Da’i di Era Digital: Tantangan dan Peluang Mengawal Dakwah di Tengah Arus Teknologi

Oleh : Ust. Nur Adi Septanto, Anggota
Bidang Pembinaan Dai, KUB dan Dakwah Khusus DDII Jatim dan Humas Pesantren PERSIS Bangil

Dewandakwahjatim.com, Bangil – Dunia dakwah kini telah memasuki babak baru. Jika dahulu mimbar dan pengeras suara menjadi sarana utama menyampaikan risalah Islam, kini layar gawai dan jaringan internet menjadi panggung dakwah yang tak berbatas ruang dan waktu. Dunia digital membuka peluang besar bagi para da’i untuk menebarkan cahaya kebenaran, namun sekaligus menghadirkan tantangan yang tidak ringan.

Dakwah Tak Lagi Terbatas oleh Ruang dan Waktu

Perangkat digital — mulai dari media sosial, podcast, kanal video, hingga aplikasi cerdas — telah menjadikan dakwah menjangkau siapa pun, di mana pun.
Dai kini dapat berdialog dengan jamaah lintas kota bahkan lintas negara, tanpa harus menunggu undangan ke podium.
Konten singkat yang menyentuh hati dapat lebih cepat menyadarkan daripada khutbah yang panjang tanpa makna.

Inilah peluang besar:

  • Menyebarkan ilmu dan hikmah secara luas.
  • Menghidupkan dakwah kreatif melalui video, tulisan, infografik, atau podcast.
  • Menyentuh generasi muda dengan bahasa yang mereka pahami.

Kecerdasan Buatan: Mitra, Bukan Penguasa

Kini hadir pula perangkat kecerdasan buatan (AI) yang mampu membantu da’i merancang ide, mengoreksi tulisan, bahkan menyusun naskah khutbah atau materi kajian.
Namun penting untuk disadari: AI hanyalah alat bantu, bukan sumber kebenaran mutlak.
Ia dapat menyempurnakan ide, meminimalkan kesalahan, dan mempercepat kerja, tetapi jiwa dakwah — keikhlasan, hikmah, dan sentuhan hati — tetap berada di tangan manusia beriman.

Da’i harus menjadi pengendali teknologi, bukan sebaliknya.
Sebab jika da’i lalai, teknologi justru dapat menyetir manusia menuju kecepatan tanpa arah, popularitas tanpa makna, dan pengetahuan tanpa hikmah.

Tantangan yang Mengintai

Era digital membawa godaan baru:

  • Informasi berlimpah tanpa verifikasi. Banyak dai terjebak menyebarkan kabar atau dalil tanpa memastikan kebenarannya.
  • Lomba popularitas. Ukuran dakwah bukan lagi keikhlasan, tetapi jumlah “like” dan “subscriber”.
  • Kelelahan digital (digital fatigue). Terlalu banyak aktivitas daring tanpa keseimbangan ruhani dapat mengikis keikhlasan dan fokus.
  • Khilaf dalam etika digital. Gaya bicara yang kasar, debat tanpa adab, atau komentar yang menyakiti hati menjadi racun yang merusak wibawa dakwah.

Jalan Tengah: Menguasai, Bukan Dikuasai

Agar da’i tetap kokoh di tengah derasnya arus teknologi, perlu tiga bekal utama:

Literasi Digital

Da’i perlu memahami cara kerja media sosial, algoritma, dan keamanan digital. Dengan begitu, ia dapat mengatur konten yang bermanfaat dan menghindari jebakan fitnah digital.

Integritas dan Keikhlasan

Teknologi bisa meniru suara dan wajah, tapi tidak bisa meniru niat dan keikhlasan hati. Inilah kekuatan yang membedakan da’i sejati dari sekadar “influencer”.

Inovasi Berlandaskan Nilai

Gunakan teknologi untuk memperkuat pesan tauhid dan akhlak. Misalnya:

  • Membuat konten pendek penuh hikmah.
  • Mengadakan kajian daring interaktif.
  • Memanfaatkan AI untuk riset, desain dakwah, dan efisiensi administrasi.
    Namun tetap pastikan nilai, adab, dan orisinalitas menjadi jantungnya.

Dakwah yang Berjiwa, Berbasis Hikmah

Rasulullah ﷺ berdakwah dengan kelembutan dan keteladanan.
Di era digital, prinsip itu tidak berubah — hanya medianya yang bergeser.
Kata-kata yang baik tetaplah sedekah, entah diucapkan di mimbar, atau diketik di layar ponsel.

Da’i sejati bukan hanya menguasai algoritma, tetapi juga menghidupkan ruh dakwah.
Ia menuntun manusia dengan ilmu, bukan mengajak dengan emosi.
Ia menjadikan teknologi sebagai kendaraan menuju ridha Allah, bukan sebagai tuhan baru yang mengikat manusia pada layar tanpa makna.

Era digital bukan ancaman bagi dakwah, melainkan ladang amal yang luas.
Selama da’i mampu mengendalikan teknologi dengan hikmah, menata niat dengan ikhlas, dan memanfaatkan kecanggihan untuk menebar cahaya Islam, maka setiap klik, setiap unggahan, bahkan setiap baris tulisan — akan menjadi pahala jariyah yang terus mengalir.

“Gunakan teknologi untuk menebar kebaikan, bukan kebisingan.
Jadilah da’i yang memegang kendali atas alat, bukan da’i yang dikendalikan oleh layar.”
.
Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *