Oleh Muhammad Falakhul Insan, Remaja Masjid Jogokariyan Jogjakarta
Dewandakwahjatim.com, Jogjakarta – Jika kita benar-benar ingin Palestina merdeka, salah satu usaha wajib ialah belajar tentangnya. Belajar untuk memahami sejarahnya. Tentu, termasuk kisah panjang perjuangannya.
Isu Palestina adalah persoalan besar. Maka, untuk memahaminya, kita perlu belajar. Jika kita tidak mempelajarinya dengan seksama, bisa jadi kita terjebak pada arus informasi yang salah tentangnya. Hal ini, sebab sebagaimana isu besar lainnya, ada pihak-pihak yang tak ingin dunia tahu kebenarannya.
Dari Jogokariyan untuk Palestina
Saya tumbuh-kembang dan tinggal di kampung Jogokariyan, sebuah kampung sederhana di salah satu sudut Jogjakarta. Posisi ini, saya syukuri. Edukasi tentang Palestina sudah lama dilakukan di masjid kami, Masjid Jogokariyan, sejak awal tahun 2000-an. Terkait, hampir dipastikan, jamaah Masjid Jogokariyan, baik yang masih belia apalagi sudah tak lagi muda, pernah mendapatkan edukasi seputar Palestina dan perjuangan rakyat Palestina.
Masjid kami sering kedatangan para ahli dalam bidang sejarah, hubungan internasional, dan peneliti tentang Palestina. Tak jarang, hadir pula para dokter, relawan kemanusiaan, dan jurnalis yang mereka mengetahui langsung keadaan di lapangan.
Kadang kami terfikir, “Dengan ilmu dan akses pengetahuan yang Allah titipkan, apa yang sudah kami lakukan untuk membantu perjuangan ini?”
Tulisan ini hanyalah sebahagian kecil dari pelajaran berharga yang pernah kami dapat — dari para asatidz, peneliti, dokter, jurnalis, dan mereka yang benar-benar terjun dalam perjuangan ini. Semoga risalah ini dapat menjadi kontribusi kecil yang dapat turut menguatkan kita untuk terus belajar tentang Palestina — sebagai bentuk dukungan kita menuju kemerdekaannya.
Perspektif Indonesia
Kita, bangsa Indonesia, sebenarnya dekat dan relate dengan isu Palestina. Kita sama-sama pernah merasakan penjajahan. Kita tahu bagaimana rasanya ”kehilangan” Tanah Air, kebebasan, dan kehormatan.
Hari-hari ini, saudara-saudara kita di Palestina sedang menghadapi hal yang sama. Mereka berjuang, mereka melawan. Mereka pun menginginkan perdamaian — namun sering kali dikhianati dalam perjanjian.
Coba ingat kisah Pangeran Diponegoro yang dijanjikan perundingan, tapi malah ditangkap. Namun sebelum itu, renungkan: “Kenapa Belanda mengajak berunding? Tak lain, karena mereka kewalahan menghadapi perlawanan rakyat.”
Belum lama ini, penjajah menawarkan proposal “perdamaian” dengan syarat Palestina tidak boleh memiliki kekuatan militer. Senada dengan itu beberapa negara Barat juga bersedia mengakui negara Palestina dengan syarat tidak adanya faksi perjuangan militer yang kini menguasai Gaza. Hal itu seperti memposisikan Palestina sebagai salah satu wilayah di bawah kekuasaan penjajah yang sewaktu-waktu bisa bertindak sewenang-wenang tanpa adanya perlawanan.
Lebih parah lagi, kelompok sayap kanan penjajah bahkan menolak solusi dua negara. Mereka ingin “Greater Israel”, yang mencakup wilayah lebih luas dari sekadar Palestina.
Perspektif Keimanan
Sebagai seorang Muslim, kita memiliki tiga masjid suci: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Ketiganya mulia dan wajib kita muliakan. Kalau Masjidil Aqsha bukan tempat yang istimewa, mengapa ‘Umar ibn al-Khattāb Ra atas wasiat Rasulullah Saw, rela menempuh perjalanan jauh untuk membebaskannya? Kalau Masjidil Aqsha bukan tempat yang istimewa, mengapa Rasulullah Saw mewasiatkan agar kita menziarahi, memuliakannya, dan menyalakan cahayanya?
Hari ini, Allah sedang menguji kita. Masjid yang mulia itu —Masjid Al-Aqsha— kini berada di bawah kekuasaan mereka yang dengan terang-terangan menghalangi kaum Muslimin beribadah dan memakmurkannya. Bahkan, pernah ada tokoh politik sayap kanan penjajah yang sengaja masuk ke kawasan masjid dan menghinakannya — kejadian itu memicu bentrokan dan gugurnya banyak Muslim yang membelanya.
Pada akhirnya, kita perlu ingat bahwa penjajahan dan genosida ini bukan baru terjadi sejak 7 Oktober 2023, tapi sudah berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia I dan semakin parah selepas Perang Dunia II.
Nyala Perjuangan
Seiring berjalannya perjuangan dan perlawanan, Allah tumbuhkan generasi yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. Merekalah yang menolak tunduk pada penjajahan, yang menjaga agar Masjid Al-Aqsha tak lagi direndahkan. Mereka tahu — perjuangan ini bukan sekadar tentang Tanah Air, tapi tentang kehormatan dan kemuliaan masjid suci.
Taufan Al-Aqsha bukan sekadar peristiwa tapi gerakan. Sebuah gerakan agar umat ini terbangun dari tidur lelapnya, tak lagi diam ketika masjid sucinya direndahkan.
Taufan Al-Aqsha adalah panggilan untuk kita. Panggilan, agar kita terus berjuang sampai Al-Aqsha dan Palestina merdeka. Allahu Akbar! []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
