Syahādatul Wafāh: Wisuda Abadi Sang Pejuang Hati

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim, Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dan Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ketika lonceng terakhir di sekolah dunia berbunyi, banyak yang panik, banyak pula yang menyesal. Padahal, bagi mereka yang paham makna kehidupan, kematian bukan akhir pelajaran, melainkan hari wisuda — hari diumumkannya siapa yang benar-benar belajar dengan hati.

إِلَّا شَهَادَةَ الْوَفَاةِ

Tak ada ijazah lain yang kau bawa kecuali sertifikat kematian.

Ijazah ini bukan selembar kertas, bukan juga piagam kehormatan dunia. Ia adalah lembaran amal yang ditulis dengan tinta keikhlasan dan disegel oleh rahmat Allah. Di dalamnya tercatat, bukan seberapa sering kita menang, tapi seberapa kuat kita bertahan dalam kehilangan.

Dunia mengajarimu membaca huruf, tapi Allah mengajarimu membaca takdir.
Dunia memberimu nilai dari angka, tapi Allah menilai dari niat.
Dunia mengukur dari hasil, tapi Allah menilai dari usaha dan sabar.

Bayangkan, Di dunia, kita menanti pengumuman kelulusan dengan jantung berdebar. Tapi di akhirat, kelulusan itu akan diumumkan dengan suara yang jauh lebih agung:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)

Itulah puncak kelulusan sejati — bukan sekadar tepuk tangan manusia, tapi sambutan dari Rabb semesta.

Syahādatul wafāh itu bukan ijazah kematian, tapi tiket menuju kehidupan yang sejati. Dunia hanyalah ruang ujian yang fana; kehidupan setelahnya adalah masa depan yang kekal. Maka, siapapun yang belajar dengan hati yang bersih, jujur, sabar, dan tawakal — dialah lulusan terbaik di hadapan Allah.

Di dunia kita mengenal “cumlaude”, di akhirat dikenal “maqām mahmūd” — derajat terpuji bagi mereka yang lulus dengan iman dan amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

“Dunia adalah ladang untuk akhirat.” (HR. Baihaqi)

Artinya, setiap benih kebaikan yang kita tanam di dunia akan tumbuh menjadi bunga pahala di akhirat. Tapi kalau ladang ini diisi dengan kebencian, kesombongan, dan tipu daya, maka saat panen nanti, yang tumbuh hanyalah penyesalan.

Maka, belajarlah bukan untuk terkenal, tapi untuk mengenal.
Bukan untuk diingat manusia, tapi untuk diingat oleh Allah.
Karena yang kekal bukan nama, tapi amal.
Yang abadi bukan pujian, tapi ridha-Nya.

Di sekolah dunia, kita mungkin jatuh berkali-kali, tapi jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Sebab, nilai akhirmu bukan ditentukan dari berapa kali kau jatuh, tapi seberapa sering kau bangkit dan menyesal di hadapan-Nya.

Dan ketika hari wisuda itu tiba, semoga Allah berfirman lembut kepadamu:

“Engkau telah belajar dengan sabar, menangis dalam sujud, berusaha tanpa pamrih, dan menjaga akhlak di tengah fitnah. Kini, pulanglah… ijazahmu sudah diterima di sisi-Ku.”

Inilah wisuda abadi, di mana toga-nya adalah cahaya amal, ijazahnya adalah ridha Allah, dan tempat wisudanya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudino Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *