Tiga Hal yang Jika Telah Berlalu, Tak Akan Pernah Kembali

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
ثلاثة أشياءٍ إذا مضت لا تعود: الكلمة إذا نُطِقَت، والوقت إذا فات، والثقة إذا فُقِدَت

Kata yang telah terucap, waktu yang telah berlalu, dan kepercayaan yang telah hilang.

Hidup tak pernah menyediakan tombol replay.
Setiap kata yang keluar dari lisan, setiap waktu yang berlalu, dan setiap kepercayaan yang dikhianati — semuanya meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus begitu saja.
Dan di antara tiga hal itu, kepercayaan adalah yang paling mahal sekaligus paling rapuh.

الكلمة إذا نُطِقَت

Kata-kata, apalagi dari seorang pemimpin, bukan sekadar rangkaian huruf — tapi janji, arah, dan cermin kejujuran.
Sekali terucap, ia menjadi saksi di mata rakyat dan di hadapan Tuhan.
Lidah yang tidak dijaga akan menelurkan dusta, dan dusta yang diulang akan membunuh kepercayaan publik.

قال رسول الله ﷺ: آيةُ المنافق ثلاث: إذا حدّث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان. (رواه البخاري ومسلم)

“Tanda orang munafik ada tiga: bila berkata ia berdusta, bila berjanji ia ingkar, dan bila dipercaya ia berkhianat.”

الوقت إذا فات

Waktu kepemimpinan, seperti waktu hidup, tak akan pernah kembali.
Setiap jabatan adalah amanah yang punya masa, dan setiap masa punya pertanggungjawaban.
Mereka yang menyia-nyiakan waktu dalam kekuasaan hanya akan meninggalkan catatan kosong di sejarah dan kekecewaan di hati rakyat.

قال الحسن البصري رحمه الله: يا ابنَ آدم، إنما أنتَ أيّام، فإذا ذهبَ يومٌ ذهبَ بعضُك

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari; bila satu hari berlalu, maka sebagian darimu telah pergi.”

الثقة إذا فُقِدَت

Dan inilah yang paling sulit diperbaiki — الثقة (kepercayaan).
Ia adalah jembatan antara pemimpin dan rakyat, antara penguasa dan yang dipimpin.
Sekali jembatan itu runtuh karena khianat, rakyat tak lagi mau menyeberanginya, meski dihiasi janji manis atau kata-kata suci.

قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه: الثقةُ غاليةٌ، فلا تُعطِها إلّا لمَن يستحقُّها

“Kepercayaan itu mahal, maka jangan berikan kecuali kepada yang pantas menerimanya.”

Kepercayaan publik bukan warisan, bukan pula hasil pencitraan. Ia adalah hasil amanah yang dijaga, integritas yang dibuktikan, dan janji yang ditepati.
Dan sekali kepercayaan itu hilang, masyarakat akan mencari pemimpin baru — bukan yang pandai berkata, tapi yang jujur bekerja.

Maka wahai para pejabat, penguasa, dan siapa pun yang diberi amanah,
ingatlah tiga hal ini:

كلمة، ووقت، وثقة

kata, waktu, dan kepercayaan.
Jika salah satunya hilang, reputasi pun ikut terkubur.
Karena rakyat bisa memaafkan kesalahan, tapi sulit memercayai kembali seorang pengkhianat amanah.

قال تعالى:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ
(سورة الأنفال: 58)

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”

Kepercayaan publik adalah cahaya;
sekali padam karena pengkhianatan, ia sulit dinyalakan kembali.
Dan siapa yang menipu umat, telah memadamkan sinarnya sendiri.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *