Oleh Choirul Hidayat, Waiil Ketua Bidang Ekonomi DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia hari ini bukan sekadar angka statistik. Di balik 270 juta jiwa penduduk, tersimpan potensi besar yang bisa menggerakkan ekonomi bangsa — bila diarahkan dengan nilai, visi, dan ruh dakwah yang kuat.
Hal ini disampaikan oleh Choirul Hidayat, yang akrab disapa Gus Choi, Wakil Ketua Bidang Ekonomi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur, dalam refleksi ekonominya berjudul “Wirausaha di Indonesia: Pertumbuhan vs Kualitas.”
Menurut Gus Choi, data Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2022/2023 menunjukkan tingkat kewirausahaan pemula (TEA) Indonesia mencapai 21,2% — salah satu yang tertinggi di dunia.
“Artinya, satu dari lima orang dewasa di negeri ini sedang memulai atau mengembangkan usaha. Tapi tantangannya bukan seberapa banyak yang mulai, melainkan seberapa banyak yang bisa bertahan dan memberi manfaat,” ujar Gus Choi.
Antara Kuantitas dan Kualitas
Gus Choi menyoroti fenomena meningkatnya jumlah pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang tumbuh karena keterpaksaan, bukan karena peluang.
“Banyak yang berwirausaha karena tidak ada pilihan kerja lain. Padahal, wirausaha sejati lahir dari visi, keberanian, dan niat menebar maslahat,” jelasnya.
Generasi Z dan Milenial, lanjutnya, menjadi motor utama semangat wirausaha digital. Mereka kreatif dan adaptif, tapi sering kali belum dibekali literasi bisnis dan nilai-nilai spiritual yang kokoh.
“Semangat saja tidak cukup. Harus ada pembinaan karakter, integritas, dan pemahaman bahwa bisnis adalah bagian dari amanah dakwah,” tegas Gus Choi.
Dakwah Ekonomi: Jalan Baru Membangun Umat
Bagi DDII Jawa Timur, ekonomi bukan sekadar urusan finansial, tapi bagian dari misi dakwah yang lebih luas.
“Menjadi pengusaha berarti menjadi khalifah di bumi. Mengelola rezeki, peluang, dan sumber daya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kemaslahatan umat,” tutur Gus Choi, yang juga menjadi Voluntary Coach di Indonesia Islamic Business Forum (IIBF).
Melalui Bidang Ekonomi, DDII Jatim terus menggerakkan program-program strategis seperti pendidikan kewirausahaan Islami, pendampingan UMKM berbasis masjid, dan literasi keuangan syariah.
“Wirausaha yang beriman itu tahan badai, karena pondasinya bukan sekadar logika untung rugi, tapi kejujuran dan keberkahan,” tambahnya.
Belajar dari Negara Tetangga, Bergerak Lebih Terarah
Dalam refleksinya, Gus Choi juga menyinggung pembelajaran dari negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
“Malaysia dan Singapura punya tingkat wirausaha lebih rendah dari kita, tapi kualitasnya tinggi karena sistemnya matang. Artinya, semangat saja tidak cukup — kita perlu arah yang jelas, pendampingan yang kuat, dan ekosistem yang sehat,” paparnya.
Menumbuhkan Wirausaha Berakhlak
Bagi Gus Choi, wirausaha muslim idealnya memiliki tiga kekuatan: kompetensi, karakter, dan keberkahan.
“Kalau wirausaha lain bicara profit, kita bicara manfaat. Kalau yang lain bicara strategi, kita bicara amanah. Inilah bedanya wirausaha dakwah,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Ia menutup refleksinya dengan pesan mendalam:
“Pertumbuhan itu penting, tapi kualitas dan keberkahan jauh lebih utama. Mari jadikan dakwah ekonomi ini sebagai bagian dari jihad intelektual dan sosial kita. Agar Indonesia bukan hanya kuat secara ekonomi, tapi juga kokoh secara iman dan akhlak.”
Tentang Bidang Ekonomi DDII Jatim
Bidang Ekonomi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur berfokus pada pemberdayaan ekonomi umat berbasis nilai Islam. Melalui pelatihan, pendampingan UMKM, dan forum ekonomi Islami, DDII Jatim berupaya mencetak wirausaha berintegritas yang membawa maslahat bagi umat dan kejayaan bangsa.
Admin: Kominfo DDII Jatim
