Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com Surabaya – Masyarakat kembali tersentak. Ada lagi berita mengenaskan! Seorang pelajar meninggal sebagai akibat bully. Setidaknya, masalah tersebut bisa kita ikuti di berita ini: ”Ayah Ungkap Siswa SMP di Grobogan yang Tewas di Sekolah Sering Di-bully” (https://news.detik.com 14 Oktober 2025).
Tentu, masalah yang seperti di atas harus terus menjadi perhatian kita. Terutama, dalam hal memikirkan bagaimana cara mengurangi bahkan meniadakan perilaku negatif. Sikap yang dimaksud, mulai dari suka mengolok-olok sampai ke bully.
Sangat Merugikan
Mengolok-olok tak mengenal musim. Perilaku terlarang itu telah berlangsung lama dan terus terjadi. Padahal, kerugian yang ditimbulkan oleh olok-olok–apalagi bully-sangat besar.
Mengolok-olok bisa menimbulkan rasa puas bagi yang melakukannya dan ketidaknyamanan bagi korbannya. Mengolok-olok adalah perilaku terlarang. Perhatikanlah (terjemah) ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Dan, janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS Al-Hujuraat [49]: 11).
Hemat Buya Hamka, tindakan mengolok-olok, mengejek, dan menghina tidaklah layak dilakukan oleh orang yang beriman. Hal ini, karena orang yang beriman akan selalu menilai kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. Dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman saja-lah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.
Adapun sikap yang benar, lanjut Hamka, hendak-lah kita bersikap tawadhu’. Kita harus rendah hati! Kita mesti menginsafi kekurangan yang ada pada diri sendiri.
Janganlah kita mencela! Kita dilarang mencela, kata Hamka, karena mencela orang lain itu sama saja dengan mencela diri sendiri. Kalau kita sudah berani mencela orang lain, membuka rahasia aib orang lain, maka jangan lupa bahwa orang lain pun sanggup membuka rahasia kita. Artinya, mencela orang lain itu sama saja dengan mencela diri sendiri (Hamka, 2003: 6828).
Parah, Parah!
Tak hanya olok-olok, bully yang daya tekannya lebih “menusuk” kini juga banyak terjadi di sekitar kita. Bully (dari kata bullying) adalah perilaku menyakiti orang atau fihak lain secara verbal, psikis, dan/atau fisik. Akibatnya, sedemikian rupa bisa menimbulkan perasaan tertekan, tak berdaya, dan trauma bagi korban.
Bentuk bully beragam. Bully yang sifatnya verbal, seperti mengejek atau memaki orang / fihak lain. Bully yang sifatnya psikis, seperti tak mengacuhkan atau mengisolasi orang / fihak lain dari pergaulan. Bully yang sifatnya fisik, seperti memukul atau menendang orang / fihak lain.
Berikut ini sekadar ilustrasi. Pertama, ada murid stres berat di-bully teman sekelasnya. Akibatnya, si murid takut ke sekolah terutama karena korban mengalami cedera serius di salah satu bagian badannya akibat di-bully itu. Dia lalu trauma berat, bahkan mau bunuh dir.
Kedua, di luar negeri, akibat terus di-bully seorang gadis pilih gantung diri. Intinya, seorang gadis kecil memilih bunuh diri karena stres akibat bully yang dialaminya.
Olok-olok dan/atau bully bisa berlangsung kapan dan di mana saja. Misalnya, sikap tak terpuji itu bisa muncul di pertandingan olahraga antarkelas. Bisa juga di sebuah ajang kontestasi politik.
Penjelasan dan Petunjuk
Soal olok-olok dan bully, semua Nabi pernah merasakan sakitnya. Perhatikanlah ayat ini: “Dan tiada seorang Nabi-pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS Az-Zukhruf [43]: 7). Misal, cermatilah bagaimana kaum Nabi Nuh As mengolok-olok Sang Nabi terkait kapal besar yang sedang dibuatnya. Kaum kafir itu hanya mengandalkan pengetahuan mereka yang terbatas, bahwa sangat tak beralasan membuat kapal sementara negeri mereka jauh dari laut.
Lihatlah pula, olok-olok apa saja yang pernah diterima Nabi Muhammad Saw. Misal, dibilang gila atau tukang sihir. Puncaknya, bully itu berupa rencana pembunuhan kepada Nabi Saw. Drama di sekitar bully inilah yang kemudian menjadikan Nabi Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Panduan Jelas
Tak dapat tidak, mari bekali kita dan terutama anak-anak kita dengan ajaran yang bisa menguatkan mental untuk tak suka mem-bully orang. Pertama, jangan zalim. Perilaku zalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Mem-bully itu perilaku zalim, maka tinggalkanlah. Di Hadits Qudsi, Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian. Maka, janganlah kalian saling menzalimi” (HR Muslim).
Kedua, selalu berkata baik atau diam. Perhatikan terjemah hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim). Selalu muliakanlah orang lain dengan cara berkata-kata yang baik atau jika tidak mampu maka diamlah.
Ketiga, biasakan untuk meninggalkan aktivitas yang tak berguna. Cermatilah terjemah hadits ini: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya” (HR Tirmidzi). Bahwa, menjadi kewajiban seseorang demi kebagusan keislamannya untuk meninggalkan semua yang tidak penting karena semua aktivitas itu akan ada catatannya di Sisi Allah.
Berikutnya, kuatkan mental kita dan terutama anak-anak. Jika–misalnya-di suatu saat mendapat olok-olok dan/atau bully, maka: Pertama, bersabarlah dengan menanamkan pemahaman sebagaimana di QS Al-Hujuraat [49]: 11 di atas, bahwa ada Ajaran Mulia ini: “Boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)”. Lalu, tambahlah keyakinan itu dengan ayat terkait, bahwa: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al-Hujuraat [49]: 13).
Kedua, di saat menghadapi masalah–termasuk ketika menerima olok-olok dan/atau bully-, sekali-kali jangan langsung bersikap ekstrem. Misalnya, dengan bunuh diri. Tindakan bunuh diri termasuk dosaddds besar. Allah3 mengharamkan seseorang membunuh dirinya sendiri, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS An-Nisaa’ [4]: 29). Nabi Saw juga bersabda: “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada Hari Kiamat ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula” (HR Bukhari dan Muslim).
Khusus kaitan masalah ini dengan anak-anak: Pertama, selamatkanlah anak-anak, dengan memandunya agar tak berhobi mengolok-olok dan/atau mem-bully orang lain.
Kedua, selamatkanlah mereka dari kemungkinan berbuat naif atau ekstrem di saat menerima olok-olok dan/atau bully.
Doa Tulus
Singkat kata, selalu berilah anak-anak asupan ruhani yang memadai. Ajari anak-anak sikap untuk tak suka mengganggu orang lain. Didik mereka untuk sabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Tentu saja, sebagai orang tua, kita harus telah terlebih dahulu mengamalkan hal-hal tersebut.
Terakhir, ingat-ingatlah selalu nasihat Hamka ini, bahwa tindakan mengolok-olok, mengejek, dan menghina tidaklah layak dilakukan oleh orang yang beriman. Hal ini, karena orang yang beriman akan selalu menilai kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.
Semoga Allah kuatkan kita! Mudah-mudahan kita, terutama anak-anak / pelajar, tak terjerumus pada perilaku negatif yaitu suka mengolok-olok dan apalagi senang mem-bully orang lain. Aamiin. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
