KEBIJAKSANAAN AL-HASAN AL-BASRI

Oleh Prof. Dr. Priyono, alumni ITB, Bandung

Dewandakwahjatim.com, Bandung – Kutipan dari Al-Hasan al-Basri rahimahullah ini merupakan nasihat mendalam tentang prioritas hidup, yang menekankan pentingnya mengorbankan kenikmatan duniawi sementara demi keuntungan abadi di akhirat, sehingga pada akhirnya memperoleh keduanya – sementara sebaliknya justru menyebabkan kerugian total.

Ini selaras dengan konsep kebijaksanaan, di mana kebijaksanaan membantu manusia menavigasi antara keinginan sementara dan tujuan jangka panjang.

Berikut elaborasi kutipan tersebut dari tiga perspektif: psikologi, filsafat, dan tasawuf, dengan menghubungkannya ke elemen-elemen kebijaksanaan seperti adaptasi emosional, pencarian makna, dan pemurnian spiritual.

Perspektif Psikologi

Dari sudut pandang psikologi, kutipan ini mencerminkan prinsip delayed gratification atau penundaan kepuasan, di mana manusia bijak memilih untuk “menjual” kenikmatan duniawi (seperti kekayaan atau kesenangan instan) demi investasi jangka panjang pada kesejahteraan akhirat – yang bisa dianalogikan dengan kesehatan mental dan emosional yang berkelanjutan.

Penelitian seperti Marshmallow Test oleh Walter Mischel menunjukkan bahwa kemampuan menunda gratifikasi instan berkorelasi dengan kesuksesan hidup yang lebih besar, termasuk pencapaian akademik, kesehatan, dan hubungan sosial yang lebih baik, karena ia membangun ketahanan (resilience) dan regulasi emosi.

Jika seseorang “menjual akhirat dengan dunia,” artinya memprioritaskan impuls duniawi, hal ini bisa menimbulkan bias kognitif seperti present bias, di mana fokus pada sekarang menyebabkan penyesalan jangka panjang, depresi, atau kecemasan akibat hilangnya makna hidup.

Kebijaksanaan psikologis, melibatkan perspektif luas dan empati diri, sehingga “mendapatkan semuanya” berarti mencapai kepuasan holistik: kenikmatan duniawi yang moderat ditambah kedamaian batin.

Tanpa ini, manusia rentan kehilangan keduanya, seperti dalam kasus burnout atau empty success syndrome, di mana pencapaian material tidak membawa kebahagiaan sejati.

Perspektif Filsafat

Dalam filsafat, kutipan ini mirip dengan ajaran Stoicisme yang menekankan pembedaan antara apa yang bisa dikendalikan (sikap terhadap akhirat atau virtue) dan yang tidak (kenikmatan duniawi yang fana).

Epictetus dan Seneca, misalnya, mengajarkan bahwa kebijaksanaan sejati adalah “menjual” ketergantungan pada dunia luar demi kebebasan batin, sehingga memperoleh ketenangan (ataraxia) yang melampaui kerugian material – sehingga “mendapatkan semuanya.”

Sebaliknya, “menjual akhirat dengan dunia” berarti terjebak dalam hedonia (kesenangan sementara) daripada eudaimonia (kebahagiaan abadi melalui kebajikan), seperti yang digambarkan Aristoteles dalam Etika Nikomakheia, di mana kebijaksanaan praktis (phronesis) membantu menghindari ekstrem dan mencapai keseimbangan.

Filsuf seperti Plato dalam alegori gua juga mengingatkan bahwa fokus pada bayangan duniawi menyebabkan kehilangan realitas sejati (akhirat), sehingga kebijaksanaan filosofis mendorong refleksi epistemik untuk melihat nilai abadi.

Dengan demikian, nasihat Al-Hasan al-Basri ini mengajak manusia menjadi pemimpin bijak atas dirinya sendiri, menghindari jebakan materialisme yang membuat hidup sia-sia, dan akhirnya memperkaya kedua aspek kehidupan melalui prioritas yang tepat.

Perspektif Tasawuf

Tasawuf, sebagai dimensi mistik Islam, paling langsung selaras dengan kutipan ini, karena Al-Hasan al-Basri sendiri adalah tokoh Sufi awal yang dikenal dengan zuhud (kesederhanaan) dan penekanan pada pemurnian hati dari nafsu duniawi.

“Menjual dunia dengan akhirat” berarti mengorbankan kemewahan fana demi amal saleh, dzikir, dan kedekatan dengan Allah (ma’rifah), yang pada akhirnya membawa rahmat duniawi (barakah) sekaligus surga abadi – sehingga “mendapatkan semuanya.”

Ini mirip dengan ajaran Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, di mana kebijaksanaan spiritual (hikmah) diperoleh melalui meninggalkan ilusi dunia, sehingga hati menjadi cermin Ilahi dan menghindari kerugian total akibat dosa.

Rumi juga menggambarkan dunia sebagai “penjara” bagi jiwa, dan “menjual akhirat dengan dunia” berarti memilih penjara itu, yang menyebabkan kehilangan kedekatan dengan Tuhan dan kedamaian batin.

Dalam tasawuf, praktik seperti renungan (tafakkur) dan bimbingan syekh membantu mencapai tingkatan ini, di mana kebijaksanaan bukan hanya pengetahuan tapi pengalaman langsung akan hikmah tersembunyi.

Akhirnya, nasihat ini mengingatkan bahwa tanpa prioritas akhirat, manusia rugi di dunia (karena tanpa barakah) dan akhirat (karena tanpa amal), sementara sebaliknya membawa kesatuan spiritual yang sempurna.

Secara keseluruhan, kutipan ini memperkuat bahwa kebijaksanaan – apakah dari psikologi, filsafat, atau tasawuf – adalah kunci untuk tidak kehilangan esensi hidup, dengan mendorong prioritas yang bijak antara sementara dan abadi, sehingga manusia bisa “mendapatkan semuanya” dalam perjalanan eksistensinya

Sumber: WAG Cangkrukkan Lintas Disiplin llmu

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *