Oleh: Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) DDII Jatim dan pe ulis 4 buku Perjalanan Jiwa
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
لَوْلَا الْعِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ
“Seandainya tidak ada ilmu, niscaya manusia itu seperti binatang.”
Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata, tapi tamparan bagi kita semua. Ia menegaskan bahwa ilmu adalah pembeda utama antara manusia dan hewan. Tanpa ilmu, manusia kehilangan arah, terseret nafsu, dan jatuh ke derajat yang paling rendah. Dengan ilmu, manusia bisa naik ke derajat yang paling mulia, bahkan lebih tinggi dari malaikat.
Ilmu: Nafas Kehidupan, Martabat Kemanusiaan
Kalau manusia kehilangan ilmu, ia bukan lagi manusia. Ia sekadar tubuh yang makan, tidur, kawin, lalu mati. Hewan pun begitu. Bedanya, hewan tak pernah ditanya Allah soal mengapa ia hidup. Tapi manusia akan ditanya, “Untuk apa akalmu? Untuk apa waktumu? Untuk apa ilmumu?”
Ilmu adalah cahaya yang Allah hembuskan ke dada manusia. Dengan ilmu, manusia mengerti arah hidup, tahu mana jalan lurus dan mana jalan sesat. Tanpa ilmu, manusia hanya akan jadi budak hawa nafsu, mudah ditipu dunia, dan terjerumus ke dalam kebodohan yang memalukan.
Majelis Ilmu: Bukti Engkau Manusia
Setiap kali engkau melangkahkan kaki ke majelis ilmu, sesungguhnya engkau sedang menghidupkan martabat kemanusiaanmu.
Kursi di majelis ilmu lebih berharga dari singgasana raja.
Cahaya dari seorang guru lebih abadi daripada lampu kota yang terang benderang.
Pertemuan hati di majelis ilmu lebih indah daripada pesta yang penuh hura-hura.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Artinya, setiap langkah menuju majelis ilmu adalah langkah menuju surga. Sementara langkah ke tempat maksiat adalah langkah menuju kehinaan.
Kisah Abu Hurairah – sahabat Nabi ﷺ yang rela kelaparan di serambi masjid hanya demi mendengar satu hadits, adalah bukti bahwa ilmu lebih manis daripada makanan.
Imam Ahmad – meski sudah jadi ulama besar, masih duduk rendah di majelis para guru, menunjukkan bahwa orang besar selalu lahir dari kerendahan hati di hadapan ilmu.
Ilmu dan Tawadhu: Padi yang Menunduk
Ilmu itu ibarat padi di sawah. Semakin berisi, semakin ia menunduk. Demikianlah manusia yang benar-benar berilmu: semakin ia tahu, semakin ia sadar betapa kecil dirinya di hadapan Allah.
Imam Syafi‘i berkata:
كُلَّمَا ازْدَدْتُ عِلْمًا ازْدَدْتُ عِلْمًا بِجَهْلِي
“Semakin aku bertambah ilmu, semakin aku sadar betapa banyak kebodohanku.”
Ilmu yang benar membuat manusia rendah hati, bukan angkuh. Sebaliknya, ilmu yang salah arah hanya akan melahirkan Qarun baru yang berkata:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Aku memperoleh semua ini karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Padahal itu bukan ilmu, tapi kesombongan yang menjerumuskan.
Kalau engkau sibuk dengan dunia tapi jarang mendatangi majelis ilmu, berarti ada yang rusak dalam kemanusiaanmu.
Kalau engkau betah berjam-jam di depan layar, tapi malas membuka kitab, berarti ada yang kosong di hatimu.
Kalau engkau lebih suka nongkrong daripada duduk di halaqah ilmu, maka tanyakan pada dirimu: “Benarkah aku masih manusia?”
Karena tanpa ilmu, manusia hanyalah binatang yang bisa bicara.
Tapi dengan ilmu, manusia bisa jadi hamba Allah yang mulia.
Rasulullah ﷺ menggambarkan majelis ilmu:
وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ
“Sungguh para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu, karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Betapa agungnya penuntut ilmu, hingga malaikat pun berkhidmat kepadanya.
Ilmu: Cahaya di Tengah Gelap
Bayangkan manusia tanpa ilmu. Ia bagaikan orang yang berjalan di hutan lebat tanpa pelita. Setiap langkahnya bisa menabrak duri, terjerembab di jurang, atau dimangsa binatang buas. Tapi manusia yang berilmu seperti orang membawa lentera: langkahnya terang, jalannya jelas, dan ia tahu ke mana harus melangkah.
Penutup
Ilmu adalah tanda kehidupan, tanda kemuliaan, tanda engkau benar-benar manusia. Maka jangan pernah lelah menuntut ilmu. Carilah ilmu hingga napas terakhir. Datangilah majelis ilmu, karena di sanalah Allah menurunkan ketenangan, malaikat menaungi dengan sayapnya, rahmat meliputi, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk langit.
لولا العلم لَكَانَ النَّاسُ كَالْبَهَائِمِ
Seandainya tidak ada ilmu, manusia hanyalah binatang.
Dengan ilmu manusia jadi mulia, ditinggikan derajatnya, dan berjalan menuju surga.
Afmin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
