Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim n Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam sejarah Islam, ada rantai emas ilmu yang tidak pernah putus — rantai yang menyambungkan hati para ulama dari zaman Nabi ﷺ hingga generasi setelahnya.
Rantai itu bukan sekadar silsilah nama, tapi rantai adab, keilmuan, dan pengorbanan.
Lihatlah urutannya:
- Abu Hurairah — murid dari Rasulullah ﷺ, penyimpan ribuan hadits.
- Al-A‘raj — murid dari Abu Hurairah.
- Imam Nāfi‘ — murid dari Al-A‘raj.
- Imam Mālik — murid dari Imam Nāfi‘.
- Imam Syāfi‘i — murid dari Imam Mālik.
- Imam Ahmad bin Hanbal — murid dari Imam Syāfi‘i.
- Imam al-Bukhārī — murid dari Imam Ahmad.
- Imam Muslim — murid dari Imam al-Bukhārī.
Subḥānallāh… rantai ini seperti cahaya yang diturunkan dari generasi ke generasi, setiap murid membawa sinar gurunya, lalu memantulkannya dari sisi yang berbeda — bukan untuk memadamkan, tapi memperluas terang.
Dari Abu Hurairah ke Para Imam: Satu Hati, Banyak Sudut Pandang
Ketika Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ, ia menjadi jembatan cahaya wahyu.
Namun ketika generasi demi generasi berlalu, para ulama mulai berhadapan dengan situasi sosial dan realitas hukum yang berbeda.
Di sinilah mulai muncul ijtihad — upaya memahami wahyu dengan konteks zaman.
Maka perbedaan bukan karena “putusnya sanad keimanan,” tapi karena luasnya samudra syariat.
Sama seperti sungai yang mengalir dari satu sumber tapi membentuk banyak cabang — semuanya tetap menuju ke samudra kebenaran yang sama.
Imam Syafi‘i dan Dua Qaul: Qadīm & Jadīd
Salah satu bukti bahwa ilmu itu dinamis adalah Imam Syafi‘i sendiri punya dua periode pemikiran:
- Qaul Qadīm (pendapat lama) – ketika beliau menetap di Irak.
Di sini pengaruh logika dan rasionalitas Imam Abu Hanifah terasa, karena Syafi‘i berdialog dengan banyak ulama Kufah.
- Qaul Jadīd (pendapat baru) – setelah beliau pindah ke Mesir.
Di Mesir, beliau menemukan konteks sosial dan tradisi yang berbeda, lalu merevisi sebagian pandangannya berdasarkan hadis-hadis dan amal masyarakat yang lebih kuat.
Ini menunjukkan bahwa ijtihad bukan dogma kaku, tapi proses pencarian kebenaran yang jujur dan rendah hati.
Imam Syafi‘i:
رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar, tapi bisa salah; pendapat orang lain salah, tapi bisa benar.”
Kalimat ini bukan hanya adab ilmiah, tapi kode etik intelektual yang abadi — sebuah pengakuan bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh satu kepala, tapi dijaga oleh banyak hati yang tunduk pada wahyu.
Filsafatnya: Cahaya Ilmu Tidak Pernah Mati
Bayangkan rantai ilmu itu seperti nyala lilin di malam panjang.
Satu lilin menyalakan lilin berikutnya.
Cahayanya mungkin berbeda arah, tapi sumber apinya tetap sama — Nur dari Rasulullah ﷺ.
Ketika Imam Malik menyalakan lilin Imam Syafi‘i, dan Syafi‘i menyalakan lilin Imam Ahmad, mereka tidak sedang menggandakan cahaya, tapi menyebarkan kehangatan wahyu agar tak padam di zaman yang terus berubah.
Maka…
Perbedaan fiqh yang muncul bukanlah jurang, tapi taman dengan bunga yang beraneka warna.
Semua tumbuh dari tanah yang sama — Al-Qur’an dan Sunnah — tapi disirami dengan air pemahaman yang berbeda sesuai musimnya.
Inilah rahmatnya perbedaan.
Inilah keindahan sanad keilmuan Islam:
Guru dan murid bisa berbeda pendapat, tapi keduanya tetap saling menundukkan hati kepada yang satu — Allah Ta‘ala.
Dari Rasulullah ﷺ ke Abu Hurairah, dari Abu Hurairah ke Al-A‘raj, dari Nāfi‘ ke Mālik, dari Mālik ke Syafi‘i, dari Syafi‘i ke Ahmad, dari Ahmad ke Bukhārī, dari Bukhārī ke Muslim —
itulah rantai emas ilmu dan adab.
Dan di tengah semua perbedaan itu, mereka sepakat dalam satu hal: Bahwa ilmu bukan untuk membesarkan nama, tapi untuk membesarkan agama.
Penutup
“Dari Rasulullah hingga Imam Syafi‘i, ilmu diturunkan bukan untuk memecah, tapi menyatukan. Karena cahaya kebenaran itu tak lahir dari ego, tapi dari hati yang tunduk kepada-Nya.”
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
