Oleh: Dr. Adian Husaini, Ketua Umum DDII Pusat
Dewamdakwahjatim.com, Depok – Ini pelajaran berharga! Dulu, hampir semua pondok pesantren dan madrasah kita, tidak dibantu oleh pemerintah kolonial Belanda. Bahkan, banyak yang dimusuhi, dikriminalisasi, dan dihancurkan oleh penjajah dan antek-anteknya. Uniknya, pondok-pondok pesatren itu justru melahirkan ulama-ulama pejuang yang hebat.
Nah, kita bisa belajar dari Pesantren Tebuireng yang dididikan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1899 M. Situs https://www.nu.or.id pada 26 Agustus 2018 menurunkan artikel berjudul
“Saat Belanda Mengkriminalisasi Pesantren Tebuireng”.
Disebutkan, bahwa Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur merupakan mercusuar perjuangan umat Islam dan rakyat Indonesia yang didirikan Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Tetapi, pemerintah kolonial memandangnya sebagai potensi ancaman bagi penjajah.
Untuk itulah, berbagai macam cara dilakukan oleh Belanda untuk menghilangkan jejak Pesantren Tebuireng, sebagai basis dan wadah pergerakan nasional. Upaya politisasi oleh Belanda terus diupayakan dengan sejumlah tuduhan-tuduhan.
Choirul Anam dalam buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” (2010)
mengungkapkan pesantren Tebuireng sering dituduh mengadakan kerusuhan, pemberontakan,
dan pembunuhan. Ujung-ujungnya, Pemerintah Hindia-Belanda kerap mengirimkan semacam
teguran yang ada pada intinya meminta KH Hasyim Asy’ari menghentikan seluruh kegiatan dan
aktivitas pesantren.
Tetapi, KH Hasyim Asy’ari tidak gentar. Beliau terus melanjutkan perjuangan melalui pondok pesantren. Bahkan, perlakuan Belanda terhadap Pesantren Tebuireng, semakin membuka
mata masyarakat akan perlawanan terhadap penjajah sehingga mereka juga tergerak ikut
berjuang.
Choirul Anam mencatat, sekitar tahun 1913 Pesantren Tebuireng diserang secara membabi buta oleh Belanda. Bangunan pondok dihancurkan hingga berkeping-keping. Kitab-
kitab agama yang diajarkan di pondok pesantren dirampas dan sebagian dimusnahkan.
Disebarkan kabar bohong bahwa Pesantren Tebuireng merupakan markas pemberontak dan pusat
ekstrimis Muslim. Tetapi, Kiai Hasyim tidak satu langkah pun mundur untuk melawan penjajahan. Karena keganasan Belanda tersebut sekaligus menjadi gambaran kekejaman mereka selama ini terhadap bangsa Indonesia. Sebab itu, kepada para santri, Kiai Hasyim Asy’ari berkata: “Kejadian ini
justru menambah semangat kita untuk terus berjuang menegakkan Islam dan Kemerdekaan
(Indonesia) yang hakiki”. (Oleh: Fathoni). Sumber: https://www.nu.or.id/fragmen/saat-belanda- mengkriminalisasi-pesantren-tebuireng-Emncc.
Itulah sekelumit gambaran tentang Pesantren Tebuireng yang hingga kini masih eksis dan tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan yang unggul. Itulah bukti bahwa Pesantren sejak
dulu merupakan lembaga pendidikan yang mandiri dan tidak bergantung kepada pemerintah.
Bahkan, ketika kaum penjajah berkuasa, mereka bukan hanya tidak membantu pesantren.
Bahkan, mereka menghambat dan berusaha merusak pendidikan pesantren.
Dari kisah Pesantren Tebuireng ini kita bisa mengambil pelajaran berharga tentang jiwa
kemandirian dan kemerdekaan yang dimiliki pesantren. Mereka tidak bergantung kepada
bantuan pemerintah. Ketika mereka memiliki jiwa merdeka itulah, pesantren berhasil melahirkan
banyak ulama hebat, dan juga guru-guru pejuang yang mengawal iman dan akhlak masyarakat.
Beratus tahun negeri kita dijajah dan dikuasai oleh kaum penjajah kuffar. Politik, ekonomi, dan militer dikuasai kaum kuffar. Tetapi, pesantren tetap teguh dengan konsep pendidikannya sendiri. Jiwa merdeka dan mandiri inilah yang perlu terus dipertahankan oleh pondok-pondok pesantren.
Kini, pemerintah mendukung bahkan banyak membantu perkembangan pesantren di Indonesia. Jumlah pondok pesantren pun sangat besar. Saat ini, lebih dari 41 ribu pesantren tercatat secara resmi di Kementerian Agama. Ini jumlah yang sangat besar.
Pendiri Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) KH Sholeh Iskandar selalu mengingatkan, bahwa Pesantren adalah lembaga tafaqquh fid-din dan iqamatud-din.
Artinya, pesantren adalah lembaga pendidikan sekaligus lembaga perjuangan. Semoga kita bisa
menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Amin. (Depok, 10 September 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
