Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim
لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ كَانَ أَبِي، وَلَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ هَا أَنَا ذَا
“Bukanlah pemuda sejati dia yang berkata: ‘Dulu ayahku begini dan begitu,’ tetapi pemuda sejati adalah dia yang berkata: ‘Inilah aku sekarang!’” — Pepatah Arab klasik, dinukil dalam Al-Bayān wa al-Tabyīn karya Al-Jāḥiẓ
Di Antara Bayang Nama Besar dan Cermin Diri
Setiap generasi lahir membawa beban dan harapan. Ada yang lahir dari garis keturunan ulama, pejuang, atau orang-orang mulia yang menoreh sejarah. Tapi pepatah Arab kuno ini datang seperti tamparan lembut — mengingatkan bahwa kemuliaan tak bisa diwariskan seperti harta.
Kemuliaan itu harus diperjuangkan, bukan dipinjam.
Kamu mungkin anak dari seseorang yang hebat — tapi jika kamu hanya hidup dari cerita masa lalu, maka kamu cuma penonton dari film yang bukan kamu sutradarai.
“Bukanlah pemuda sejati dia yang berkata, ‘ayahku dulu begini’, tetapi yang berkata, ‘inilah aku sekarang’.”
Pepatah ini seperti menyinari sisi batin manusia yang sering terlena dalam nostalgia.
Manusia kadang terlalu sibuk mengulang masa lalu sampai lupa mencipta masa depan.
Filosofi di Balik Kata “Al-Fatā”
Kata الفَتَى (al-fatā) dalam bahasa Arab tak sekadar berarti “pemuda”.
Ia bermakna lebih dalam — jiwa yang hidup, berani, penuh cita, dan siap memikul tanggung jawab.
Dalam Al-Qur’an, kata ini digunakan untuk menyebut Ashabul Kahfi: sekelompok pemuda yang menolak tunduk pada kekuasaan zalim demi mempertahankan iman.
Mereka tidak menunggu ayah mereka memimpin, tidak berlindung di balik ketenaran siapa pun.
Mereka berkata dengan tindakan: “Hā anā dhā” — inilah kami sekarang!
Maka, menjadi al-fatā bukan soal umur muda, tapi jiwa yang hidup dan berani berdiri atas keyakinan sendiri.
Ketika Kebanggaan Berganti Beban
Berapa banyak dari kita yang bangga dengan silsilah, tapi tak punya karya?
Berapa banyak yang menyebut nama besar keluarganya, tapi kehilangan makna besar dirinya sendiri?
Kadang, kebanggaan itu berubah jadi beban.
Kita takut gagal, bukan karena takut kehilangan arah, tapi takut merusak nama yang kita warisi.
Namun, dalam pandangan Islam, setiap jiwa berdiri di hadapan Allah bukan dengan nama keluarganya, tapi dengan amalnya.
“Dan tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain. Dan manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 38–39)
Maka, kisah hidup bukan tentang siapa yang melahirkanmu, tapi siapa yang kamu pilih untuk menjadi.
Karena pada akhirnya, Allah tidak bertanya, “siapa ayahmu?” tetapi “apa yang telah kamu lakukan dengan hidupmu?”
“Hā Anā Dhā” — Sikap Eksistensial Muslim Sejati
Kalimat “هَا أَنَا ذَا” (Hā anā dhā) adalah deklarasi keberanian spiritual.
Ia adalah bentuk eksistensi yang bukan sombong, tapi sadar:
bahwa kita dihidupkan bukan untuk meniru, tapi untuk melanjutkan.
Seorang Muslim yang sejati tahu bahwa iman bukan nostalgia, tapi gerak dan karya.
Ibadah bukan sekadar ritual warisan, tapi hidangan kesadaran yang disantap dengan ruh dan tindakan.
Iman tanpa tindakan hanyalah kenangan.
Tindakan tanpa iman hanyalah rutinitas kosong.
Tapi iman yang bergerak — itulah “Hā anā dhā”: keberanian untuk hadir sebagai diri yang beriman, hidup, dan bermakna.
Gen Z dan Tantangan “Nama Baik Digital”
Di era digital, bentuk “nama besar” sudah berubah.
Bukan lagi sekadar garis keturunan, tapi reputasi online.
Kita sibuk membangun citra, menata feed, dan menjaga “nama baik digital” yang kadang hanya topeng dari kekosongan batin.
Pepatah ini menantang:
Apakah kamu hidup untuk mempertahankan image, atau untuk menegakkan jati diri?
Dunia maya mungkin menilai dari tampilan,
tapi Allah menilai dari niat dan tindakan.
Dunia bisa memuja “anak siapa”,
tapi akhirat hanya menghargai “siapa kamu di hadapan-Nya.”
“Hā anā dhā” dalam Realitas Kekinian
Di tengah hustle culture, kita sering mengejar validasi: ingin diakui, ingin terlihat sukses.
Namun, Hā anā dhā bukan tentang pembuktian di depan manusia — tapi tentang kejujuran di depan Tuhan.
“Inilah aku sekarang,” artinya: aku siap bertanggung jawab atas hidupku. Aku tidak berlindung di balik nama besar siapa pun,
tidak juga menyalahkan siapa pun atas kegagalanku. Aku berdiri dengan segala rapuhku, tapi tetap melangkah.
Itulah tawakkal aktif — bergerak dengan iman, bukan dengan gengsi.
Penutup: Saatnya Menulis Babmu Sendiri
Generasi hari ini bukan sekadar penerus, tapi penulis bab baru dalam kisah peradaban Islam.
Kita boleh menghormati para pendahulu, tapi jangan cuma jadi penonton masa lalu.
Hidupmu adalah kanvas kosong — dan tinta yang kamu pegang adalah amalmu sendiri.
Jangan berhenti di kalimat “dulu ayahku…”
Lanjutkan dengan kalimat: “dan sekarang, inilah aku — melanjutkan jejak itu dengan caraku.”
Karena kemuliaan sejati bukan pada garis keturunan, tapi pada arah perjalanan.
Dan Allah selalu menatap mereka yang melangkah, bukan hanya mereka yang bercerita.
“Hā anā dhā” — Inilah aku, wahai Tuhanku. Aku datang, membawa diriku apa adanya, siap Kau bentuk dengan takdir dan ikhtiar.
Referensi:
- Al-Jāḥiẓ, Al-Bayān wa al-Tabyīn
- Al-Aṣma‘ī, Riyāḍ al-Ṣāliḥīn min Kalām al-‘Arab
- Al-Qur’an, QS. An-Najm [53]: 38–39
- Riwayat hikmah dalam Majmū‘at al-Amthāl al-‘Arabiyyah
