Pemuda, Teruslah Bergerak!

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kapan pun menarik, jika bicara tentang pemuda. Di berbagai belahan dunia, sejarah mencatat berbagai kontribusi positif dari pemuda bagi perbaikan keadaan. Di Indonesia juga, terutama lewat peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Catatan Emas

Al-Qur’an memberi porsi yang cukup dalam menggambarkan siapa dan peran strategis apa yang bisa dimainkan pemuda. Misalnya, Al-Qur’an berkisah tentang Ibrahim As, sosok pemuda yang kuat dalam berdakwah. Dia berani menghancurkan berhala-berhala buatan bapaknya sendiri dan sebagai akibatnya dia harus berhadapan dengan Namrudz–penguasa ketika itu-yang zalim.

Teladan pemuda yang berakidah kuat, sabar, dan lembut ada dalam diri Ismail As. Lihatlah ketika Ibrahim As–sang ayah-menyampaikan mimpi (baca: wahyu Allah) bahwa Ismail harus dikurbankan. Ketika Ibrahim As memberi waktu Ismail untuk berfikir, dia menggeleng: “Tak perlu. Mari kita segera tunaikan perintah itu.”

Musa As adalah contoh yang lain. Dia pemuda yang haus ilmu. Perhatikanlah, bagaimana sikapnya yang sangat antusias saat dia berguru kepada Nabi Khidir As. Kecuali itu, Musa As pun dikenal sebagai pemuda tanpa pamrih. Dia tak suka ”obral jasa”, lalu menagih ”biaya investasi”-nya. Misalnya, lihatlah ketika dia membantu dua wanita-yaitu anak Nabi Syu‘aib As-di saat mereka memberi minum ternaknya.

Cermatilah Yusuf As. Dia pemuda yang mampu membendung godaan syahwat, sekalipun itu datang dari wanita kaya dan terhormat. Untuk pilihan sikapnya yang teguh itu, diapun ikhlas saat harus dipenjara karenanya.

Lalu, adakah contoh dari kalangan pemudi? Maryam adalah contoh wanita muda yang mampu menjaga kehormatannya. Tentang ini, mari simak (terjemah) dua ayat berikut ini. ”Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam” (QS Al Anbiyaa’ [21]: 91). ”Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat” (QS At-Tahrim [66]: 12).

Kisah-kisah di atas semua ada di Al-Qur’an. Jejak mereka terekam untuk menjadi i‘tibar (pelajaran) bagi generasi selanjutnya dan terutama bagi para pemuda. “Maka, ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan” (QS Al-Hasyr [59]: 2).

Saksikan pula, antara lain, peran Asma binti Abu Bakar dalam perjuangan Islam. Kita ingat, terutama saat Peristiwa Hijrah. Dalam momen menegangkan tersebut, dia termasuk yang memainkan peran penting. Antara lain, dia bertugas membawa makanan untuk Nabi Muhammad Saw dan sang ayah yaitu Abu Bakar Ra.

Sejarah Bagus

Di pentas sejarah, pemuda itu pelopor pendobrak tatanan yang rusak. Mereka bergerak dan menggantikannya dengan tatanan baru yang jauh lebih baik. Maka, segenap pemuda Islam harus mampu mengikuti jejak sejarah emas itu.

Lihatlah sejarah! Pemuda-lah yang kali pertama menyambut positif kehadiran Islam. Setelah Khadijah menyatakan keislamannya, maka Ali bin Abi Thalib RA menyusul di hari kedua kerasulan Muhammad Saw. Ketika itu Ali Ra berusia 10 tahun.
 
Selanjutnya, sebagai pemuda, keberanian Ali Ra tidak tertandingi. Ali Ra pun dikenal sebagai pemuda berilmu luas. “Jika saya adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintunya,” demikian Nabi Saw pernah memberi tamsil tentang tingginya ilmu Ali Ra.

Di samping Ali Ra, banyak sahabat Nabi Saw dari kalangan muda lainnya yang juga memiliki peran serupa dengannya, antara lain Usman bin Affan Ra, Umar bin Khaththab Ra, Khalid bin Walid Ra, dan Ja’far bin Abi Thalib Ra.

Indonesia Juga

Bagaimana dengan Indonesia? Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah salah satu tonggak sejarah Indonesia. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sulit dipisahkan dari kontribusi besar ”hasil karya” pemuda di tahun 1928 itu yang–ketika itu-membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat orang Indonesia asli. Sebuah tekad yang lalu menjadi komitmen seluruh rakyat Indonesia untuk lebih bersungguh-sungguh meraih kemerdekaannya.

Pada 1945 proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Di peristiwa itu sosok Muhammad Hatta berperan sangat penting. Dia lahir pada 12/08/1902 dan wafat pada 14/03/1980. Di antara hal yang menarik, mulai usia 15 tahun, Hatta telah aktif berorganisasi. Dia memulainya di Jong Sumatranen Bond Cabang Padang.
Pada 1966 Indonesia bergolak. Rakyat–terutama pemuda, pelajar, dan mahasiswa-menentang rezim Orde Lama. Di antara elemen perjuangan masyarakat yang berperan sangat penting ketika itu adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Di KAMI antara lain bergabung HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sementara, di KAPPI antara lain bergabung PII (Pelajar Islam Indonesia).

Sejarah menyebutkan bahwa sangat banyak di antara tokoh-tokoh penting yang turut ”mewarnai dunia” adalah orang-orang yang di masa mudanya aktif berorganisasi. Lewat organisasi, pemuda terlatih menjadi tangguh dalam bergerak dan berjuang.

Agar Jernih

Mari ingat nasihat Imam Syafi’i agar kita (terutama pemuda) terus beraktifitas dan berjuang. “Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika air mengalir menjadi jernih dan jika tidak mengalir akan keruh”. 

Terakhir, ingatlah juga nasihat yang sangat bermakna dari Buya Natsir. Pada 1951, sang Bapak NKRI itu menulis artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.” Artinya, duhai para pemuda, teruslah bergerak! []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *