Oleh: Dr. Adian Husaini, Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Dalam hal pemahaman sejarah, kita masih patut merasa prihatin. Keprihatinan ini sudah disampaikan banyak ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia dan di alam Melayu. Sebagai contoh, Buya Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, yang ditulis tahun 1960-an, sudah mengritik keras pengajaran sejarah Indonesia yang lebih mengenalkan sosok Gajah Mada ketimbang Raden Patah.
Akibatnya, orang Muslim Indonesia tidak mengenal siapa itu Raden Patah, apa jasanya bagi umat Islam, dan tentu saja bangsa ini. Pak Natsir dalam berbagai tulisannya sudah banyak mengingatkan tentang dampak buruk pengajaran sejarah yang mengecilkan arti penting perjuangan Islam di Indonesia. Beliau sebut secara khusus, salah satu tantangan besar umat Islam Indonesia adalah paham nativisme. Yakni, paham yang memuja dan membesar-besarkan zaman pra-Islam, sehingga Islam dianggap tidak punya andil sejarah yang penting dalam perkembangan bangsa Indonesia.
Padahal, para orientalis Belanda telah berdebat tentang masalah ini. Yang menyebut kebesaran Majapahit sebagai mitos adalah Prof C.C. Berg.
Jadi, memunculkan dan mengagungkan seorang tokoh sejarah sangat terkait dengan pandangan alam seseorang (worldview-nya).
Inilah contoh pentingnya Islamic worldview bagi seorang Muslim dalam mempelajari sejarah. Bagaimana Islam memandang sejarah, tentunya tidak lepas dari pandangan alam (worldview) yang digunakannya. Kalau dia muslim, maka ia memandang dirinya sebagai pengikut dan pelanjut amanah perjuangan Rasulullah saw, yang tugas utamanya adalah menegakkan kalimah tauhid di muka bumi.
Seorang muslim tidak akan memandang hebat dan tinggi segala bentuk kemusyrikan. Sebab, dalam surat Luqman ditegaskan, syirik itu adalah kezaliman yang besar (innasysyirka ladzulmun adhiim). Jadi, di titik mana dan dengan cara apa kita berdiri dan memandang sejarah?
Bagi penjajah Belanda, Pangeran Diponegoro adalah pemberontak. Bagi bangsa Indonesia, ia pahlawan bangsa. Lihatlah, kini, bagaimana nasib tentara Indonesia yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Timtim. Dulu, mereka disebut pahlawan. Tapi, kemudian pemerintah Indonesia mengakui bahwa Timtim memang bukan haknya Indonesia. Para pejuang integrasi Timtim sebelumnya dipuji, tapi setelah Timtim dilepas, mereka kemudian ditangkap.
Kaum sekuler memandang dan menyusun sejarah berdasarkan worldview sekulernya, yang semata-mata melihat aspek duniawi dan fisik sebagai unsur terpentingnya, dengan mengabaikan aspek keimanan, ubudiyah, dan keakhiratan. Jadi, cara pandang inilah yang menentukan corak ilmu sejarah yang dipelajari. Sebab, dalam mengkaji sejarah itu tidak mungkin kita menampilkan semua fakta peristiwa masa lalu untuk dikaji. Kita hanya mengambil sebagian fakta atau kasus, yang tentu saja itu tergantung visi dan tujuan pengkajian itu sendiri.
Dalam kaitan inilah, para guru dan orang tua patut mencermati pelajaran-pelajaran yang diberikan kepada anak-anaknya. Apakah sudah benar atau tidak. Terutama pada aspek worldview-nya, asumsi-asumsi dasar yang digunakan untuk menyusun kurikulum dan buku ajarnya.
Cara pandang dan strategi penjajah Barat di negeri-negeri Muslim adalah untuk mengecilkan peran dan arti penting dalam perjuangan bangsa Muslim. Sebab, Islam dipandang sebagai faktor terbesar dalam menghambat kemulusan misi penjajah. Banyak literatur yang menjelaskan masalah ini.
Salah satu yang sangat terkenal adalah analisis yang dinyatakan Prof Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu, bahwa: “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu…”
Dengan cara pandang sejarah seperti ini, kaum Muslim dipaksa untuk mengakui, bahkan mengagungkan kejayaan Hindu. Bahwa, hanya Hindulah yang berhasil membagun kejayaan Indonesia. Lalu, kejayaan Indonesia di masa Majapahit itu diruntuhkan oleh kedatangan Islam, yaitu melalui Kerajaan Demak. Maka, harus diajarkan kepada para siswa, bahwa Kerajaan Demak itu tidak ada arti apa-apa bagi perjalanan bangsa Indonesia. Anak-anak kita tidak dikenalkan, siapa itu Raden Patah, Adipati Yunus, dan sebagainya.
Padahal, dalam perpsektif Islam, kedua raja Demak itu adalah pejuang yang agung. Mereka menyebarkan Islam dengan sangat gigihnya. Bahkan, Adipati Yunus atau Pati Unus adalah mujahid agung yang syahid saat memimpin perang langsung melawan penjajah Katolik Portugis di Malaka. Tahun 1521, Adipati Yunus memimpin ekspedisi 375 kapal perang, yang dibuat di Gowa,
Sulawesi. Ekspedisi kapal perang Demak menuju Malaka menunjukkan Kerajaan Demak sudah punya armada maritim yang hebat ketika itu dan berwawasan Nusantara, karena menentang penjajahan.
Jadi, ini pentingnya worldview Islam dalam memandang sejarah, agar kita tidak salah paham dan menjadi tidak beradab dalam memandang pahlawan-pahlawan dan pejuang Islam. Dalam berbagai kesempatan, jika saya tanyakan, apakah kenal dengan Adipati Yunus, siapa dia, apa kehebatannya, bisa dikatakan, 100 persen tidak tahu. Tetapi jika ditanyakan, siapa yang menyatukan Nusantara, maka jawabnya tegas: Gajah Mada! Inilah dampak serius dari pengajaran sejarah yang tidak berangkat dari worldview Islam.
Akan tetapi, kita mengakui, Indonesia adalah rumah bersama bagi pemeluk berbagai agama. Tiap-tiap agama memiliki worldview sendiri-sendiri. Karena itu, untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia, kita mengusulkan agar negara jangan memaksakan satu worldview tertentu dalam memahami sejarah Indonesia. Biarlah ada keragaman dalam hal ini. Tetapi, semua harus bersepakat untuk menjaga keutuhan NKRI. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 25 Agustus 2025).
admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
