pengikut nabi sebagai orang lemah, hina dan bodoh. Sementara, dirinya dipandang sebagai manusia kuat, terhormat dan pintar sehingga tidak serta merta menerima ajaran yang disampaikan nabi. Kekayaan, kedudukan, dan kebangsawanan dipandang sebagai parameter kebenaran. Oleh karenanya, para pengikut nabi kebanyakan manusia yang rendah dan lemah, maka ajarannya pun dipandang salah. namun dalam pandangan Islam, pengikut nabi merupakan manusia yang kokoh dalam memegang teguh ajaran nabinya. Allah pun memperkokoh hati mereka, sehingga pertolongan-Nya datang untuk menghapus stigma buruk itu.
.
Framing Kebodohan

Islam diidentikkan dengan kebodohan karena para pengikutnya kaum lemah dan dipandang bodoh. Bilal bin Rabbah, Ammar bin Yasir, Suhaib bin Sinan, Abdullah Ibnu Mas’ud merupakan sosok yang diidentikkan dengan orang lemah dan melekat kebodohan. Mereka orang lemah sehingga mudah sekali menerima ajaran Islam yang diajarkan nabi. Sosok lemah itu diframing secara kuat oleh mereka yang memiliki kekayaan, kedudukan, dan pengaruh luas. Implikasinya, orang orang Quraisy tak mau mendekat Islam karena khawatir terkena stigma sebagai manusia bodoh.

Stigma lemah dan bodoh terus dijadikan komoditas sekaligus penghinaan pada Islam. Hal ini bertujuan agar banyak pihak menaruh ketidaakpercayaan (distrust) pada Islam. Oleh karenanya, banyak orang-orang Makkah terpengaruh dan enggan mendekat pada Islam. Al-Qur’an mengabadikan hal itu sebagaimana firman-Nya :

قَا لُوْۤا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَا تَّبَعَكَ الْاَ رْذَلُوْنَ 
“Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?” (QS. Asy-Syu’ara’ : 111)

Framing buruk itu terus menerus dicitrakan kepada para pengikut Islam, sehingga banyak orang-orang netral, pintar dan cerdas terpengaruh, kemudian mempercayainya tanpa sikap kritis. Implikasinya, mereka yang tidak mengerti Islam tiba-tiba langsung terpengaruh dan ikut menstigma Islam sebagai ajaran untuk kaum terhina.

Meskipun hatinya mengakui Islam sebagai ajaran yang benar, namun mereka tetap menstigma Islam sebagai agama manusia bodoh. Hal ini tidak lain karena stigma yang begitu kuat dan melekat. Allah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman justru manusia cerdas dan pintar.
Merekalah justru manusia bodoh karena terpengaruh sigma, dan menyisihkan akal sehatnya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ
Artinya:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah : 13)

Superior Palsu

Merasa superior masih saja muncul di benak mereka yang merasa terhormat karena kekayaan dan kekuasaannya. Sehingga ketika datang kebenaran Islam kepada mereka, langsung ditolaknya. Rasa tinggi hati karena merasa pintar telah menghilangkan akal sehatnya, sehingga menolak apa yang disampaikan nabi. Kemampuan daya kritis itulah yang dilekatkan pada drinya, sehingga hilang nalarnya dan menolak ajaran Islam. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimananfirman-Nya :

فَقَا لَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا نَرٰٮكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرٰٮكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيْنَ هُمْ اَرَا ذِلُــنَا بَا دِيَ الرَّأْيِ ۚ وَمَا نَرٰى لَـكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍۢ بَلْ نَظُنُّكُمْ كٰذِبِيْنَ
“Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” (QS. Hud : 27)

Karena perasaan superior inilah mereka mendustakan Islam. Mereka memiliki kekayaan, kedudukan dan pengaruh yang luas, dan itu dipandang sebagai ukuran kebenaran. Oleh karenanya, ketika datang kebenaran, mereka lah yang menjadi parameter. Kalau mereka mempercayainya berarti ajaran itu dianggap benar. Sementara bilamana mereka menolak, berarti ajaran itu menyimpang. Hal ini direkam Al-Qur’an dengan baik sebagaimana firman-Nya :

وَقَا لَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَوْ كَا نَ خَيْرًا مَّا سَبَقُوْنَاۤ اِلَيْهِ  ۗ وَاِ ذْ لَمْ يَهْتَدُوْا بِهٖ فَسَيَقُوْلُوْنَ هٰذَاۤ اِفْكٌ قَدِيْمٌ
“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya Al-Qur’an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya.” Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.” (QS. Al-Ahqaf : 11)
Menurut mereka, sesuatu yang benar harus mendapat rekomendasi dari orang-orang terpandang dan terhormat. Sementara yang muncul, Islam dipeluk oleh orang-orang lemah dan berkedudukan rendah dan hina. Penolakan mereka terhadap Islam tidak lain karena pertimbangan duniawi. Allah pun menutup hati mereka sehingga berbagai bukti kebenaran telah hadir di hadapannya, namun hatinya tetap keras menolak Islam.

Harta kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan merupakan karunia Allah. Kedatangan Nabi kepada mereka untuk mengajarkan kepada mereka agar mengakui dan bersyukur atas karunia itu. Nabi un berharap agar mereka mengagungkan dan menyembah Sang Pemberi karunia. Alih-alih mengikuti ajakan nabi, mereka justru angkuh dan menghinakannya karena pengikutnya orang-orang yang tak berharta dan tak berkedudukan.
Surabaya, 3 Nopember 2026

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *