Oleh Nurbani Yusuf, Komunitas Padang Makhsyar
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Elegi Dagelan Lawak Kartolo: Lakon Sapari Nyolong Sewek atau dalam Judul lain : Tumpeng Maut menjadi parodi menarik di pusaran Bisnis Haji — sebab pandangan kita terbelah : Haji sebagai Rukun Islam yang lima dan Biro Perjalanan Haji sebagai bisnis meraup profit.
Gus Yaqult, Ustadz Khalid Bassalamah, oknum PBNU bahkan kader Muhammadiyah pun tak bisa luput dari kurban Kotak Pandhora. Siapapaun yang mencium Aroma busuk Pandhora bakal kuwalat: Kotak Pandhora memang membawa banyak petaka, ia melahirkan banyak sifat jahat: rakus, hasad, iri, dengki, fitnah dan segala yang tidak disuka dan sifat jahat lainnya begitu kira-kira kutukan dewa Zeus yang murka karena direndahkan Prothemeus saat mencuri api dari bukit Olymphus.
^^^^^
Dihadapan uang semua setara, tak ada beda antara ustadz atau begal. Ustadz penganjur sunahpun tak kebal godaan — sebab beliau adalah manusia biasa seperti saya.
Saya juga melakukan kesalahan yang sama — sama seperti manusia yang lain, bedanya : ada yang mendapat kesempatan dan ada yang belum mendapat kesempatan.
Tak ada jaminan bahwa kita yang tidak melakukan bisa tegar ketika kesempatan di depan mata,
Seperti kisah mutawatir pemuda ahli surga yang mengurungkan niat menyetubuhi wanita cantik idamannya, padahal tinggal sepersepuluh milimeter jarak dari selangkangan wanita cantik yang ia idamkan, ini dahsyaatt. Tak sembarang lelaki bisa kuat bertahan dari godaan perempuan molek. Sebuah pertempuran superberat membatalkan rudal terbang padahal tinggal menekan tombol.
Jangan sok suci sebab antum belum di uji— andai saya di tawari uang 1 milyar untuk menukar iman, saya tidak janji bisa bertahan.
Sebab itu saya maklum ketika ada ulama alim bisa sesat jalan karena uang atau rajuk perempuan, ia rela tinggalkan anak bini di rumah. Atau perempuan berhijab rapat yang jual goyang pantat dan bokongnya di depan umum demi cuan agar dapur tetap mengepul.
^^^*
Furoda itu seperti dalam kisah Tumpeng Mautt: di mana Sapari mencuri sewek atau jarit atau sarung, ketika dikejar, sarung itu ia jual ke pasar karena takut ketahuan sekaligus menghilangkan jejak. Dari hasil menjual sarung curian itu dibelikan bahan pokok buat tumpeng, termasuk ayam jantan sebagai lauk utama.
Kemudian ia undang pak lurah, pak polisi, pak tentara, pak RT dan tak lupa pemilik sarung yang ia curi untuk kendhuri makan bersama dari tumpeng hasil curian itu, selesai makan pemilik sarung kembali bertanya: Di mana sarungku ? Sapari menjawab ringan: bahwa hasil jualan sarung telah dibikin tumpeng dan kita makan bersama :
Sontak semua ketawa meski getir… 🙏🏻🙏🏻♥️
@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
