Modeling/Mentoring; Cara Mudah Mengkloning Kesuksesan Para Tokoh Dakwah

Oleh Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kader Ulama Dewan Dakwah Jatim)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam dunia dakwah, banyak tokoh yang telah menorehkan jejak emas. Mereka sukses bukan hanya karena kemampuan pribadi, tetapi juga karena adanya proses pembelajaran yang panjang, konsistensi, dan keteladanan. Salah satu cara paling efektif untuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah adalah dengan modeling (mencontoh) dan mentoring (dibimbing langsung).

  1. Konsep Modeling

Modeling berarti meniru pola, sikap, dan strategi yang ditunjukkan oleh seorang tokoh atau guru. Dalam psikologi, teori ini sangat erat dengan Social Learning Theory Albert Bandura (1977): Teori belajar sosial → manusia belajar melalui observasi, imitasi, dan modeling. Seorang calon da’i dapat meniru cara komunikasi Buya Hamka yang lembut namun tegas.

Buya Hamka mengemukakan sejauh mana urgensi komunikasi dakwah Islam dalam proses pembinaan, memberikan solusi, serta mewujudkan kerukunan antarumat beragama, mengingat banyaknya masalah atau konflik yang muncul. Idealnya seorang da’i ketika berdakwah harus menerapkan prinsip-prinsip dakwah Islam agar tercapai efektivitas dalam berdakwah.

Namun realitasnya, ternyata masih ada da’i yang belum menerapkan prinsip-prinsip berdakwah. Sehingga efektivitas dalam berdakwah belum tercapai.

Bisa juga belajar kesabaran dan konsistensi dakwah dari Nabi Nuh ‘alaihissalam. Nabi Nuh `alaihis salam adalah salah satu Rasul ulul azmi yang kisah dakwahnya diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah mengutus beliau kepada kaumnya yang tenggelam dalam kemusyrikan, penyembahan berhala, serta kemaksiatan. Beliau berdakwah bukan sebentar, melainkan 950 tahun. Meski hanya sedikit yang beriman, Nabi Nuh As tetap sabar dan konsisten dalam perjuangan. Dari kisah ini, terdapat pelajaran berharga bagi setiap da’i sepanjang zaman.

Seperti disampaikan dalam firman Allah sebagai berikut, yang artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim (QS Al-‘Ankabut [29]: 14). Nabi Nuh mengajak kaumnya siang dan malam, dengan cara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi (QS. Nuh [71]: 5-9).

Kenyataan yang didapat Nuh As justru penolakan, cemoohan, bahkan ancaman. Meski demikian, beliau tidak pernah berhenti. Seorang da’i perlu meneladani kesabaran ini: dakwah bukan tentang hasil instan, melainkan keteguhan dalam menyeru kebenaran.

Firman Allah swt yang lain, yang artinya: Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (QS Nuh 5). Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya). Mereka pun tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri (QS Nuh 7). Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun” (QS Nuh10).

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah sering mengisahkan teladan para Nabi sebagai model. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an). Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam” (QS Al-An’am 90).

  1. Konsep Mentoring

Mentoring lebih dari sekadar meniru. Ia adalah hubungan pembimbingan langsung antara guru dan murid, senior dan junior. Rasulullah ﷺ sendiri membentuk para Sahabat dengan sistem mentoring: mengajarkan, membimbing, lalu melepas mereka menjadi pendakwah di berbagai wilayah.

Hadis Nabi Saw, yang artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari). Ini adalah inti mentoring: belajar, lalu membimbing yang lain.

Dalam tradisi Islam, mentoring terlihat pada hubungan syaikh–murid dalam tasawuf, atau guru–santri dalam pesantren.
Pendapat John C. Maxwell: “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” Artinya, bahwa seorang pemimpin sejati adalah orang yang mengetahui arah tujuan (memiliki visi), menjalani/melakukan perjalanan itu (berani bertindak dan mewujudkan visi), dan membimbing orang lain untuk melakukan hal yang sama (menunjukkan jalan dan memberikan teladan). Ini sejalan dengan konsep mentoring.

  1. Mengkloning Kesuksesan Dakwah

Istilah kloning di sini bukan berarti menyalin persis, melainkan mereplikasi prinsip-prinsip sukses dari tokoh dakwah ke dalam konteks yang baru. Misalnya: Rasulullah ﷺ fokus membangun kualitas akhlak → dicontoh dengan menekankan etika dakwah di era digital.

Dalam dunia digital, seperti media sosial dan internet, akhlak mulia sangat diperlukan agar umat Islam tidak terjerumus dalam perilaku negatif seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku tidak terpuji lainnya.

Hadits Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Ahmad). Ini, menunjukkan pentingnya model keteladanan dalam dakwah.

Fokus Rasulullah ﷺ dalam membangun kualitas akhlak berlandaskan hadis di atas yang menuntut ketaatan pada Al-Qur’an dan Sunnah untuk mewujudkan pribadi yang mulia, lemah lembut, toleran, adil, dan jujur. Beliau Saw membangun akhlak melalui teladan pribadi, menanamkan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, cinta ilmu, dan menjalin interaksi sosial yang penuh hormat, kasih sayang, serta tidak membeda-bedakan. 

M. Natsir: Cerdas menggabungkan dakwah dengan perjuangan politik → ditiru dengan membangun kesadaran politik umat yang sehat. Beliau menggunakan tiga strategi: bil hal (perbuatan, seperti pembinaan umat melalui mosi integral dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia), bil qalam (tulisan, seperti buku dan artikel dakwah), dan bil lisan (perkataan, melalui pidato dan ceramah kenegaraan). Ia mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam ke dalam sistem demokrasi, memperjuangkan kepentingan umat Islam di parlemen dan pemerintahan, serta mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) sebagai wahana perjuangan dakwah dan politik.
 
KH Ahmad Dahlan: Mendirikan pendidikan modern → bisa ditiru dengan pengembangan sekolah berbasis Islam kontemporer. Beliau mendirikan pendidikan modern dengan memadukan sistem pendidikan tradisional Islam dan metode pendidikan Barat. Ia menggabungkan ilmu agama dengan pengetahuan umum seperti matematika, ilmu bumi, dan bahasa, menggunakan meja, kursi, dan kurikulum yang terstruktur, serta membentuk organisasi Muhammadiyah untuk menaungi lembaga pendidikan ini agar berkelanjutan.

Peter Senge (1992) dalam The Fifth Discipline: Pembelajaran organisasi efektif terjadi lewat shared vision dan personal mastery, yang diperoleh lewat teladan.

The Fifth Discipline, yaitu penguasaan pribadi, membagi visi, model mental, berfikir sistem, dan pembelajaran kelompok.
Dengan demikian modeling dan mentoring adalah dua cara efektif untuk “mengkloning” kesuksesan para tokoh dakwah. Dengan meniru pola mereka dan dibimbing secara langsung, para da’i muda dapat mempercepat proses belajar, memperkuat karakter, serta memastikan keberlanjutan dakwah yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan strategi yang tepat. Wallahua’lam. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *