Oleh Muhammad Hidayatulloh Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 buku Perjalanan Jiwa
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hidup ini kadang terasa seperti panggung megah yang penuh cahaya. Lampu-lampu kota yang berkilauan, gedung-gedung menjulang tinggi, tepuk tangan massa, suara notifikasi, dan layar gawai yang tak pernah padam. Semuanya menghadirkan kesan seakan-akan dunia ini abadi. Manusia berlomba mengejar validasi, mengukur keberhasilan dengan jumlah harta, jabatan, atau popularitas.
Namun, seindah apa pun gemerlap panggung dunia, semua itu hanyalah hiasan sementara. Ia akan meredup begitu ruh meninggalkan jasad. Apa yang disebut “prestasi” akan hancur bersama tanah, apa yang dianggap “kebanggaan” akan hilang bersama nyawa.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan sebuah kalimat tajam:
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
“Hiduplah sesukamu, karena engkau pasti mati. Cintailah siapa yang engkau suka, karena engkau pasti akan berpisah darinya. Dan berbuatlah sesukamu, karena engkau pasti akan diberi balasan atasnya.”
Dunia yang Gemerlap
Bagi sebagian orang, dunia adalah gemerlap yang menipu. Mereka mengukur kebahagiaan dengan mobil mewah, saldo rekening, jumlah pengikut di media sosial, atau riuhnya pesta. Padahal, kebahagiaan sejati tidak pernah ada di sana.
Kebahagiaan lahir dari hati yang ridha. Ridha dengan takdir Allah setelah berusaha lahir dan batin. Nabi ﷺ bersabda:
ارضَ بما قسم الله لك تكن أغنى الناس
“Ridhalah dengan apa yang Allah tetapkan bagimu, niscaya engkau akan menjadi manusia paling kaya.” (HR. al-Tirmidzi)
Orang yang hatinya ridha, meskipun dunia tidak bersahabat, akan tetap hidup dalam ketenangan. Sebaliknya, orang yang rakus, meskipun dikelilingi cahaya dunia, akan tetap merasa kosong.
Barzakh yang Gelap
Begitu ruh dicabut, semua cahaya dunia padam. Tidak ada lampu panggung, tidak ada notifikasi, tidak ada sorakan. Yang ada hanyalah barzakh — ruang antara dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
“Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka sesudahnya akan lebih mudah; dan jika ia tidak selamat darinya, maka sesudahnya akan lebih berat.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Bayangkan, orang yang hidupnya penuh gemerlap, tapi bekalnya kosong. Saat masuk barzakh, ia menemukan kegelapan pekat, kesempitan, hingga tulang rusuknya saling bertemu. Sebaliknya, orang yang hatinya ikhlas, amalnya tulus, dan ridha pada takdir Allah, akan mendapati kuburnya luas, terang, dan menjadi taman surga.
Filosofi Hidup
Hidup di dunia ibarat konser megah. Saat lampu menyala, semua tampak meriah. Tapi begitu tirai ditutup, kita sendirian. Tidak ada lagi penonton, tidak ada lagi tepuk tangan. Tinggal amal yang akan menemani.
Allah mengingatkan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dialah orang yang beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)
Penutup
Pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah: “Seberapa gemerlap dunia yang aku capai?” tapi:
“Bagaimana nasibku setelah kematian?”
Karena gemerlap dunia akan padam, sementara barzakh bisa gelap atau bercahaya, tergantung bekal yang kita siapkan. Kebahagiaan sejati adalah hati yang ridha, amal yang tulus, dan iman yang menerangi gelapnya kubur.
Maka, mari bertanya pada diri sendiri: “Apakah cahaya amal kita cukup untuk menerangi gelapnya barzakh?”
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
